MENGENDAPKAN KARAKTER BURUK DAN BERLATIH FOKUS

Salam Kebajikan,

Dalam perkuliahan saya di beberapa universitas, saya selalu menekankan tiga aktivitas dasar dalam memahami, menghayati, mengimani dan mengaplikasikan agama Khonghucu, yaitu belajar, sembahyang, dan Jingzuo seperti saya pernah tuliskan pada beberapa tulisan dalam blog ini, di samping tentunya berolahraga dan merawat tubuh agar tubuh sehat. Dengan aktivitas-aktivitas ini, kita membentuk kehidupan yang sehat jasmani dan rohani.

BACA JUGA: JINGZUO

Salah satu aktivitas penting dari tiga aktifitas dasar yang harus dilakukan adalah Jingzuo. Jingzuo sudah saya tuliskan dalam tiga tulisan terpisah dalam blog. Mengajarkan dan mempraktekkan Jingzuo pada kenyataannya bukanlah perkara mudah, apalagi dalam dunia modern sekarang ini yang menjadikan 'bumi mengecil', serba instan dan banyaknya kemudahan sekaligus gangguan dengan adanya beragam media sosial. Jingzuo menjadi semakin penting agar kita tidak terhanyut dalam kegamangan informasi. Jingzuo begitu penting dalam era post truth sekarang ini.

Secara spiritual, Jingzuo menghubungkan kita pada dao para nabi dan pada puncaknya menghubungkan kita pada kebersatuan kita dengan Sang Asal. Hal spiritual bukanlah hal yang mudah untuk diajarkan dan dipahami oleh para mahasiswa yang terbiasa diajarkan berpikir dengan otak dan logika, maka perlu penyederhanaan pengajaran dengan istilah-istilah yang mudah dipahami. Itulah tantangan seorang pengajar agama di kampus. Tanpa metode pengajaran yang tepat, mata kuliah agama akan menjadi mata kuliah yang kering dan mahasiswa cenderung hanya mengejar nilai tanpa memperoleh manfaat dari apa yang dia pelajari, boro-boro menuntun mahasiswa menempuh dao seperti dimaksudkan dalam Zhongyong Bab Utama Ayat 1 'Bimbingan untuk menempuh dao, itulah jiao (agama).'

Manusia terlahir ke dunia memperoleh anugerah dari Tian berupa Xing (watak sejati, daya hidup rohani), dari Kun (Di) berupa Qing 情 (nafsu, perasaan, emosi, daya hidup jasmani), dan dari orang tua berupa Jing 精 (intisari, karakter asal). Karena Jing 精 inilah manusia bisa memiliki karakter asal yang mirip dengan orang tua, bisa saja karakter ini buruk. Jingzuo akan membantu mengendapkan karakter buruk, dengan demikian akan membantu manusia bermoral baik. Dengan moral baik maka manusia akan terhubung dengan dao para nabi dan terhubung dengan Tian, karena hanya kebajikan Tian berkenan. Jangan heran, bila orang yang belajar agama dan menguasai pengetahuan agama tanpa melakukan dua aktivitas dasar yang lain bisa saja perilaku moralnya tidak baik karena karakter buruknya tidak diendapkan.

Tidak mudah mengajarkan pentingnya Jingzuo. Maka saya mencoba mengajarkan Jingzuo sebagai sarana untuk belajar fokus. Di era internet yang membawa pada era post truth ini fokus sangat penting agar kita mempunyai hidup yang lebih bermakna. Agama Khonghucu mengajarkan hidup sepenuh hidup. Dalam bahasa gaul disebut work hard play hard. Bekerja keras bermain keras. Jadi artinya saat bekerja fokus pada pekerjaan, pada saat main fokus juga bermain, jangan saat bekerja dan bermain memikirkan hal-hal lain. Dengan fokus sepenuhnya mengerjakan sesuatu, kita akan melakukan yang terbaik, kita menjadi manusia yang Zhong (satya). Nabi memberi keteladanan dalam hal ini. Baca saja Lunyu VII: 19.

Dengan fokus pada apa yang kita lakukan, kita adalah manusia yang mempunyai kesadaran, dari kesadaran ini kita beroleh iman. Dalam dunia yang dipenuhi kesibukan sekarang ini, perlu saatnya berhenti, stop and think. Kata Steven Covey dalam bukunya yang fenomenal "7 Habits of Highly Effective People" kita perlu "Mengasah Gergaji".

Jadi pesan sederhana yang ingin disampaikan pada para mahasiswa adalah kebiasaan Jingzuo itu penting untuk belajar fokus. Maka biasakanlah Jingzuo. Kalau kebiasaan itu telah berjalan barulah para mahasiswa dapat dibimbing lebih lanjut pada aktivitas Jingzuo yang lebih wah.

Orang Jepang mempunyai satu istilah 'Ikkai ichi dousa' yaitu satu hal pada satu waktu. Dengan semangat ini, orang Jepang sangat menghargai dan fokus pada satu hal yang dikerjakan. Semua dilakukan dengan penuh perhatian dan rasa terima kasih.
Rajamuda negeri Ye 葉公 bertanya tentang Kong Zi 孔子 kepada Zi Lu 子路, tetapi Zi Lu tidak menjawab.

Ketika Zi Lu memberitahu, Kong Zi bersabda, “Mengapakah kamu tidak menjawab bahwa Dia adalah seorang yang di dalam kegiatanNya lupa akan makan, di dalam kegembiraanNya lupa akan kesusahanNya, dan tidak pernah merasa bahwa usiaNya sudah lanjut.”
—Lunyu VII: 19

Mari kita mulai belajar dan mengajarkan agama pada tujuan asal, yaitu membimbing manusia untuk menempuh dao. Bukan mengajar agama yang sekedar menjadi pengetahuan tanpa dipraktekkan. Sebagai dosen saya terus berusaha menjaga spirit ini, saya rasa para rohaniwan, guru dan setiap orang mestinya berusaha melakukan hal yang sama.

Tak mudah memang, tapi inilah yang perlu kita lakukan dalam belajar dan pengajaran agama, agar dapat menciptakan manusia-manusia sukses bermoral baik, karena dia menjadi manusia spiritual. (US) 19052019


Catatan: Menurut suhu Chew Kong Giok, disamping Jingzuo, berlatih Taiji dapat pula mengendapkan karakter buruk.

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU