MENGENAL KEHIDUPAN UNTUK MENGHADAPI KEMATIAN

Salam Kebajikan,

Membayangkan sesuatu yang jauh, indah dan baik adalah hal yang mengasyikkan dan memberi inspirasi bagi kita untuk melakukan sesuatu agar mencapainya. Membicarakan sesuatu yang bisa terjadi di kemudian hari, buruk dan menyakitkan adalah hal yang bisa menggugah kita untuk menghindarkan sebab. Mengetahui ujung perjalanan sebagai manusia mempunyai tempat istimewa dalam relung batin dan rasio kita. Kedua topik tentu saja sangat penting dalam kehidupan, terutama memperkaya jiwa kita, setidaknya  kita tahu ke mana akan menuju dan kita tahu sebab kita menuju ke salah satu dari dua arah tersebut.

Segala sesuatu ada awal dan ada akhir. Di atas segalanya ada prima causa, penyebab segala sesuatu, pencipta segala sesuatu. Para filsuf, guru bijak dan nabi, baik dengan kemampuan berpikirnya, kecerahan jiwanya maupun bisikan ilahi di telinga batinnya telah memberikan arah tujuan kita hidup yang selaras dengan sang pencipta dan kemungkinan yang terjadi saat kita tidak lagi selaras dengan tujuan kita diciptakan.  Hal-hal yang nun jauh disana dan nanti, kadang lebih menarik untuk dikaji, dieksplorasi dan diimajinasi, setidaknya akan mengalihkan perhatian kita dari hiruk pikuk masalah, kepenatan kerja dan memberi penghiburan saat kehidupan tidak seperti yang diharapkan yang sedang kita hadapi sekarang dan di sini.

Kita—atau mungkin saya—seringkali terpaku dalam satu sudut pemikiran, melihat sebab segala sesuatu dan akibat segala sesuatu dalam garis linear dan hitam putih padahal di samping garis linear ada lingkaran, garis putus-putus, atau spiral dan warna lain yang berbeda dari hitam dan putih yang tak terhingga banyaknya. Cahaya memendar, memantul, mengiris tak selalu sama karena berbagai alasan dan sebab yang mendukung atau menghambat atau sekedar meneruskan.

Ada berbagai lukisan yang dilukis oleh para pelukis, tidak semua lukisan realis atau natural, ada yang penuh impresi dan abstrak, ada sekurangnya 20 aliran seni lukis. Saya dan Anda belum tentu mempunyai selera yang sama dan mengerti apa yang dilukis oleh sang pelukis. Pelukis itu manusia seperti saya dan Anda, kita saja tak bisa sama memandang dan mengimajinasi karyanya. Lalu bagaimana anda bisa mengklaim lukisan sang Pencipta yang anda bayangkan dan rasakan dalam iman Anda sama dengan yang saya rasakan dan bayangkan dalam iman saya? Cuma sang pelukis yang tahu apa yang dia lukiskan, cuma Sang Pencipta yang Maha Tahu dengan karya penciptaannya, kita hanya tahu secuil.

'Keluar' dari kenyataan kadang diperlukan agar hidup kita tetap punya warna dan punya harapan. Mengkaji, mengeksplorasi, mengimajinasi, dan jangan lupa mengimani, itu penting agar kita tahu arah ke mana akan menuju dan menghindari ketersesatan yang menyisakan sesal.

Perjalanan hidup saya acap kali ada dalam persimpangan, dan saya harus mengambil keputusan. Keputusan yang diambil bisa saja salah dan itu manusiawi. Saya belajar dari kesalahan yang saya perbuat. Itulah realita yang saya hadapi. Itulah kenyataan yang harus saya jalani sebagai manusia. Dari kesalahan, saya banyak belajar untuk memahami kehidupan ini.

Berbicara mengenai yang di sana dan nanti adalah berbicara mengenai langit yang maha luas, tak berhingga. Berbicara mengenai akhir kehidupan dan setelah kehidupan berakhir, kadang hanya bisa kita imani, tanpa kita  mengerti, tanpa kita kenali.

Berbicara mengenai kesalahan yang saya perbuat karena keputusan yang saya ambil adalah berbicara tentang kehidupan yang sedang dijalani kini, didunia ini. Saya bisa belajar dari kesalahan saya, saya pun bisa belajar dari kesalahan orang lain sehingga saya tak perlu melakukan kesalahan yang sama dan memutuskan dengan tepat. Saya juga bisa mengikuti tuntunan ajaran para nabi dan para bijak agar hidup berada di jalur yang benar.

Kita tak bisa hanya berbicara tentang 'langit' di sana dan nanti, karena realitanya kita berada di 'bumi' dan kini. Dengan bijaksana Nabi Kongzi memberitahu jalan yang harus ditempuh agar saya dan Anda mengenal hidup terlebih dahulu sebelum mengenal hal setelah mati dan tiba disana. Sampai hari ini, tak ada seorang pun yang hidup abadi jasmani dan rohani, semua akan mengalami kematian. Kematian adalah akhir perjalanan saya dan Anda sebagai makhluk jasmani dan rohani. Setelah itu bukan lagi urusan kita, tetapi menjadi kewenangan Tian untuk menentukan. Nabi Kongzi tahu ke mana manusia akan menuju, tapi Beliau tak menganjurkan saya sebagai umatnya untuk berkutat mencari gambaran mendetail atas hal setelah kematian saya. Ada hal setelah kematian dekaplah dalam iman setidaknya itu yang saya pahami, saya hanya perlu memprioritaskan karya dan tingkah laku saya selama hidup agar mengenali dan mengerti kehidupan dengan benar.

Maka bagi saya—mungkin berbeda dengan Anda—untuk apa saya terus saja mengeksplorasi membayangkan, mengimajinasi yang di sana dan nanti karena saya tak punya kemampuan mumpuni, hanya bisa mengimani.  Kalau saya mau mendaki gunung yang tinggi, saya mulai dari bawah, kalau mau pergi jauh saya harus mulai dari tempat saya berada. Kalau saya mau mengenal setelah mati saya wajib mengenal hidup. Kalau saya mau sampai di sana mulai dari sini. Saya mencoba mengerti dan menjalani bahwa hidup dipenuhi kebajikan akan membawa saya kepada sumber kebajikan, hidup dikendalikan nafsu dan keinginan tidak membawa jiwa saya kemana-mana, mengembara tak tentu arah.

Bagi saya, tahu kemana saya akan menuju adalah hal yang sangat penting. Tapi saya tak mau terlena dengan terus membicarakan, mengeksplorasi, dan mengimajinasi. Saya akan mendekap dalam iman saya, selebihnya saya akan fokuskan dan curahkan hati dan karya saya untuk menjalankan kehidupan di dunia ini semaksimal mungkin, agar selaras dengan hakikat keberadaan saya sebagai manusia, selaras dengan kehendakNya. Hanya dengan demikianlah akan menghantarkan saya menuju yang indah dan baik nun jauh disana, kembali pada Sang Pencipta.

Garis itu tidak hanya linear, lukisan pun bukan cuma natural. Anda dan saya belum tentu sama. (US)

Lunyu XI: 12

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU