KEMAMPUAN TAK LAZIM

Salam Kebajikan,

Dalam aktifitas saya mengajar dan bertemu orang-orang, beraneka persoalan kehidupan mengemuka. Ada persoalan keseharian yang dihadapi para mahasiswa, umat dan kolega saya seperti persoalan keuangan, hubungan pacaran, perjodohan, relasi dalam keluarga yang kurang harmonis, karir, bisnis, gosip miring, rasa galau, penyakit, dan berbagai persoalan lain. Manusia hidup tak luput dari masalah. Masalah adalah bagian tak terpisahkan dari hidup manusia.

Saya pernah membaca buku yang mengingatkan pembaca bahwa masalah sudah tidak lagi ada saat kita sudah berada di rumah terakhir kita, yaitu kuburan. Maka jalan terbaik bukanlah mengharapkan masalah tidak ada lagi dalam kehidupan atau menghindari masalah, tapi jalan terbaik adalah menghadapi masalah yang pasti ada dalam kehidupan kita sebagai manusia dan mencari solusi. 

Untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah, ada formula yang dianjurkan, yaitu: 
1. Sadari dan akui bahwa Anda punya masalah. 
2. Kenali masalahnya. 
3. Cari alternatif solusi. 
4. Pilih solusi. 
5. Buat keputusan. 
6. Action. 
7. Jangan lagi memikirkan masalah, fokus pada solusi. 

Dengan formula itu, stress berkurang dan kebanyakan masalah keseharian dapat diatasi atau minimal dapat dikurangi.

Nampak mudah dan sederhana. Kenyataannya bagi kebanyakan orang tidak semudah dan sesederhana itu. Manusia adalah makhluk rasional dan emosional. Pada saat orang sedang diliputi oleh rasa marah, sedih, khawatir, dan takut, boro-boro dapat berpikir dengan lurus. Dalam kondisi demikian, perlu orang yang mendampingi, bersembahyang dan berdoa untuk mohon petunjuk dan menguatkan, kalau masih mungkin, baca buku agar dapat melihat persoalan dengan jernih. Walau tetap saja untuk dapat menyelesaikan persoalan, perlu kemauan dari orang yang terbelit persoalan. 

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang menghadapi persoalan 'tak lazim'. Beberapa mahasiswa saya tidak bisa menerima bahwa mereka memiliki kemampuan untuk dapat melihat 'dunia lain', makhluk-makhluk yang tak terlihat oleh orang kebanyakan seperti saya. Mereka merasa tidak nyaman, takut, gelisah dan berbagai perasaan berkecamuk. Ada penolakan dalam dirinya atas kemampuan dia yang tak lazim. Lebih tidak nyaman lagi karena dia sering melihat makhluk-makhluk astral yang menyeramkan yang berusaha berkomunikasi dengannya, memberi pertanda, meminta tolong bahkan memarahi dan menindih. Saya juga bertemu dengan anak-anak indigo yang kurang lebih menghadapi 'persoalan' yang sama.

Beberapa kawan saya yang sekarang menjadi tabib, pernah menghadapi 'persoalan' yang sama. Para tabib ini yang sekarang  banyak menolong dan mengobati orang, baik sakit jasmani maupun sakit rohani/jiwa/psikologis, dulu adalah orang-orang biasa tanpa kemampuan yang 'tak lazim' tersebut. Pada saat awal mereka berupaya menghindari, menolak dan melarikan diri dengan berbagai upaya. Tapi mereka tak berhasil, hingga akhirnya menjadi tabib. Tanggung jawab yang melelahkan namun mulia. Banyak orang disembuhkan dari penyakit dan persoalannya karena kemampuan 'tak lazim' dari sang tabib, dikombinasikan dengan ilmu pengobatan dan ilmu jiwa yang dipelajarinya saat mereka akhirnya 'menyerah' dan tak lagi berupaya melawan desakan alam 'astral' berwujud orang tua.

Saya adalah orang biasa yang tidak mempunyai kemampuan di bidang 'tak lazim' tersebut, berbeda dengan ayah saya. Saya bersyukur saya seperti sekarang, karena kemampuan istimewa 'menuntut' tanggung jawab.

Dalam beberapa kesempatan, ada beberapa mahasiswa Khonghucu yang kebetulan sedang  berkutat dengan rasa takut, gelisah dan keinginan menolak kemampuan 'tak lazim' yang tiba-tiba menghampiri. Mereka bertanya kepada saya, bagaimana pandangan agama Khonghucu mengenai hal ini dan bagaimana cara menghadapinya.

Jawaban saya:

Dunia ini diatur dengan hukum yin yang, ada hal-hal yang terlihat, ada yang tidak terlihat. Ada jasmani ada rohani. Ada gui, ada shen. Keberadaan makhluk astral yang tak terlihat merupakan keniscayaan. Seperti juga keberadaan Tian sebagai yang Maha Roh bisa kita rasakan dengan iman kita.

Kemampuan 'tak lazim' ini bukanlah kemampuan 'tak lazim'. Manusia dikaruniai Tian bermacam bakat. Ada yang dikaruniai bakat musik, melukis, olahraga, seni, memimpin, bergaul dengan orang lain, bahasa, matematika, dan berbagai bakat lain. Melihat dan berhubungan dengan 'dunia lain' adalah salah satu bakat yang diterima seseorang. Bakat kadang tak kita sadari kita miliki, hingga kita dipertemukan dengan suatu situasi yang menyebabkan bakat tersebut menjadi terasah. Bakat tak bisa kita tolak, hanya bisa kita kembangkan atau tidak. Orang yang berbakat akan lebih mudah menjadi ahli saat bakatnya diasah dibandingkan orang yang tidak berbakat.

Kalau kamu menyadari bahwa ini adalah bakat yang dikaruniakan Tian pada kamu, lalu mengapa kamu menolaknya? Bukankah upaya menolak adalah upaya yang sia-sia? Tapi manusiawi bila orang tak bisa menerima kenyataan dapat melihat dan berkomunikasi dengan sesuatu yang tak terlihat oleh mata jasmani, karena kemampuan ini nampak tak lazim. Orang lain tak memiliki kemampuan yang sama sehingga orang lain menganggap orang yang memiliki kemampuan ini sebagai orang aneh. Dia bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat, dia bisa mendengar sesuatu yang orang lain tidak bisa dengar. Bakat ini nampak berbeda dengan bakat lain yang bisa dirasakan dan dilihat oleh orang lain dengan panca indra. Hanya orang-orang yang mempunyai kemampuan dan bakat sama yang bisa melihat dan merasakan dengan indra yang lain.

Jadi saya menganjurkan pada mahasiswa saya untuk dengan sadar menerima bakat tersebut dan tak usah mencoba melawan atau menolaknya. Toh orang-orang yang mempunyai bakat seni atau bakat lainnya tak juga menolak atau melawan. Dengan menerima, maka semua ketakutan akan perlahan sirna, semua menjadi wajar, tak lagi 'tak lazim'. Kalau bisa mendapatkan pembimbing atau teman diskusi yang mempunyai kemampuan sama akan banyak membantu. Kalau seandainya bakat itu bisa digunakan untuk menolong sesama, bukankah suatu kemuliaan? 

Betapa kering dunia ini tanpa lukisan dan musik. Orang yang mempunyai kemampuan melukis dan bermain musik telah berjasa bagi dunia. Perayaan capgome lebih semarak dengan 'pensucian diri' para tatung yang kita rasakan tak lazim karena menusuk pipi, nampak dimata kita 'menyakiti diri' . Jangan-jangan Tian memberi bakat ini untuk kemaslahatan sesama manusia yang memerlukan pendampingan. Kalaupun tidak mau mengembangkannya, terimalah seperti bakat-bakat lain yang tidak harus dan belum tentu dikembangkan. Itu pilihan, walau kadang dalam situasi tertentu membuat kita tak bisa memilih.

Karena 'dunia lain' adalah dunia baru yang belum dikenal dengan baik, diperlukan pelindung terhadap kekhawatiran pada hal buruk yang mungkin terjadi dari 'dunia lain' ini. Bersembahyang dan mengucapkan doa-doa yang tulus akan memberi perlindungan. Menjaga hati dan berprilaku bajik akan menambahkan energi positif yang akan memberi perlindungan, minimal meredam rasa takut dan keraguan pada semua yang terjadi.

Tian adalah sumber segala sesuatu, Tian juga sumber kebajikan, yang cahaya kebajikannya bersemayam dalam batin kita. Bila 'gelombang' cahaya kebajikan dalam batin kita dapat tune in dengan 'gelombang' cahaya kebajikan Tian, maka segala sesuatu akan teratasi karena kita berada dalam dao. Ini seperti kita perlu menyetel frekuensi agar dapat mendengarkan radio atau menonton TV sesuai kemauan kita. Bila frekuensi tidak tepat kita tak dapat mendengarkan radio dan menonton TV. 

Cahaya kebajikan yang gemilang akan berkenan pada Tian. Semuanya kembali pada Tian. Dengan kata lain, menerima itu bukan menyerah, bukan pasrah untuk dikuasai. Menerima berarti mengenali jati diri sejati dan menjadi kuasa atas diri, bukan dikuasai, mengendalikan diri bukan dikendalikan. Nampak gampang diucapkan, tapi perlu kesabaran dan kesadaran untuk menjalani.

Hidup memang penuh masalah. Dengan masalah kita belajar naik kelas sebagai manusia. Sikap terbaik adalah senantiasa bersyukur.  

Terima kasih Tian telah memberkati. 

Xie Tian Zhi En. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU