DISKUSI PENDALAMAN KITAB SISHU WUJING (DISPENKASI)

Salam Kebajikan,

Saat ini saya bersama Ws. Budi Suniarto, Dq. Peter Lesmana, Dq. Jeanny Sun, dan Dq. Agnes A. sedang dalam perjalanan menuju ke Villa Camp David Resort di Cipanas Puncak untuk mengikuti acara Diskusi Pendalaman Kitab Suci (Dispenkasi) ke XXXII, sebuah acara Diskusi Keagamaan yang diselenggarakan secara bergiliran dan mandiri oleh Pemuda Agama Khonghucu Indonesia (PAKIN) di Jawa Barat.

Dispenkasi telah mengalami metamorfosis bentuk sejak pertama kali diselenggarakan tahun 1989. Pada waktu diselenggarakan pertama kali di Karawang, para pemuda membawakan makalah mewakili PAKIN masing-masing, satu PAKIN bisa mengirimkan lebih dari satu tim, masing-masing tim terdiri atas tiga orang.

Setelah itu, format Dispenkasi mengalami perubahan beberapa kali, di antaranya peran narasumber semakin besar, para pemuda lebih banyak menjadi pendengar, lalu mulai diperkenalkan study kasus dan dilakukan permainan, dan bentuk-bentuk lain dengan tema yang terus berkembang, dari membahas satu istilah dalam kitab yaitu mengenai pengembangan diri, pembinaan diri dan pembaharuan diri di Karawang, Tempat Hentian di Ciamis, dan Bakti di Bandung pada saat Dispenkasi 1, 2 dan 3 hingga pada Dispenkasi 30, 31 dan 32 masing-masing mengambil tema 'Pegang Teguhlah Cita Jangan Mengumbar Semangat' diselenggarakan oleh PAKIN Bandung, 'Menjadi Besar Butuh Banyak Proses' diselenggarakan oleh PAKIN Depok dan sekarang PAKIN Tangerang mengambil tema 'Infinity' yang terinspirasi dari film Avengers: Infinity War.

Saya teringat, awal mula ide Dispenkasi terlontar adalah pada saat anjangsana PAKIN Bandung ke Karawang tahun 1989. Ketika itu, saat kebaktian bersama setelah dilaksanakan pertandingan olahraga antar PAKIN Bandung dan PAKIN Karawang, Pak Eddy Rhinaldi (Ong Tjin Tie) almarhum dari MAKIN Bandung melontarkan 'tantangan' pada MAKIN Karawang agar dapat dilaksanakan kegiatan Pemuda yang serius, berupa diskusi agama bukan hanya kegiatan hura-hura. Pak Kunsu Wong Jaya (Wong Tian Tek) almarhum dari MAKIN Karawang menyambut gagasan itu dan memberikan 'tantangan' balik agar gagasan itu dilaksanakan bukan cuma wacana.

Maka dibentuklah kepanitiaan bersama PAKIN Bandung (SC) dan PAKIN Karawang (OC) untuk penyelenggaraan Diskusi serius para pemuda, Karawang bersedia menjadi tuan rumah. Direncanakan penyelenggaraan setiap 6 bulan. Jadilah Diskusi Serius para pemuda tersebut diselenggarakan dan atas saran Dq. Peter Lesmana dalam berita di MIDK Genta Rohani dinamakan sebagai Dispenkasus. Akhirnya kegiatan tersebut berubah nama menjadi Dispenkasi, diselenggarakan secara bergantian oleh PAKIN-PAKIN yang berada di Jawa Barat dan telah memasuki tahun ke 30. Sekarang Dispenkasi secara rutin diselenggarakan satu tahun satu kali dan diikuti oleh PAKIN-PAKIN dari seantero nusantara.

Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi muda dan tidak lagi menjadi seorang peserta dari PAKIN, tahun ini saya hadir dalam Dispenkasi ke 32 sebagai salah seorang narasumber. Telah beberapa kali saya menjadi peserta, telah beberapa kali saya membuka acara Dispenkasi dan telah beberapa kali pula saya dipercaya menjadi narasumber.

Begitulah kehidupan berjalan. Generasi berganti, ada benih yang menjadi bunga, ada yang layu sebelum menjadi bunga. Ada bunga yang menjadi buah, ada pula yang gugur diterjang kehidupan.

Setiap generasi mempunyai karya sendiri.

Setiap masa mempunyai gaya masing-masing.

Semua memberi makna.

Teruslah berkarya.

Semoga gagasan almarhum Pak Eddy dan Pak Wong agar dapat terselenggara kegiatan pemuda yang serius tak kehilangan spirit awal. Setiap jaman menghadirkan tantangan sendiri yang perlu disikapi dengan bijaksana. Semoga semakin banyak bibit tumbuh berkembang menjadi buah-buah ranum dan sehat yang dapat berkontribusi bagi kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia. (US)

Ditulis saat bermacet ria dalam perjalanan menuju Dispenkasi ke 32, 19-21 April 2019.

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU