KELENTENG DAN SHEN MING

Salam Kebajikan,

KELENTENG
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Kelenteng adalah Tempat Ibadat Agama Khonghucu. Ornamen-ornamen di kelenteng umumnya menggambarkan hewan-hewan cerdas berdasar kitab suci agama Khonghucu Li Ji bagian Li Yun III: 8-10, yaitu liong (naga), burung hong, qilin dan kura-kura
Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul istilah kelenteng ini. Dalam buku Dewa Dewi Kelenteng disebutkan istilah kelenteng merupakan bahasa Indonesia yang khusus untuk menyebut rumah ibadat yang digunakan oleh orang keturunan Tionghoa. Menurut beberapa pakar Bahasa istilah kelenteng berasal dari bunyi teng-teng atau klenteng-klenteng yang terdengar dari dalam bangunan itu pada waktu diadakan upacara sembahyang. Bunyi-bunyian itu berasal dari lonceng-lonceng yang ditabuh pada waktu pembacaan parita atau pada saat puncak acara. Ada pula yang beranggapan kelenteng berasal dari kata Kwan Im Teng. Konon dari kata Kwan im teng inilah orang Indonesia akhirnya melafalkan sebagai Klenteng.
Tapi penulis lebih condong mengikuti hasil penelitian yang dilakukan oleh universitas Xia Men 厦门大学 di Tiongkok  yang menyatakan kelenteng berasal dari kata “kauw lang teng” 教人亭 (dialek hokkian) yang bila diuraikan aksara peraksara: kauw/jiao 教 = agama,  lang 人 = orang,  teng”亭 = tempat. Jadi kelenteng adalah tempat orang melaksanakan ibadah agama. Ada pergeseran pelafalan kauw lang teng menjadi kelenteng, seperti pergeseran pelafalan tofu menjadi tahu oleh penduduk sekitar kauw lang teng tersebut. Istilah kelenteng bukanlah istilah khas Indonesia, kauw lang teng dapat ditemukan di beberapa daerah di Tiongkok Selatan.
Kauw lang teng sebagai asal mula istilah kelenteng lebih masuk akal dan dapat dipertanggung jawabkan dibandingkan asal-usul istilah kelenteng yang lain, seperti kwan im teng atau bunyi-bunyian yang berasal dari lonceng-lonceng yang ditabuh pada waktu pembacaan parita atau pada saat puncak acara. Seperti kita ketahui tidak semua kelenteng berisi shen ming Kwan Im Niang-Niang, lagi pula pergeseran lafal dari kwan im teng ke kelenteng terasa jauh. Terasa janggal pula bila kata kelenteng berasal dari bunyi-bunyian lonceng di dalam bangunan karena rumah ibadat yang menggunakan lonceng bukan hanya kelenteng, dan apakah benar bunyi klenteng klenteng adalah bunyi lonceng di kauw lang teng? Bila bunyi teng-teng adalah bunyi lonceng pada waktu pembacaan parita atau puncak acara, pergeseran bunyi lafal dari teng-teng  menjadi klenteng terlalu jauh.

SHEN MING
Kerancuan sering terjadi antara xian 仙= dewa/dewi dengan shen ming 神明 = malaikat/para suci/roh gemilang. Shen ming 神明, sering diterjemahkan sebagai dewa yang sebetulnya merupakan terjemahan dari xian 仙. Kedua istilah ini mengandung makna yang jauh berbeda bukan hanya dari segi huruf tetapi juga filosofi dan sifat keagamaan yang mendasari huruf tersebut.
Perhatikan huruf xian 仙= dewa, disana terdiri dari radikal huruf ren 人=manusia, dan shan 山= gunung, Jadi dewa itu adalah orang yang bertapa di gunung-gunung dan memiliki kesaktian/kekuatan-kekuatan gaib, sedangkan shen bukanlah orang-orang yang pada saat hidupnya sengaja bertapa digunung-gunung untuk memiliki kesaktian, tetapi menjalankan kebajikan dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat sesuai dengan yang diajarkan oleh agama Khonghucu yang pada akhirnya dihormati dan diteladani oleh masyarakat luas.
Keberadaan shen ming tentu saja mempunyai dasar dalam agama Khonghucu, ayat-ayat dalam kitab Si Shu - Wu Jing yang mendasari keberadaan shen ming antara lain:

Ji zhe, jiao zhi ben ye 祭者,教之本也
(Sembahyang/ibadah itu pokok/akar agama).

Shi gu xian zhe zhi ji ye, zhi qi cheng xin, yu qu zhong jing
 是故賢者之祭也,致其誠信,與其忠敬
(Maka Sembahyang/ibadah seorang yang bijaksana berkebajikan dipenuhi iman dan kepercayaan, dengan semangat penuh satya dan hormat sujud).”

Kong zi yue, jun zi you san wei, wei tian ming, wei da ren, wei sheng ren zhi yan.
 孔子曰, 君子有三畏,畏天命,畏大人,畏聖人之言
“Nabi Kongzi bersabda, “Seorang junzi memuliakan tiga hal, memuliakan Firman Tian, memuliakan orang-orang besar dan memuliakan sabda para nabi”.

Fu sheng wang zhi ji si ye, fa shi yu min ze si zhi, yi si qin shi ze si zhi, yi lao ding guo ze si zhi, neng han da huan ze si zhi.
夫聖王之制祭祀也,施於民則祀之,以死勤事則祀之,以勞定國則祀之,能捍大患則祀之
“Berdasarkan peraturan para raja suci tentang upacara sembahyang, sembahyang dilakukan kepada orang yang menegakkan hukum bagi rakyat, kepada orang yang gugur menunaikan tugas, kepada orang yang telah berjerih payah membangun kemantapan dan kejayaan Negara, kepada orang yang dengan gagah berhasil menghadapi serta mengatasi bencana besar dan kepada yang mampu mencegah terjadinya kejahatan/penyesalan besar.

Kong zi yue, zhi si er zhi si zhi, bu ren er bu ke wei ye, zhi si er zhi sheng zhi, bu zhi er bu ke wei ye. shen ming zhi ye.
孔子曰:之死而致死之,不仁而不 可为也,之死而致生之,不知而不可為也…神明之也
“Nabi Kongzi bersabda, “Terhadap orang yang telah mati, bila memperlakukan benar-benar sama sekali sudah mati, itu tidak berperi cinta kasih, maka jangan dilakukan. Terhadap orang yang telah mati, memperlakukan seperti benar-benar masih hidup, itu tidak bijaksana dan janganlah dikerjakan. Dengan demikian, orang mati  diperlakukan sebagai shen ming."

Dari tuntunan ayat-ayat suci di atas, jelaslah mengapa umat Ru-Khonghucu melakukan ibadah terhadap leluhurnya yaitu berdasarkan semangat jing tian zun zu 敬天尊祖 (Hormat akan Tian, menjunjung leluhur).

KESIMPULAN
Kauw lang teng sebagai asal mula istilah kelenteng lebih masuk akal dan dapat dipertanggung jawabkan dibandingkan asal-usul istilah kelenteng yang lain, seperti kwan im teng atau bunyi-bunyian yang berasal dari lonceng-lonceng yang ditabuh pada waktu pembacaan parita atau pada saat puncak acara.
Kerancuan sering terjadi antara xian 仙= dewa/dewi dengan shen ming 神明 = malaikat/ para suci/roh gemilang. Shen ming 神明, sering diterjemahkan sebagai dewa yang sebetul-nya merupakan terjemahan dari xian 仙. Kedua istilah ini mengandung makna yang jauh berbeda bukan hanya dari segi huruf tetapi juga filosofi dan sifat keagamaan yang mendasari huruf tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Chew Kong Giok. www.faceboook.com/gentarohani.
Kang, Thomas Hosuck. Tanya Jawab: Khonghucu dan  Konfusianisme. Penerjemah Mulyadi Liang.
Kwa Tong Hay. Dewa-Dewi Kelenteng. Bandung: Bina Manggala Widya, 2013.
Lim Khung Sen, ed. Hidup Bahagia dalam Jalan Suci  Tian. Jakarta: Gerbang Kebajikan Ru, 2010.
Linggaraja, Uung Sendana, dkk. Modul Mata Kuliah Pendidikan Agama Khonghucu. Jakarta: Universitas Terbuka 2011.
Oei Lee T. Ketuhanan, Keagamaan, Cinta Kasih, Keibadahan dalam Konfucianisme Sala: Matakin, 1986.
Tockary, RIP. Pengantar Agama Ru Konfusian. Bogor: The House of Ru, 2006.

Postingan populer dari blog ini

MEJA ABU LELUHUR

TOUS LES JOURS