JING-ZUO 靜坐 (1)

Salam Kebajikan,

Jing-zuo (duduk hening/diam) atau meditasi di dalam agama Ru-Khonghucu termasuk salah satu sarana dalam usaha pembaharuan dan pembinaan diri, yang meliputi pengheningan cipta/duduk diam/renungan/meditasi, mawas diri serta berpantang dan bersuci.

Mengetahui apa yang harus didahulukan itu penting. Benda memiliki akar dan cabang. Akar dari semua kebijaksanaan muncul ketika kita mengkondisikan pikiran dan perasaan kita menjadi tulus dan penuh iman. Titik tolak yang utama ini membawa kita kembali ke pikiran dan hati kita sendiri. Jing-zuo menawarkan sebuah jalur.

Umat Ru-Khonghucu percaya bahwa jalur yang sejati adalah melalui rutinitas dan hubungan kita sehari-hari.

Jing-zuo membawa kita memusatkan diri sehingga kita dapat dengan tajam membedakan semua pengalaman kita dan dari situ mengerahkan kualitas terbaik. Ketika kita menjadikan persepsi lebih sensitif, menajamkan pemrosesan mental, serta mengembangkan kesadaran, keseluruhan pribadi kita pun mengalami perubahan.

Dengan mengolah diri, kita menempuh Dao yang sama dengan para Nabi dan para Bijak dari jaman dahulu. Pengolahan diri dimulai dari pengolahan pikiran yang mengalir di dalam kehidupan sehari-hari. Jing-zuo dapat membantu kita mengembangkan ketenangan batin dan kemampuan mental.
Dengan pikiran yang jernih dan mampu membedakan, kita dapat menetapkan pilihan yang bijaksana dan menjalankannya.

Dalam agama Ru-Khonghucu, jing-zuo seyogianya hanya dilakukan ketika kita tidak dibebani oleh hal lain yang harus kita lakukan. Jing-zuo tidak boleh menjadi pembenaran bagi kita untuk mengabaikan pekerjaan, teman, atau keluarga. Jika kita memiliki sejumlah waktu tanpa dibebani tugas, betapapun singkatnya waktu itu, kita akan merasakan betapa sangat bermanfaatnya jing-zuo.
Jing-zuo menawarkan suatu kesempatan untuk mengumpulkan kembali diri kita yang mungkin tercerai berai karena sejumlah hal, kita menata pikiran sehingga dapat menyisihkan gagasan yang berlebihan.

Bentuk jing-zuo ini tidak mematikan pikiran, bahkan mengumpulkan pikiran kita sehingga tidak menjadi morat-marit dan membuat kita tidak perlu menghadapi gangguan yang tidak relevan.
Dalam jing-zuo kita dapat mengembangkan suatu pusat yang stabil dan tenang. Pikiran kita menjadi lebih bening dan tidak banyak mengalami gangguan. Dari jing-zuo kita meningkatkan konsentrasi, sehingga kita dapat memusatkan perhatian dengan lebih baik ketika kita ingin melakukan sesuatu atau mempelajari sesuatu bahkan ketika kita tidak ingin melakukan sesuatu atau tidak ingin mempelajari sesuatu. Kita bahkan dapat meningkatkan ingatan kita. Praktik ini sehat, menyegarkan dan memberi gizi bagi hati dan pikiran.

Pada awalnya, mengumpulkan pikiran tidaklah selalu mudah dilakukan. Salah seorang murid Zhu Xi mengeluh, “Setiap hari, di saat senggang, saya mempraktekkan Jing-zuo sebentar untuk memberikan gizi kepada pikiran, tetapi saya justru merasakan semakin banyaknya gagasan yang meluber. Semakin saya berusaha hening, semakin tidak tenang pula saya jadinya!”

Zhu Xi memberitahu muridnya agar menyadari bahwa pikiran secara alami memang aktif. Murid itu diperintahkan untuk tidak mencoba menghentikan pikiran sepenuhnya. Jika ia melakukannya, dapat timbul kemandekan mental. Yang penting adalah tidak berpikir sembarangan.

Wang Yang Ming memberi nasihat serupa pada seorang murid yang mencoba menenangkan pikiran, “Bagaimana mungkin pikiran dapat dihentikan? Yang dapat dilakukan hanyalah meluruskannya.” 


Sumber: Matakin, Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu, dan C. Alexander Simpkins and Annellen Simpkins, Simple Confucianism, Tuttle Publishing, Boston.

Zhu Xi (1130–1200M), Wang Yang Ming (1472–1529 M) dan Cheng Hao (1032–1085 M) adalah tokoh-tokoh Dao Xue Jia 道學家 atau lebih dikenal oleh orang Barat sebagai Neo Confucianism.

Dikutip dari buku Hidup Bahagia dalam Jalan Suci Tian (2010) (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU