JANGAN GEGABAH DALAM MENGUBAH KEBIASAAN

Salam Kebajikan,

Beberapa tahun yang lalu, saya mengalami suatu kejadian sederhana yang penting dan berharga.

Pada waktu itu akan dilaksanakan sembahyang peringatan orang tua berpulang (coki). Saya melihat ada yang tidak seperti biasa dalam penempatan ayam shan sheng (sam seng). Maka dengan niat baik, saya ubah posisi ayam samseng tersebut menjadi seperti yang biasa saya lihat dalam upacara-upacara duka.

Tak berapa lama kemudian, ayam tersebut kembali seperti semula. Apakah ayam tersebut tiba-tiba hidup kembali dan berbalik? Tidak.

Alasan ayam kembali ke posisi awal karena papa dan mama mengajarkannya begitu dan ada cerita spiritual/mitos yang mendasari.

Saya memperoleh pelajaran untuk tidak gegabah terhadap suatu kebiasaan yang telah berlangsung lama.

Cerita di atas mempunyai jiwa yang sama dengan cerita yang pernah saya dengar.

Ada seorang ibu muda memasak terong, dia selalu memotong kedua ujung terong sebelum dia memasukkan ke dalam panci untuk memasak. Putrinya melihat kebiasaan sang ibu muda memasak menjadi penasaran, lalu bertanya kenapa ibu memotong kedua ujung terong. Sang ibu menjawab, "Nenek yang mengajarkan mama memasak terong seperti itu."

Penasaran dengan jawaban mamanya, ketika sang putri datang ke rumah nenek, kebetulan nenek sedang memasak terong, dan dia melihat nenek melakukan hal yang persis sama dengan apa yang dilakukan oleh mamanya. Maka putri dengan rasa penasaran bertanya pada nenek mengapa memotong kedua ujung terong. Sang nenek mengatakan, entah mengapa, nenek diajarkan memasak terong seperti ini oleh makco-mu.

Singkat cerita, pada saat xin nian tiba, sang ibu muda bersama putri merayakan xin nian dengan berkunjung ke rumah makco, untuk bersembahyang di altar leluhur dan mengucapkan selamat tahun baru pada makco dan kongco yang telah berusia lanjut di luar kota. Putri tidak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk memperoleh jawaban atas misteri memasak terong dipotong kedua ujungnya dari makco.

Setelah seluruh keluarga bersembahyang, mengucapkan selamat tahun baru, memberi penghormatan pada makco dan kongco dan yang belum menikah menerima angpao, acara dilanjutkan dengan berkumpul dan makan bersama. Pada kesempatan itulah putri bertanya pada makco mengenai rahasia terong.

Jawaban makco sungguh mengejutkan putri, ternyata rahasia memasak terong dipotong kedua ujungnya dimulai dari makco. Makco mengatakan bahwa dulu dia mempunyai panci berukuran kecil sehingga harus memotong kedua ujung terong agar dapat dimasak. 

Dari kejadian itulah, selama 3 generasi keluarga putri memasak terong dengan kedua ujung dipotong walaupun panci untuk memasak tidak lagi kekecilan.

Dua cerita di atas hanya contoh dari banyak kebiasaan dalam masyarakat yang dilaksanakan tanpa diketahui maksud apalagi asal-usulnya, boro-boro memeriksa. Begitulah kebanyakan orang, kata Mengzi dalam kitab Mengzi VIIA: 5.1. Tak banyak berbeda, kebanyakan orang sepanjang hidup mengikuti dao, tetapi tidak mengenal dao.

Tindakan saya yang sok tahu dengan membetulkan letak ayam sebetulnya tindakan kurang tepat karena dapat menimbulkan kesalahpahaman, bahkan dalam skala yang lebih besar dapat menimbulkan perselisihan di dalam masyarakat. Tindakan putri untuk mengetahui dari sumber yang tepat dalam urusan memasak terong adalah tindakan yang cukup tepat dan benar untuk menghilangkan rasa penasaran atas sesuatu yang tidak terlalu prinsipil.

Tidak setiap kebiasaan harus diketahui maksud dan asal-usulnya. Yang boleh biarlah dilaksanakan, yang tidak boleh biarlah diketahui begitu pesan Nabi dalam Lun Yu VIII: 9.

Hidup memang kompleks bukan hal sederhana dan tidak bisa disederhanakan. Manusia adalah makhluk rasional dan emosional. Tidak semua hal perlu dan bisa dirasionalisasi, misalnya agama. Dalam agama tak semua harus diketahui maksud dan asal-usulnya, berbeda dengan filsafat (Barat) yang mengajarkan kita untuk berpikir secara mendalam atau filsafat (Timur) yang dapat meningkatkan taraf jiwa dan mencapai super moral.

Agama Khonghucu walaupun mengandung filsafat, ada kepercayaan dan iman di dalamnya. Maka tidak semua hal dalam agama Khonghucu perlu dicarikan jawabannya secara filosofis, tak terkecuali dalam peribadahan. Dalam contoh di atas, posisi ayam samseng berbeda dan masing-masing mempunyai alasan. Hanya alasan yang saya tahu bersifat filosofis, alasan ayam itu dikembalikan ke posisi semula karena alasan 'begitu yang diajarkan orang tua' yang di dalamnya mengandung alasan religius dan spiritual berkaitan dengan arwah leluhur. Sayangnya saya tak bisa menanyakan langsung kepada orang tua seperti putri menanyakan mengenai terong karena orang tua telah berpulang, lagipula kalaupun saya tahu jawabannya, belum tentu saya dapat mengubah kebiasaan tersebut yang telah berlangsung lama. Pada kenyataannya cici saya sangat memegang teguh tata cara persembahyangan yang telah diajarkan papa dan mama dan menjalankannya dengan tulus dan penuh kepercayaan yang teguh. Beruntung saya hanya mendapat omelan kecil atas perilaku saya yang gegabah.

Ada banyak kejadian yang mirip dengan kedua cerita ini, tapi menimbulkan perselisihan dan permusuhan karena sikap yang gegabah dan kurang bijaksana.

Saya perlu berhati-hati dan tidak gegabah dengan pengetahuan dan keyakinan saya. Saya rasa Anda pun demikian. Saya dan Anda perlu menempatkan diri dalam posisi orang yang mau diubah.

Saya dan Anda perlu berpegang pada Shu (tepasalira), agar tidak bertindak gegabah. Kita perlu toleran dalam hal-hal yang tidak prinsipil, kita pun perlu bijaksana dalam memperbaiki atau mengubah hal-hal yang kita anggap sangat prinsipil tetapi telah menjadi kebiasaan. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU