PEMILU, LGBT, GENDER, DAN PUNCAK KEBAIKAN



Salam Kebajikan,

Ada tiga kegiatan yang saya lakukan pada hari ini dalam peran yang berbeda. Yang pertama, sebagai Pembina KBMK, saya diminta oleh KBMK Untar untuk menjadi pengisi Kelas Kebajikan yang dinamakan Ming De.

Ming De adalah kebaktian mini di kampus yang berisi persembahyangan, doa pembuka dan penutup serta ceramah atau diskusi agama yang diikuti oleh para mahasiswa Khonghucu di Universitas Bina Nusantara Kampus Syahdan dan Kampus Alam Sutera, Kampus Universitas Tarumanagara dan Kampus Universitas Gunadarma. Ming De diadakan setiap hari Jumat antara pukul 11.00–13.00 di kampus-kampus tersebut.

Ming De pertama kali diadakan oleh KBMK Universitas Bina Nusantara di Ruang L3A Kampus Syahdan. Tahun ini kepengurusan KBMK Binus telah memasuki periode ke 8. Ming De lebih kurang telah memasuki tahun ke-8 atau ke-9.

Setelah memimpin persembahyangan dan doa, siang tadi saya mempersilakan mahasiswa yang hadir untuk bertanya tentang apa saja. Dalam Ming De Universitas Tarumanagara kali ini ada dua pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa, yaitu mengenai Pemilihan Umum dan LGBT.

Dalam hal Pemilu saya mengingatkan mahasiswa agar sebagai umat Khonghucu menggunakan kacamata yin yang, jangan hitam putih dan tidak ikut-ikutan menggunakan sebutan binatang seperti cebong dan kampret yang sama saja merendahkan harkat martabat manusia. Saya mengingatkan mahasiswa pentingnya sikap tengah, tahu kebaikan dari apa yang kita benci dan tahu keburukan dari apa yang kita cintai. Politik jangan sampai memecah belah pertemanan, persahabatan, terlebih lagi ikatan keluarga. Sikap Tengah bukan berarti tidak berprinsip.

Menanggapi mengenai LGBT, saya mengingatkan pentingnya pengetahuan sejarah, antropologi dan sosiologi dalam menafsirkan suatu ayat dalam kitab suci, hal ini berkaitan dengan ayat dalam Yijing yang mengatakan tiada yang tetap di dunia ini kecuali perubahan dan ayat tugas laki-laki di luar dan tugas perempuan di dalam.

Pandangan mengenai LGBT bisa saja ada perbedaan antara pandangan saya dengan pandangan tokoh atau rohaniwan Khonghucu lain. Bagi saya secara prinsip seorang LGBT sama dengan laki-laki dan perempuan telah memperoleh anugerah watak sejati dan nafsu. Bila seorang LGBT banyak berbuat kebajikan apalagi dengan tulus, penuh iman dan mampu mengendalikan nafsu, dia bisa Pei Tian.

LGBT perlu dibedakan menjadi dua, yaitu yang memang telah terlahir seperti itu dan yang pernah mengalami trauma sehingga dia menjadi seperti itu. Walau bagaimanapun mereka adalah manusia ciptaan Tuhan, sama seperti kita dan kita harus memperlakukan mereka sebagai sesama manusia, yaitu dengan cinta kasih dan kebijaksanaan. Tak layak kita berlaku beda pada mereka, apalagi merendahkan. Namun demikian ada hal-hal tertentu dalam kaidah agama yang tak bijak juga dilanggar, karena akan menimbulkan gesekan atau pertentangan atau tak sesuai dengan kaidah agama yang diyakini, misal dalam hal perkawinan sesama jenis.

Dalam masalah gender saya berpendapat laki-laki dan perempuan begitu pula para LGBT itu setara, tapi tidak sama. Dalam kacamata yin yang kesetaraan itu nampak nyata. Setara bukan berarti sama. Antara yin dan yang setara, tapi tidak sama. Begitu pula berdasarkan hasil scan otak, laki dan perempuan itu berbeda, tapi setara.

Masing-masing gender mempunyai keistimewaan. Maka dalam hal kesempatan, misal kesempatan kerja, mereka harus mendapat kesempatan sama. Tak boleh ada pembatasan atau pembedaan kesempatan pada salah satu gender. Mereka yang menentukan pilihan karir atau pekerjaan apa yang mereka akan ambil. Karena perbedaan inilah mengapa ada bidang pekerjaan tertentu lebih banyak perempuan yang terlibat, tapi dalam bidang pekerjaan lain lebih banyak pria yang memilih untuk melakukannya.

Dalam hal hubungan antara laki-laki dan perempuan, misal dalam hal perkawinan di zaman modern ini yang telah mengubah peran perempuan dalam rumah tangga, dari peranan tradisionalnya semata berperan 'di dalam' menjadi berperan juga 'di luar', antara pasangan harus berbicara dan tidak saling memaksa. Pasangan perlu memahami mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan dalam kaidah agama dan ilmu pengetahuan, personality, dan bahasa kasih masing-masing agar dapat mengarungi rumah tangga dengan harmonis. Dalam agama Khonghucu dengan mengenal manusia, kita akan mengenal Tuhan.

Setelah selesai Ming De, saya melanjutkan kegiatan sosial keagamaan saya dengan menjadi hakim adhoc Perhimpunan Advocat Indonesia (Peradi) di Slipi. Hari ini Sidang Etik ditunda karena Ketua Majelis berhalangan hadir.

Setelah selesai menjalankan tugas di Peradi, saya pergi ke toko kue dekat rumah, untuk membeli kue ulang tahun karena Raihan, anak ke-3 berulang tahun ke 16 tahun. Sesampai di rumah sekitar pukul 17.15, langsung memesan makanan untuk merayakan ulang tahun Raihan.

Setelah mandi, kami mempersiapkan peralatan dan sajian sederhana untuk bersembahyang dan berdoa, mengucap syukur dan memanjatkan harapan di pesta ulang tahun. Setelah itu kami memasang lilin di kue ulang tahun, menyanyikan lagu ulang tahun, memotong kue dan berfoto bersama, Acara ditutup dengan makan bersama. Kami tidak meniup lilin ulang tahun dan membiarkan lilin mati atau habis dengan sendirinya. Tradisi ulang tahun seperti ini telah dijalankan dalam keluarga, sejak anak-anak kecil.

Masing-masing keluarga mempunyai tradisi masing-masing. Waktu terus berjalan, anak-anak beranjak remaja dan dewasa, mungkin situasi dan kondisi berubah, bisa saja tradisi ini akan mengalami perubahan. Apa yang baik tentu perlu diteruskan, selagi masih dapat dilakukan. Hal terpenting dalam tradisi keluarga kami adalah ada nilai-nilai kebajikan yang ingin ditanamkan.

Bagaimanapun, keluarga memegang peranan penting dalam membangun masyarakat, negara dan dunia yang lebih baik.

Begitulah, hari ini saya menjalankan beberapa peran saya, tentu saja saya berkewajiban menjalankan peran saya sebaik mungkin, dalam puncak kebaikan. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU