SEMBAHYANG DAN DOA

Salam Kebajikan,

Sembahyang dan doa menduduki tempat paling inti dari suatu agama. Dalam ilmu Antropologi, suatu ajaran dikatakan sebagai agama bila mengandung dua hal: Ajaran dan Ritual. Kitab Liji dengan tegas menekankan sembahyang adalah pokok agama.

Dalam agama Khonghucu, sembahyang dan doa adalah dua 'kegiatan yang berbeda'. Sembahyang biasanya dilakukan mendahului doa. Dalam sembahyang disiapkan perlengkapan dan sajian. Setelah persembahyangan dilakukan dengan segala tata caranya berdasar tata susila dan kesungguhan hati yang meraga dalam gerak berirama, doa dinaikkan untuk menyatakan harapan, 'keluhan' dan prasetya. Teks doa dituliskan dalam biao wen, setelah dibacakan, biao wen disempurnakan dengan cara dibakar.

Begitulah, persembahyangan dan doa akan bermakna lebih dan diterima oleh Tian dan shen saat pancaran kebajikan keluar dari batin tempat Tian Ming bersemayam. Maka persembahyangan dan doa dilakukan dengan dipenuhi cheng (iman, tulus), xin (percaya), zhong (satya), dan jing (hormat, sujud), bukan dilakukan dengan sembarangan.

Tak heran persembahyangan dan doa didahului dengan membersihkan diri dan membersihkan hati. Kalau mempunyai tekad ingin mencapai sesuatu, persembahyangan didahului dengan zhai (puasa, berpantang). Zhai dilakukan dengan kesungguhan hati, tidak sembarangan. Bahkan untuk menjaga agar tekad menjadi penuh, dalam melakukan zhai tidak mendengarkan musik (yang dapat menggoyahkan tekad karena perasaan terpengaruh, nafsu terusik). Tak heran pula bila persembahyangan dilaksanakan dengan berpakaian lengkap (setidaknya rapi dan bersih). Dengan demikian yang ada dalam batin seirama dengan apa yang nampak. Suci dan bersih dalam batin, suci dan bersih diluar. Klop, selaras dan harmonis.

Sempurnanya persembahyangan akan menjalin sepuluh hubungan. Hubungan vertikal yang diejawantahkan dalam hubungan horisontal. Persembahyangan dan doa mengandung nilai religius, filosofis dan etis.

MATAKIN sebagai kelembagaan agama Khonghucu yang telah lama berdiri, berupaya melakukan pembinaan dan pelayanan bagi umat Khonghucu di Indonesia, tak terkecuali dalam persembahyangan dan doa. Tata cara persembahyangan telah dilakukan upaya-upaya penyesuaian dan penyeragaman. Panduan doa bagi rohaniwan dan umat dirumuskan dan dicetak serta disebarkan ke seantero nusantara.

Umat Khonghucu di Indonesia mempunyai standar tertentu dalam kata dan kalimat doa yang bersumber dari Sishu Wujing. Salah satu kalimat standar adalah "Dijauhkanlah hati kami dari keluh gerutu kehadapan Tian, sesal penyalahan terhadap sesama manusia". Satu kalimat harapan dan prasetya dalam kalimat "negatif" yang bertujuan baik. Dalam hampir setiap doa yang dipanjatkan, kalimat ini menjadi kalimat 'sakti'.

Pertanyaannya apakah harapan dan prasetya kita benar-benar mewujud dalam hati dan pikiran kita sehingga kita benar-benar tidak berkeluh gerutu pada Tian, tidak sesal penyalahan pada sesama? Kalau tidak, artinya kita telah mengingkari harapan dan prasetya kita pada Tian dan shen yang semestinya diwujudkan dengan tekad yang kuat dalam setiap kata dan perbuatan kita. Saat kita akan berkeluh gerutu pada Tian, sesal penyalahan pada sesama manusia, kita harus selalu ingat pada doa yang kita ucapkan.

Xie Tian Zhi En, saya terus berupaya agar apa yang diucapkan dalam doa tidaklah hanya menjadi untaian kata indah yang enak didengar, tapi menjadi pedoman dan wajib diwujudkan dalam saya berperilaku sehingga doa, perkataan dan perbuatan klop, selaras dan harmonis. Saya akan terus berupaya dengan segenap hati karena 'Yakin Tian senantiasa menilik, membimbing dan menyertai' selalu diucapkan di penghujung doa. Saya tak berani tidak berupaya karena Tian terus menilik. Memang tak mudah, apalagi lingkungan tempat saya dan Anda tinggal sekarang ini lebih banyak negatif dibanding positif.

Ya mau bagaimana lagi, saya beragama Khonghucu. 

Demikianlah yang sebaik-baiknya. Shanzai. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU