TIAN DAN SHANGDI DALAM KITAB SISHU

Salam Kebajikan,

Bila kita perhatikan ayat-ayat dalam kitab sishu, nampak jelas menunjukkan bahwa Tian: membantu tumbuh atau membantu roboh (Zhongyong XVI: 3), memberi karunia (zhongyong XVI: 4), memberi firman/janji (Zhongyong XVI:5), tujuan akhir hidup manusia (zhongyong XXX: 4), adalah Yang Maha Esa, Yang Maha Tinggi, pendukung  semuanya, kesempurnaannya ditunjukkan dengan tiada suara dan tiada bau (Zhongyong XXXII: 6), menjadikan zhisheng Kongzi sebagai Muduo (Lunyu III: 24), memberi hukuman (Lunyu VI: 28), menentukan kematian seseorang (Lunyu XI: 9), menentukan mati hidup serta kaya dan mulia seseorang (Lunyu XII: 5), mengerti keinginan zhisheng Kongzi (Lunyu XIV: 35.3), memberi perintah (Lunyu XX:1), menurunkan manusia dan memilih manusia (Mengzi IB: 3.7), memberi ujian tidak melebih kemampuan manusia (Mengzi IIA: 4.6),  memberi damai dan sejahtera (Mengzi IIB: 13.5), menghukum (Mengzi IVA: 1.10), memberikan anugerah atau menjatuhkan hukuman (Mengzi VA: 7.9), menuntut kepatuhan akan hukumnya agar manusia dapat terpelihara atau binasa (Mengzi IVA: 7.1), menentukan seorang raja atau kaisar naik ke tampuk kekuasaan atau tidak (Mengzi VA: 5.2, 5.7, 6.1), tempat mengadu (Mengzi VA: 1.1), tidak berbicara, tapi mengatur dengan hukumnya (Mengzi VA: 5.4), berkuasa atas nasib dan takdir (Mengzi VA: 6.2), berkuasa atas apa yang terjadi pada manusia (Mengzi VA: 6.3), menjelmakan rakyat dan memerintah manusia (Mengzi VA: 7.5), menyertai manusia dengan bentuk dan sifat (Mengzi VIA: 6.8), menurunkan watak dasar pada manusia (Mengzi VIA: 7.1),  menjaga manusia/junzi (Mengzi VIIA: 13.3), memberi sifat-sifat asli pada tiap bagian tubuh beserta peranannya (Mengzi VIIA: 38.1).

Karena Tian adalah Maha Esa, Maha Besar dan Maha Kuasa, maka manusia perlu mencamkan bahwa: hanya Tianming (firman Tian) sajalah yang Maha Mulia dan Maha Kekal (zhongyong XXV:9), dalam melakukan pembinaan diri, seorang manusia bukan hanya mengenal manusia, tetapi harus mengenal Tian (zhongyong XIX:7); iman, ketulusan (cheng) adalah Tiandao (Jalan Suci Tian), berusaha beroleh iman adalah rendao (Jalan suci manusia) (zhong yong XIX: 18), siapa berbuat dosa pada Tian, tiada tempat lain dapat meminta doa (Lunyu III: 13),  gembira dan takut akan Tian akan melindungi dunia dan negara (Mengzi IB: 3.2), Tianming tidak dikaruniakan selamanya, tergantung kepatuhan manusia (Mengzi IIB: 7.5), menjaga hati, merawat xing adalah cara mengabdi kepada Tian (Mengzi VIIA: 1.2), kewajiban untuk memuliakan Tian,  jangan sampai memalukan Tian (Mengzi VIIA: 20.3),

Di lain pihak, tujuh ayat mengenai Di/Shangdi dalam kitab Sishu, menunjukkan bahwa Di/Shangdi: menentukan seorang raja atau suatu dinasti berkuasa atau tidak (Daxue V: 5), Tuhan Yang Maha Tinggi, bukan nenek moyang (Zhongyong XVIII: 6), berkuasa menimpakan hukuman (Lunyu XX: 1), menurunkan dan menarik ming (Mengzi IIA: 4.6, 7.5), tujuan manusia baik atau buruk/ jahat untuk bersembahyang (Mengzi IVB: 25.2).

Dengan demikian, manusia akan kehilangan kekuasaan bila melanggar ming (Daxue V:5), memahami dengan jelas tata upacara Jiao dan She yang merupakan pengabdian pada Shangdi, serta makna sembahyang Di dan Chang adalah kunci mengatur negara (Zhongyong XVIII:6), tidak berbuat dosa agar tidak ditimpa hukuman (Lunyu XX: 1), tekun hidup sesuai ming akan menjadikan penuh berkah (Mengzi IIA: 4.6, Mengzi IVA: 4.3).

Dengan membaca dan membandingkan ayat-ayat dalam Sishu jelas bahwa Tian dan Di/Shangdi adalah sama.

Dikutip dari buku penulis berjudul “Tian dan Sheng dalam Penafsiran Rohaniwan dan Cendekiawan Matakin serta Pengamat Budaya Tionghoa di Indonesia” cetakan pertama, Mei 2018, halaman 224-226.

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU