PERUBAHAN IKLIM

Salam Kebajikan,

Bagaimana bila seandainya manusia tidak ada lagi di dunia? Dengan sangat bernas, Alan Weisman dalam bukunya "The World Without Us" mengungkapkan fakta-fakta yang membuat miris siapa saja yang membaca buku tersebut. Saya sungguh tercengang sekaligus terenyuh dengan fakta yang dipaparkan dalam buku tersebut tentang apa yang sesungguhnya terjadi terhadap bumi, akibat ulah manusia. 

Sesungguhnya apa yang kita anggap kemajuan luar biasa yang telah dicapai manusia secara miris menunjukkan egoisme dan kebodohan manusia. 'Kemajuan' yang dicapai telah berakibat buruk pada bumi tempat tinggal manusia dan terlebih pada hewan dan tumbuhan, sesama makhluk hidup ciptaan Tian dan sekarang secara perlahan namun pasti mulai berbalik pada manusia, si pembuat ulah.

Sampah plastik telah menjadi persoalan serius. Timbunan sampah plastik yang dibuang di daratan berkumpul di Pusaran Subtropika Pasifik Utara seukuran benua kecil, terapung-apung di atas permukaan air dan ukurannya terus melebar dari tahun ke tahun.

Alam adalah mesin penghancur dan mesin penyedia yang luar biasa bagi makhluk hidup melalui mekanisme rantai makanan. Dengan rantai makanan manusia dan makhluk hidup yang lain dapat survive. Alam mempunyai energi yang luar biasa dalam menghancurkan segala sesuatu dan menyediakan segala sesuatu. Pada saat rantai makanan terganggu maka akan timbul keseimbangan baru.

Terhadap sampah plastik yang dengan massive ditampung di laut, mesin alam melakukan kerjanya. Plastik-plastik tersebut digiling oleh alam menjadi bijih-bijih plastik dalam ukuran kecil. Bijih-bijih plastik  berwarna warni hasil penggilingan mengapung dalam air, sedangkan plastik-plastik yang belum digiling oleh alam melakukan 'kerja' nya terapung di laut membentuk 'benua' baru dan terserak di selokan-selokan, sungai-sungai, pantai, dan di mana saja 'mereka' nyaman bersandar, membawa masalah tersendiri. Plastik-plastik tersebut harus antri beratus tahun bahkan beribu tahun untuk digiling oleh alam, dijadikan bijih plastik.

Yang mendapat giliran pertama digiling menjadi bijih plastik adalah limbah plastik ramah lingkungan. Walau ramah lingkungan tetap saja menyisakan bijih plastik yang mengapung dalam air, bukan lenyap tak berbekas.

Beberapa waktu lalu ramai diberitakan, ditemukan ikan hiu mati dan di perutnya terdapat bermacam-macam barang berbahan plastik yang masih dapat dikenali bentuknya, antara lain sandal.

Pertanyaannya, ke mana bijih-bijih plastik hasil penggilingan alam? Apakah lenyap tak berbekas begitu saja? Ternyata bijih-bijih plastik tak dapat dihancurkan oleh bakteri pembusuk dalam rantai makanan, tapi menjadi santapan ikan dan hewan-hewan lainnya, yang akhirnya sebagian dari mereka masuk ke dalam perut  manusia. Manusia dipacu oleh keinginan dan gagal menata hati, sekarang kita mulai merasakan akibatnya: bumi semakin terasa panas, perubahan iklim semakin ekstrim, cuaca berubah-ubah tak menentu, banyak penyakit degeneratif dan penyakit baru bermunculan, semua berbalik karena ulah manusia.

Siklus San Cai, tiga entitas saling terhubung antara Tian, alam, dan manusia bekerja berkesinambungan. Sampai nanti manusia sebagai bagian dari alam mungkin musnah karena egoisme dan kebodohannya sendiri maka siklus San Cai terhenti dan kembali pada hukum mutlak, yin yang sebagai hukum Tuhan yang bekerja tiada henti secara dinamis mencari keharmonisan dan ke seimbangan baru.

Banyak hal yang memiriskan hati akibat ulah manusia sebagai makhluk termulia yang gagal mengendalikan nafsu dan menggemilangkan kebajikan agar senantiasa tengah-harmonis (zhong he) yang dibahas dalam buku tersebut, misalnya penebangan hutan, pembangunan pemukiman, peptisida, pembuatan bendungan, pemeliharaan sapi yang berakibat efek rumah kaca, polusi kendaraan, dan banyak lagi. Sampai akhirnya penulis buku sampai pada kesimpulan bahwa dunia akan lebih baik tanpa manusia. Pohon-pohonan akan bebas tumbuh, hewan-hewan akan bertahan dengan tanpa terganggu dan hukum alam akan berlaku.

Tak banyak yang dapat dilakukan oleh saya dan Anda yang terus bangga mengklaim sebagai makhluk termulia di antara makhluk-makhluk lainnya. Saat kita tidak mampu menjaga nafsu kita berada dalam batas tengah, saat kita gagal mengendalikan nafsu, kita tak lebih mulia dari yang lain.

Hidup bukanlah tentang menguasai, hidup adalah tentang bagaimana harmonis dengan sesama manusia, dengan alam, dengan binatang, dengan pepohonan dan dengan Tuhan kita.

Banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai rakyat biasa, semisal mengurangi penggunaan plastik dengan membawa botol minum berisi air segar. Mengurangi minum-minuman dalam botol plastik, memilah sampah, menghindari penggunaan styrofoam,  tidak membuang sampah sembarangan atau tidak makan kambing batibul. Sesederhana pesan ilahi dari para nabi dan guru bijak agar tidak menjala ikan dengan jala yang terlalu rapat, tidak memotong pohon sebelum waktunya atau tidak makan hewan yang masih terlalu muda dan untuk menjaga hati dengan mengurangi keinginan.

Saya sering kali lalai memahami dan menerapkan inti dari pesan sederhana tersebut.  Entah dengan Anda. (US)

Mengzi IIIB: 35
Zhongyong U: 4-5

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU