KITA MASIH PUNYA PENGHARAPAN


Hamparan hijau dedaunan diseling warna bunga dan rona buah.

Bergemerisik ditiup bayu dan kera bergelayut.

Mengumandangkan kidung hati tentang alam yang kaya bak surga sumringah di ujung sini.
Tamparan pasir dan debu menerpa bebatuan yang nampak memerah.
Menjerit ditiup bayu yang sama dan sengat laba-laba yang mengerut.
Mendendangkan lagu rindu akan sejuknya air hujan dan belaian bidadari malam di ujung sana.

Kita anak manusia yang ada di ujung sini merasakan bahagia bergelimang harta berharap hidup tak kan pernah sirna.
Namun mereka, anak–anak manusia berasal sama di ujung sana, yang terus berjuang memerah tenaga direnda nestapa, tak kuasa sekedar berharap hari esok akan berbeda.

Pada siapakah yang di ujung sini dan di ujung sana mencurahkan pengharapan?
Apakah hamparan hijau dedaunan, pasir dan debu mempunyai takdir yang sama?
Mereka hakikatnya sama tapi nyatanya dalam gambar mata kita, mereka berbeda...
Yang satu dipenuhi suka, yang lain?
Entahlah kita tak berani berkata-kata karena kita tak kuasa menahan air mata.
Kita bertanya-tanya apakah ini fatamorgana ataukah nyata di negeri kita?
Kalaulah itu fatamorgana, sungguh kita bersyukur pada Yang Maha Kuasa. 
Kalau itu nyata? Apakah itu memang takdir dari yang Maha Kuasa? 

Manusia bukanlah makhluk tanpa asa, tanpa rasa, tanpa logika, tanpa kuasa untuk berkarya.
Kalau itu nyata, ada suatu yang bisa kita perbuat agar tak ada lagi nestapa di negeri kita.

Sebelum segalanya terlambat.
Sebelum negeri ini terpecah karena ketidakadilan dan hilangnya rasa kemanusiaan.
Sebelum negeri ini hanya tinggal catatan sejarah karena kesejahteraan tak merata. 

Ada kerja yang bisa kita lakukan bersama.
Ada pula kerja dan karsa yang harus direkayasa oleh penguasa.
Agar kemanusiaan adil dan beradab bukanlah sekedar kata-kata.
Agar kesejahteraan merata.
Agar keadilan menjadi nyata.

Tak bijaksana bila penguasa--dan mungkin kita--memejamkan mata pada realita yang ada.
Yang ada di ujung sini dan yang di ujung sana bukanlah fatamorgana.
Jangan terlena apalagi takabur, gelap mata menyepelekan sabda.
Negeri ini akan bak surga sumringah, rakyatnya guyub bersatu, damai tentram dipenuhi canda tawa saat harta benda bukan hanya milik si kaya tapi tersebar ke segenap pelosok nusantara.

Yang ada di ujung sini, yang ada di ujung sana, yang ada dimanapun tak lagi duka nestapa.
Kita menumpukan pengharapan pada Yang Maha Kuasa dalam doa-doa kita.
Pada penguasa, dalam karsa dan kerja nyata mereka berdasar Pancasila.

Kita masih punya pengharapan.
Kita tak putus harapan.
Negeri kita akan jaya. 
Nusantara kita milik bersama. 
Bukan sebatas kata-kata.


Narasi Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili
oleh Uung Sendana
Gedung Garuda TMII
Tema Daxue X : 9

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU