AFTERLIFE

Salam Kebajikan,

Pada umumnya manusia ‘takut’ untuk mati walau dia percaya bahwa setelah mati dia akan masuk kesuatu tempat yang indah membahagiakan karena memeluk suatu agama atau mengikuti tuntunan junjungannya. Dalam alam bawah sadarnya, dia takut masuk ke suatu tempat yang mengerikan yang penuh hukuman dan siksaan. Manusia memang makhluk ‘menggelikan’ yang penuh kontradiksi.
Dalam perspektif agama Khonghucu hidup adalah proses menjadi. Artinya manusia menjadi manusia yang menjalankan kemanusiaannya. Hal ini tak aneh karena umat Khonghucu meyakini setiap manusia telah dibekali sifat dasar kemanusiaan dalam dirinya melalui tianming (firman Tian). Sifat dasar kemanusiaan ini dapat dibuktikan dari reaksi setiap manusia saat melihat seorang anak kecil akan jatuh kedalam sumur. Tak aneh bila ajaran Khonghucu dipenuhi dengan nilai-nilai kebajikan tentang proses menjadi ini karena diyakini menjadi manusia yang menjalankan kemanusiaannya adalah ‘perintah’ Tian (Tuhan Yang Maha Esa) yang melekat dalam diri manusia. Dengan menjalankan proses menjadi inilah manusia akan dapat Pei Tian (bersatu kembali dengan Tian), kembali kepada sumber asal keberadaannya.
Karena manusia adalah makhluk jasmani dan rohani, dalam proses menjadi ini, manusia mempunyai kebebasan untuk memilih. Dia dituntun oleh daya hidup rohaninya untuk berjalan dalam jalan yang sesuai kehendakNya, ke arah yang benar. Oleh daya hidup jasmaninya (nafsu) manusia dituntun untuk survive dan berkembang memenuhi tuntutan keberadaannya di dunia yang fana. Maka untuk hidup sejahtera dan terpeliharanya segenap makhluk dan benda, agama memberi tuntunan agar manusia zhonghe (tengah harmonis), artinya jadilah manusia yang dituntun oleh daya hidup rohaninya dan kendalikan nafsu dalam batasnya. Hanya dengan cara demikianlah manusia menjalankan kemanusiaannya yang mengarahkan sumber asal keberadaannya. Manusia tak akan dapat menjalankan kemanusiaannya bila hanya berfokus pada kehidupan rohaninya, karena manusia bukanlah sekedar makhluk rohani. Manusia takkan dapat hidup sejahtera dan berkontribusi dalam memelihara segenap makhluk dan benda di kolong langit ini bila terus mengumbar daya hidup jasmaninya, karena manusia bukanlah sekedar makhluk jasmani.
Dalam tuntunannya, zhisheng Kongzi mengingatkan pada manusia bahwa manusia harus selalu berpegang pada prinsip pokok dalam kehidupan ini, yaitu bila ingin mencapai tempat tinggi dimulailah dari tempat berada sekarang, bila ingin menggapai yang jauh mulailah dari dekat. Bila ingin Pei Tian (bersatu kembali dengan Tian), kembali ke asal sumber keberadaan manusia, manusia harus menjalankan proses menjadi manusia yang menjalankan kemanusiaannya, tak ada jalan lain.
Dari tulisan di atas, kita paham bahwa kematian bukanlah membawa kita pada suatu tempat yang indah membahagiakan atau tempat mengerikan penuh siksaan. Kematian akan membawa kita pada sumber asal kita, yaitu Tian saat kita terus berproses dalam menjadi. Maka apa yang perlu ditakutkan dari kematian? Dan mengapa pula kita terus dipenuhi pengharapan pada suatu tempat, padahal tempat itu tak lagi penting pada saat manusia telah ajeg dalam proses menjadinya. Sumber kebahagiaan bukanlah mengharapkan sesuatu, tetapi saat kita tenggelam dalam proses menjadi itu. Mengharapkan sesuatu acapkali menimbulkan kekecewaan dan ketakutan akan kegagalan karena menunjukkan perjalanan manusia masih dituntun oleh daya hidup jasmaninya (nafsu, keinginan). Saat manusia dituntun oleh daya hidup rohaninya, yang ada adalah ketulusan, keikhlasan, kepasrahan, iman, yang ada adalah kebahagiaan, jauh dari kekecewaan dan ketakutan akan kegagalan. Maka mati tidaklah menjadi momok menakutkan.
Dengan kesadaran akan hal ini, saat perjalanan hidup berakhir hanya akan ada kerinduan yang menggebu-gebu bertemu dengan sang sumber asal keberadaan. Saat manusia dituntun oleh daya hidup jasmaninya (nafsu), dia akan gagal pulang ke sumber asal keberadaannya dan akan mengembara di dunia ini, tak tahu jalan pulang. Manusia adalah makhluk kontradiktif, saat dia berfokus pada kemanusiaannya, dia akan menemukan sumber asal keberadaannya saat dia terus berfokus pada pahala dan tempat yang indah ‘nanti’, kekecewaan dan kegagalan menanti. Inilah hakikat iman, ketulusan tanpa pamrih untuk mengikuti firman Tian. Manusia yang tulus, ikhlas, penuh iman dalam proses menjadi, seumpama tiba di ibukota Indonesia bukan hanya sampai Jakarta tapi sampai di istana Merdeka. Dia bukan hanya mendapatkan surga tapi Pei Tian (bersatu  dengan Tian, sumber  asal keberadaannya). Manusia perlu tahu kemana akan pulang, tapi teruslah nikmati prosesnya. Tak salah bila dikatakan success is a journey, not a destination. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU