BELAJAR 學

Salam Kebajikan,

Dalam Si Shu Wu Jing, belajar bukan dimaksudkan sekedar mempelajari kitab-kitab atau buku-buku (mencukupkan pengetahuan) belaka, tetapi yang lebih penting adalah kemampuan untuk menjadikan pengetahuan hasil belajar menjadi sarana untuk perbaikan, pembaharuan dan Pembinaan diri. Disamping dari kitab-kitab dan buku-buku, belajar juga didapat dari kehidupan serta pengalaman manusia (rohani dan jasmani). 

Hal yang perlu dibenahi pertama kali dalam belajar adalah sikap mental dalam belajar. Mari kita renungkan sikap mental belajar yang perlu ditumbuhkan dan ayat-ayat yang terkait:

1. Niat yang benar dalam belajar
Hal pertama yang perlu kita luruskan dalam belajar adalah niat. Coba bandingkan antara niat seorang mahasiswa yang ingin dapat lulus dengan baik dengan niat seorang mahasiswa yang ingin membalas budi kedua orang tuanya dengan belajar sebaik mungkin. Niat yang benar menghasilkan kekuatan berbeda dalam hal belajar.Nabi bersabda, “Jaman dahulu orang belajar bertujuan membina diri. Sekarang orang belajar bertujuan memperlihatkan diri kepada orang lain.” [1]

Nabi bersabda, “Aku tidak menggerutu kepada Tian, tidak pula menyesali manusia.Aku hanya belajar dari tempat yang rendah ini, terus maju menuju tinggi. Tian-lah mengerti diriku.” [2]

Zengzi berkata, “Seorang siswa tidak boleh tidak berhati luas dan berkemauan keras, karena beratlah bebannya dan jauhlah perjalanannya.Cinta kasih itulah bebannya, bukankah berat?Sampai mati barulah berakhir, bukankah jauh?” [3]

Zeng Zi berkata, “Seorang Junzi menggunakan pengetahuan Kitab untuk memupuk persahabatan dan dengan persahabatan mengembangkan Cinta Kasih.” [4]

2. Suka belajar
Suka belajar sangat dipentingkan oleh Nabi untuk mampu menyempurnakan Dao, bahkan lebih jauh dikatakan hanya orang yang suka belajar sajalah yang mampu memuliakan Dao hingga matinya.
Nabi bersabda, “Hanya orang yang benar-benar dengan penuh kepercayaan suka belajar, baharulah dapat memuliakan Jalan Suci hingga matinya.” [5]

Zi Xia berkata, “Beratus tukang dengan bekerja keras barulah dapat menyempurnakan hasil; seorang Junzi dengan belajar barulah dapat mencapai Jalan Suci.” [6]

Nabi bersabda, “Belajar dan selalu berlatih, tidakkah itu menyenangkan?Kawan-kawan datang dari tempat jauh, tidakkah itu membahagiakan?Sekalipun orang tidak mau tahu, tidak menyesali; bukankah ini sikap seorang Junzi?” [7]

Nabi bersabda, “Seorang Junzi, makan, tidak mengutamakan kenyangnya, bertempat tinggal tidak mengutamakan enaknya, ia tangkas di dalam tugas dan hati-hati di dalam kata-kata.Bila mendapatkan seorang yang hidup di dalam Jalan Suci, ia menjadikan teladan meluruskan hati.Demikianlah seorang yang benar-benar suka belajar. [8]

Nabi bersabda, “Orang yang setelah belajar tiga tahun tanpa sedikitpun mengingat akan hadiah, sesungguhnya jarang didapat.” [9]

Zi Gong bertanya, “Mengapakah Kong Wenzi 孔文子diberi gelar Wen (Pujangga)?” Nabi menjawab, “Ia seorang yang pandai, tetapi suka belajar dan tidak malu bertanya sekalipun kepada bawahannya. Maka ia diberi gelar Pujangga.” [10]

Nabi bersabda, “Tiap kali jalan bertiga, niscaya ada yang dapat kujadikan guru, Kupilih yang baik, kuikuti dan yang tidak baik, kuperbaiki.” [11]

Zi Xia berkata, “Seorang yang tiap hari dapat mengetahui pelajaran-pelajaran yang belum dipahami dan tiap bulan tidak melupakan pelajaran-pelajaran yang sudah dipahami, ia boleh dikatakan suka belajar.” [12]

Nabi bersabda, ”Aku bukanlah pandai sejak lahir, melainkan Aku menyukai ajaran-ajaran kuno dan dengan giat mempelajarinya.” [13]

3. Berusaha menepati kedudukan/predikat
Belajar di dalam agama Ru – Khonghucu sangat erat kaitannya dengan menepati dan memuliakan hubungan kemasyarakatan.Membina diri dimulai dari diri sendiri sampai kepada masyarakat, negara bahkan dunia.Karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu dengan lainnya, maka pembinaan diri dimaksudkan agar tercipta keharmonisan antar sesama sehingga berlaksa perkara dapat terselenggara dengan baik.Sebaliknya, hubungan antar sesama yang tidak harmonis menjadikan berlaksa perkara menjadi kacau.

Zi Xia berkata, “Orang yang dapat menjunjung kebijaksanaan lebih dari keelokan, melayani orang tua dapat mencurahkan tenaganya, mengabdi kepada pemimpin berani berkorbanbergaul dengan kawan dan sahabat kata-katanya dapat dipercaya, meskipun dikatakan ia belum belajar, aku akan mengatakan ia sudah belajar. [14]

Nabi bersabda, “Seorang muda, di rumah hendaklah berlaku Baktidiluar hendaklah bersikap Rendah Hatihati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada masyarakat dan berhubungan erat dengan orang yang berperi cinta kasih. Bila telah melakukan hal ini dan masih mempunyai kelebihan tenaga, gunakanlah untuk mempelajari kitab-kitab.” [15]

Selanjutnya adalah mengetahui prinsip-prinsip belajar seperti yang dituntunkan dalam ayat-ayat berikut ini:
Nabi bersabda, “Belajar tanpa berfikir, sia-sia; berpikir tanpa belajar, berbahaya!” [16]

Zi Zhang ingin belajar cara mendapatkan kedudukan. Nabi bersabda, “Banyaklah mendengarsisihkan hal yang meragukan dan hati-hatilah membicarakan hal itu. Dengan demikian akan mengurangi orang lain menyalahkanBanyaklah melihat, sisihkan hal-hal yang membahayakan dan hati-hatilah menjalankan hal itu. Dengan demikian akan mengurangi kekecewaan sendiri. Dengan pembicaraan tidak banyak mengandung kesalahan dan perbuatan tidak banyak menimbulkan kekecewaan, disitulah terletak rahasia kedudukan.” [17]

Nabi bersabda, “Seorang Junzi meluaskan pengetahuan dengan mempelajari Kitab-kitab dan membatasi diri dengan Kesusilaan. Dengan demikian ia tidak sampai melanggar Kebajikan.” [18]

Nabi bersabda, “Di dalam diam melakukan renunganbelajar dengan tidak merasa jemu, dan mengajar orang lain tidak merasa capai, adakah itu di dalam diriku?” [19]

Nabi bersabda, “Di dalam belajar hendaklah seperti engkau tidak dapat mengejar dan khawatir seperti engkau akan kehilangan pula.” [20]

Nabi bersabda, “Yang dapat diajak belajar bersama, belum berarti dapat diajak bersama menempuh Jalan Suci; yang dapat diajak menempuh Jalan Suci, belum berarti dapat diajak bersama berteguh; dan yang dapat diajak bersama berteguh, belum berarti dapat bersesuaian paham.” [21]

Nabi bersabda, “Orang yang hafal luar kepala ke tiga ratus nyanyian dalam Shi Jing (Kitab Sanjak), tapi di dalam memangku jabatan Negara tidak dapat berhasil; diutus keluar negeri tidak dapat memberikan keterangan dengan tegas; sekalipun ia banyak belajar, apa gunanya?” [22]

Nabi bersabda, “Su, tentu engkau menyangka Aku banyak sekali belajar dan menghafal bukan?” “Ya bukankah begitu?” “Bukan, Aku berpegang pada satu yang menembusi semua.” [23]

Nabi bersabda, “Aku pernah sepanjang hari tidak makan dan sepanjang malam tidak tidur merenungkan sesuatu. Ini ternyata tak berguna, lebih baik belajar.” [24]

Zi Xia berkata, “Yang banyak-banyak belajar dan penuh semangat (cita), yang suka bertanya dan mawas diri, bertenggang rasa; cinta kasih sudah di dalamnya.” [25]

Nabi bersabda, “Suka belajar itu mendekatkan kita kepada Kebijaksanaan; dengan sekuat tenaga melaksanakan tugas mendekatkan kita pada cinta kasih dan rasa tahu malu mendekatkan kita kepada berani.” [26]

“Banyak-banyaklah belajar, pandai-pandailah bertanya, hati-hatilah memikirkannya, jelas-jelaslah menguraikannya dan sungguh-sungguhlah melaksanakannya.” [27]

“Memang ada hal yang tidak dipelajari, tetapi hal yang dipelajari bila belum dapat janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak ditanyakan, tetapi hal yang ditanyakan bila belum sampai benar-benar mengerti janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak dipikirkan, tetapi hal yang dipikirkan bila belum dapat dicapai janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak diuraikan, tetapi hal yang diuraikan bila belum terperinci jelas janganlah dilepaskan; dan ada hal yang tidak dilakukan, tetapi tetapi hal yang dilakukan bila belum sepenuhnya janganlah dilepaskan. Bila orang lain dapat melakukan hal itu dalam satu kali, diri sendiri harus berani melakukan seratus kali. Bila orang lain dapat melakukan dalam sepuluh kali, diri sendiri harus berani melakukan seribu kali. Hasil yang dapat dicapai dengan jalan ini, sekalipun yang bodoh akan menjadi mengerti, sekalipun yang lemah akan menjadi kuat.” [28]

Di bagian depan telah dijelaskan bahwa hanya orang yang benar-benar suka belajar mampu memuliakan Dao hingga akhir hayatnya. Pentingnya belajar bagi manusia dapat diilustrasikan hubungan antara air dengan ikan.Belajar sangat menentukan kualitas kehidupan seseorang.Berikut ini adalah ayat yang menjelaskan hal tersebut, termasuk kesedihan Nabi kepada orang yang tidak mau belajar.

Nabi bersabda, “Orang yang sejak lahir sudah bijaksana, inilah orang tingkat teratas. Orang yang belajar lalu bijaksana, ialah orang tingkat kedua. Orang yang setelah menanggung sengsara lalu insaf dan mau belajar, inilah orang tingkat ketiga.Dan orang yang sekalipun sudah menanggung sengsara, tetapi tidak mau insaf dan belajar, ialah orang yang paling rendah diantara rakyat.” [29]

Nabi bersabda, “Kebajikan tidak dibina, pelajaran tidak diperbincangkan, mendengar Kebenaran tidak dapat melaksanakan dan terhadap hal-hal yang buruk tidak dapat memperbaiki; inilah yang selalu menyedihkan hatiku.” [30]

Nabi bersabda, “Yu, pernahkah engkau mendengar tentang enam perkara dengan enam cacatnya?”
Dijawab, “Belum.” “Duduklah! Kuberitahu kamu. Orang yang suka cinta kasih tetapi tidak suka belajar, akan menanggung cacat bodoh. Yang suka Kebijaksanaan tetapi tidak suka belajar, akan menanggung cacat kalut jalan pikiran. Yang suka sifat dapat dipercaya tetapi tidak suka belajar, akan menanggung cacat menyusahkan diri sendiri. Yang suka kejujuran tetapi tidak suka belajar, akan menanggung cacat menyakiti hati orang lain. Yang suka sifat berani tetapi tidak suka belajar, akan menanggung cacat mengacau. Yang suka sifat keras tetapi tidak suka belajar, akan menanggung cacat ganas.” [31]

Dari ayat-ayat di atas, dapat kita simpulkan, di samping dari kitab-kitab dan buku-buku, belajar juga didapat dari kehidupan serta pengalaman manusia (rohani dan jasmani).

Seorang umat Ru-Khonghucu yang Junzi menjadikan semangat belajar terus bergelora dalam setiap langkah kehidupannya.

Dengan semangat belajar yang bergelora, seorang umat Ru-Khonghucu yang Junzi senantiasa merasa ‘hijau’ dan tidak pernah merasa ‘matang’. Seorang yang merasa diri hijau akan terus tumbuh berkembang. Orang yang merasa diri matang sebentar lagi ‘busuk’, digilas oleh perubahan yang terus berlangsung dalam kehidupan ini, tidak sesuai dengan prinsip ‘tiada yang tetap di dunia ini kecuali perubahan’ seperti tersirat dalam kitab Yi Jing. Maka disabdakan dalam Lun Yu, “Majunya seorang Junzi menuju ke atas, majunya seorang xiao ren (rendah budi) menuju kebawah.” [32]


[1] Lun Yu XIV:24
[2] Lun Yu XIV:35, 3
[3] Lun Yu VIII:7
[4] Lun Yu XII:24
[5] Lun Yu VIII: 14.1
[6] Lun Yu XIX: 7
[7] Lun Yu I : 1
[8] Lun Yu I:14
[9] Lun Yu VIII:12
[10] Lun Yu V:15
[11] Lun Yu VII:22
[12] Lun Yu XIX: 5
[13] Lun Yu VII:20
[14] Lun Yu I: 7
[15] Lun Yu I: 6
[16] Lun Yu II:15
[17] Lun Yu II:1
[18] Lun Yu VI:27
[19] Lun Yu VII:2
[20] Lun Yu VIII: 17
[21] Lun Yu IX: 30
[22] Lun Yu XIII:5
[23] Lun Yu XV: 3
[24] Lun Yu XV: 31
[25] Lun Yu XIX: 6
[26] Zhong Yong XIX:10
[27] Zhong Yong XIX: 19
[28] Zhong Yong XIX: 20-21
[29] Lun Yu XVI: 9
[30] Lun Yu VII:2
[31] Lun Yu XVII:8
[32] Lun Yu XIV: 23

Dikutip dari buku Hidup Bahagia dalam Jalan Suci Tian (2010) (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU