CINTA-KASIH ITULAH KEMANUSIAAN

Salam Kebajikan,

Seandainya kita sedang berjalan-berjalan melihat seorang anak kecil menyebrang jalan sendirian dan hampir tertabrak motor, apa yang akan dilakukan? Kalau saya, karena melihat dan berada di dekatnya, dengan tanpa berpikir panjang saya akan berusaha meraihnya untuk menghindarkan dia dari kecelakaan.

Bila di tempat berbeda, saya melihat seorang anak kecil akan masuk ke dalam sumur, reaksi yang sama akan timbul seperti waktu saya melihat anak akan tertabrak motor, saya akan berusaha menyelamatkannya. 
--Saya memang orang baik.

Ketika saya tanyakan kedua pengandaian itu kepada mahasiswa pada saat mengajar Mata Kuliah Wajib Umum Agama Khonghucu di Universitas, jawabannya sama dengan apa yang saya lakukan. 
--Mahasiswa saya memang orang baik.

Saat saya tanyakan hal yang sama kepada para pendeta saat saya berbicara disuatu acara yang dilaksanakan oleh Pesekutuan Gereja Gereja di Indonesia (PGI), ternyata jawabannya sama. 
--Para pendeta memang orang baik.

Begitupun pada acara-acara lain seperti misalnya saat saya berbicara di Sekolah Agama Indonesian Conference on Religion and  Peace (ICRP), Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), dispenkasi, pelatihan rohaniwan, DAK, dan lain-lain, ternyata saya memperoleh jawaban yang sama. 
--Mereka semua orang baik.

Yasheng Mengzi lebih dari dua ribu tahun yang lalu menanyakan hal yang sama dan memperoleh jawaban yang sama pula.

Saya, anda, dan semua orang yang saya tanya, menolong karena merasa terkejut, tidak tega, dan timbul perasaan belas kasihan dari lubuk hati. Timbul secara spontan, bukan karena ingin berkenalan dengan orang tua si anak, bukan pula karena ingin mendapat pujian, atau takut mendapat celaan dari orang lain. Dari sini saya bisa melihat bahwa manusia pada dasarnya baik. Jadi saya tak bisa mengklaim saya baik, orang lain tak baik.  
Semua orang pada dasarnya baik.

Perasaan tidak tega dan belas kasihan adalah 'bisikan' Tian yang diterima oleh telinga batin manusia saat melihat peristiwa tersebut. Dua benih cinta kasih ini menerangi hati manusia agar melakukan reaksi yang sesuai dengan dao, reaksi yang sesuai kehendakNya.

Andaikan setelah perbuatan mulia tersebut, saya tahu bahwa anak tersebut adalah anak dari orang yang saya benci, mungkin saya tetap bersyukur. Tapi mungkin juga akan menyesal telah menolong, entahlah. Saya hanya manusia biasa yang punya rasa marah dan benci di samping rasa gembira dan suka.

Kalau reaksi spontan ini terus dilatih dengan penuh kesadaran dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan (yang dilakukan dengan tidak sadar), maka kita menjadi manusia yang dipenuhi cinta kasih.

Wujud cinta kasih terbesar dalam kehidupan adalah cinta kasih seorang ibu pada anaknya, seperti kata nyanyian anak-anak. 
'Kasih ibu kepada beta tak terkira sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia'.
Sebagai  timbal balik, seorang anak berbudi luhur mencintai ibu (dan ayah), dengan sikap bakti. Berbakti adalah wujud ketulusan seorang anak dalam mencintai orang tuanya. Seperti bumi yang menerima saat diterangi matahari maupun tidak.

Raja Shun adalah contoh  legendaris ketulusan cinta kasih seorang anak pada orang tua. Raja Shun rela mengorbankan apa pun untuk membahagiakan orang tuanya tanpa mengharap apa pun. Tapi dengan ketulusan cinta kasihnya, raja Shun mendapatkan segalanya.

Cinta kasih itulah kemanusiaan, mencintai orang tua itulah yang terbesar. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU