MENGIRIM RUMAH-RUMAHAN

Salam Kebajikan.

Beberapa waktu yang lalu saya melayat, mensang teman sekaligus adik perempuan teman saya yang saya ketahui bukanlah seorang yang terlalu religius. Namun tradisi keluarganya adalah tradisi Khonghucu. Kakaknya adalah sahabat saya. Dia adalah seorang penganut agama Khonghucu yang sering disebut sebagai Khonghucu tradisional. Dia berpulang setelah sekian lama berjuang melawan penyakitnya. Sayang sekali saya tidak bisa menghantar kepulangannya ke tempat peristirahatan terakhir jasadnya karena saya harus kembali ke Jakarta.

Keesokan harinya sekitar sore hari saya mendapat telpon dari sahabat saya, yang juga sahabat dari kakak almarhumah. Suatu hal yang jarang sekali dilakukan kalau tidak ada hal yang penting dan urgent.

Inti pembicaraan adalah sahabat saya yang juga mengenal almarhumah merasa sangat dongkol dan tersinggung karena mendengar kotbah dari pendeta (bukan Khonghucu) yang  memimpin upacara pemakaman.

Yang membuat sahabat saya merasa dongkol dan tersinggung adalah pendeta tersebut dalam kotbahnya menyinggung tentang membakar rumah-rumahan. Dan bagi sahabat saya, hal ini tidak sepantasnya dibawakan dalam kotbah karena menyangkut keyakinan orang lain. 

Menurut sang pendeta kita tak perlu mengirimkan rumah-rumahan kepada almarhumah karena Tuhan telah menyediakan tempat yang indah di surga dan pernyataan-pernyataan lain yang tujuannya tentu untuk meyakinkan yang hadir bahwa agamanya adalah yang terbaik dan agama orang yang tidak seiman dengannya sudah tidak relevan untuk diikuti dan sudah waktunya diganti dan ditinggalkan. Saya mendengarkan dengan seksama di ujung telpon. Saya berkata ya begitulah, hal seperti itu sering terjadi, memprihatinkan. Padahal saya tahu, sahabat saya diujung telpon saya bukanlah seorang yang religius. Tapi kotbah tersebut sudah cukup mengusiknya. Bahkan kata dia sebetulnya dia ingin memarahi pendeta tersebut, hanya saja dia merasa tak pantas dalam suasana duka dia melakukan itu.

Dalam pandangan saya, memang tidak sepantasnya sang pendeta mengomentari sesuatu yang sebetulnya dia tidak pahami dengan benar, terlebih menyangkut keyakinan orang lain. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan misi agama memperlihatkan citra negatifnya dan undang-undang penodaan agama masih saja ada di negeri ini.

Mengirim atau membakar rumah-rumahan beserta perangkatnya, pembantu, mobil, pesawat, handphone, uang, dan lain-lain adalah manifestasi cinta kasih atau bakti dari anak, cucu, cicit dan saudara terhadap orang yang berpulang. Ada 'rasa' kasih yang timbul dari yang ditinggalkan pada yang berpulang. Takkan bisa bertemu kembali secara jasmani, tak bisa bercengkrama, tak bisa saling memeluk, tak bisa lagi berdebat, hanya ada rasa sedih dan rasa kurang. Ada suatu penyesalan karena belum dapat memberikan cinta kasih dan bakti pada almarhum/almarhumah selama hidup.

Seorang umat Khonghucu seperti saya tidak pernah menganggap orang yang sudah berpulang itu sudah tiada karena itu tidak berperi cinta kasih. Tidak pernah pula menganggap orang yang sudah berpulang itu masih ada karena tidak bijaksana, faktanya orang yang berpulang jasadnya telah membeku. Bagi pemeluk agama Khonghucu sesuai sabda nabi Kongzi dalam kitab Liji (Catatan Kesusilaan), orang yang berpulang masih ada sebagai makhluk rohani.

Maka untuk memanifestasikan cinta kasih kepada almarhum (/ah) sebagai perwujudan firman Tian dalam watak sejati manusia, dibuatlah seruling yang sengau nada, piring yang tidak sempurna dan akhirnya sesuai perkembangan jaman dibuatlah rumah-rumahan beserta perlengkapannya sebagai mingqi.

Cinta kasih yang dimanifestasikan ini akan menjadi 'makanan' arwah orang yang telah berpulang. Makhluk rohani tersebut tidak memakan buah yang disajikan atau menempati rumah (dalam arti rumah fisik), tapi menempati rumah sentosa. Mereka tidak bisa memakan buah atau sayuran yang disajikan atau menempati rumah kertas yang sudah dibakar tersebut, karena mereka bukan lagi makhluk jasmani dan rohani yang punya gigi dan kulit, tetapi mereka  'memakan'  dan menerima cinta kasih dan bakti dari para sanak saudara dan sahabatnya.  


Namun demikian, ada 'rasa' makanan yang disajikan menjadi hambar, rumah yang dikirimkan ditempati karena arwah yang berpulang menerima manifestasi cinta kasih tersebut. Pada akhirnya para sanak saudara dan sahabat berharap almarhum (/ah) bersatu kembali dengan Tian (Pei Tian) sang sumber asal mula. Dan umat Khonghucu yakin, dengan cinta kasih dan bakti inilah mereka berkontribusi menjadi 'penyelamat' bagi sanak saudara dan sahabatnya yang berpulang.


Tak layak dan tak pantas membandingkan dua keyakinan yang berbeda dengan latar belakang budaya berbeda, apalagi sambil menghujat dan mencemooh dan merasa keyakinannya paling benar.

Daripada meributkan perlengkapan upacara, lebih baik ada rasa sedih yang benar. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU