BAHASA DAN FIRMAN TUHAN

Salam Kebajikan,

Dalam berbagai kesempatan saya sering mendengar 'nasihat' kalau mau belajar dan memahami agama Khonghucu dengan benar harus bisa huayu.  Salah satu argumen yang dikemukakan adalah umat muslimpun kitab sucinya berbahasa Arab maka bisa berbahasa Arab.

Ada satu kejadian yang menurut saya lucu mengenai keharusan umat Khonghucu bisa berbahasa huayu.

Dalam suatu kegiatan lintas agama, ada seorang tokoh agama Buddha beretnis Tionghoa dan bisa berbahasa huayu menyentil saya. Dia mengatakan, Ung mestinya kamu sebagai penganut agama Khonghucu bisa berbahasa huayu sehingga kamu bisa memahami agama Khonghucu dengan benar. Mendengar itu saya tersenyum dan bertanya kepadanya. Bapak beragama Buddha, bapak bisa  dan menguasai bahasa pali atau sansekerta dong ya agar dapat menguasai agama Buddha dengan benar. Dia cuma nyengir dan tak melanjutkan omongannya. Nampaknya dia bisa huayu tapi tidak bisa berbahasa pali atau sansekerta.  Seringkali orang gampang memberi penilaian dan nasihat pada orang lain tapi lupa akan diri sendiri.

Dapat berbahasa huayu itu baik, saya juga ingin karena akan membuat bumbu saya dalam menulis atau memberi uraian agama Khonghucu akan lebih menarik dan memperluas segmen audience yang mendengarkan, saya selalu mengagumi orang-orang yang menguasai bahasa yang begitu indah tersebut, tapi saya kurang sependapat bila umat Khonghucu diharuskan bisa huayu untuk memahami agama Khonghucu.

Saya beberapa kali bertemu dengan lulusan S2 huayu, saat saya tanya apakah dia memahami kitab sishu,  mengatakan kitab sishu itu bahasanya sangat tinggi dan dalam, untuk memahaminya harus mengerti wen yan wen, dia mengakui belum mampu memahaminya.

S2 huayu yang lain yang banyak membaca buku-buku dalam bahasa huayu saya tanyakan apakah buku-buku yang dia baca mempunyai tafsir yang sama satu dengan lain dan menambah pemahaman? Dia mengatakan tidak, dan malah kadang membuat bingung. 

Ya memang kenyataannya ada setidaknya lima penafsiran/aliran 'besar' tentang ajaran/agama Khonghucu: 1. Lixue dengan tokoh besarnya Zhu Xi. 2. Xin Xue dengan tokoh besarnya Wang Yang Ming. 3. Han Xue sebagai reaksi terhadap Li Xue yang dianggap berbeda dengan ajaran Khonghucu era kuno. 4. Tafsir para romo Katolik dan pendeta Kristen dalam menerjemahkan ajaran Khonghucu menurut versi mereka.  5. Tafsiran gado-gado yang banyak mencampurkan ajaran Buddha, Daoisme dan Khonghucu.

Kembali kepada argumen umat muslim harus bisa berbahasa Arab untuk memahami  Islam sehingga umat Khonghucu mesti bisa huayu untuk memahami agama Khonghucu saya merasa ini perbandingan yang absurd. Alquran adalah Firman Allah yang diturunkan melalui wahyu kepada Nabi Muhammad, sehingga bila orang mendengarkan ayat suci Alquran maka orang mendengarkan Firman Allah dan dengan mendengarkan tanpa mengerti artinya orang bisa saja mendapatkan hidayah sehingga terpanggil untuk menjadi muslim. Sungguh berbeda dengan ajaran Khonghucu. Firman Tian ada dalam diri manusia berupa watak sejati, benih-benih kebajikan ren yi li zhi, agama adalah bimbingan agar manusia berbuat mengikuti watak sejati, hidup dalam dao. Bagi umat Kristiani, Yesus Kristus adalah Firman Allah yang hidup. Jadi kurang tepat membanding-bandingkan pembelajaran dan pemahaman agama.

Saya termasuk orang yang beruntung karena di masa muda saya, saya mempunyai guru yang tidak mengharuskan saya bisa berbahasa huayu untuk belajar dan memahami agama Khonghucu yang saya imani. Untuk belajar dan memahami agama Khonghucu, saya membaca berulang-ulang kitab sishu dan wujing sehingga menemukan benang merahnya. Saat saya kurang yakin terhadap pemahaman saya, saya bertanya pada guru saya dan membandingkan dengan pemahaman beberapa senior yang bisa wen yan wen. Kadang saya mendapat jawaban yang berbeda-beda. Memang tidak mudah menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Bahasa terus berkembang, latar belakang kehidupan penerjemah juga berpengaruh terhadap suatu istilah.  Tapi seperti kata guru saya saat saya masih muda, gunakan nalar dan hati disamping pengetahuan untuk belajar agama Khonghucu maka akan dapat memperoleh pemahaman yang baik dan mendekati kebenaran. Tentu saja sayapun cukup banyak membaca buku-buku yang lain untuk memperkaya khasanah pengetahuan. Kalau saja dulu saya dituntut harus bisa berbahasa huayu, saya mungkin tak akan banyak belajar agama Khonghucu.

Bagi umat Khonghucu yang tak bisa berbahasa huayu tak usah merasa terbatas untuk belajar dan memahami agama Khonghucu. Agama itu tentang perbuatan, 'berbuat mengikuti watak sejati' bukan sekedar ilmu. 


Bagi umat Khonghucu yang bisa huayu belajarlah terus wen yan wen dan bahasa Indonesia. Bagi yang mampu wen yan wen saya perlu angkat topi dan terima kasih sebagai tempat saya mengkonfirmasikan pemahaman saya. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU