MISI AGAMA (KHONGHUCU)

Salam Kebajikan,

Dalam beberapa kesempatan, kawan saya (pendeta dan ulama) bertanya apakah agama Khonghucu adalah agama misi? 

Beberapa tahun yang lalu saya jawab, “Bukan.” 

Lalu pak pendeta dengan entengnya mengatakan, kalau tak ada misi, terus kita ngapain? Ada benarnya juga.

Ketika itu saya berpikir, agama Khonghucu tidaklah mempunyai misi seperti agama-agama samawi (Islam, Kristen/Katolik, dan Yahudi) sehingga saya menjawab bukan.

Sejak ribuan tahun yang lalu, agama Khonghucu tidaklah disebarkan melalui kelembagaan agama yang terorganisir seperti gereja Katolik, tapi diajarkan melalui shuyuan, baik melalui keputusan politik negara maupun atas prakarsa para cendekiawan dan rohaniwan Khonghucu.

Maka tak heran beberapa ahli tentang Tionghoa seperti Leo Suryadinata (dan kebanyakan orang Tionghoa) mengatakan salah satu alasan bahwa Khonghucu bukan agama karena tidak diorganisir (tidak ada lembaga agama yang mengurusnya) dan di Indonesia Khonghucu menjadi agama karena ada organisasi Khong Kauw Hwee (MAKIN) dan Khong Kauw Tjong Hwee (MATAKIN). Satu kesimpulan yang salah kaprah.

Huston Smith dalam buku 'Agama-Agama Manusia' mengatakan—baik diartikan secara luas maupun secara sempit—ajaran Konfusius masih merupakan agama, walaupun agama yang diam. Kesimpulan ini pun muncul karena ajaran Khonghucu tidak diajarkan secara 'agresif' sebagai suatu agama misi oleh suatu organisasi, jika mengacu pada agama samawi.

Setelah saya membaca kembali kitab Sishu (dan Wujing) dan renungkan lebih mendalam, ternyata jawaban saya bahwa agama Khonghucu bukan merupakan agama misi adalah kurang tepat. Agama Khonghucu adalah agama misi, tetapi misi utamanya berbeda dengan agama misi yang selama ini kita kenal.

Sebagai seorang Tian Zhi Mu Duo (Genta Rohani Tian), Nabi Kongzi mempunyai misi untuk mengembalikan dunia ke dalam dao. Dao siapa? Dalam kitab Mengzi dikatakan bahwa misi Nabi Kongzi adalah mengembalikan dunia ke dalam dao yang diajarkan dan diteladankan oleh raja suci dan nabi purba serta tokoh-tokoh suci—seperti Yao, Shun, Yu, Wen, Wu, Zhou Gong, Yi Yin—yang mengajarkan dao yang satu dan bersumber dari Tian yang Maha Esa.

Misi kedua agama Khonghucu adalah seperti apa yang dikatakan oleh Mengzi, untuk mengajarkan sikap Tengah pada umat manusia. Sikap Tengah yang diajarkan sekali lagi merupakan sikap tengah yang telah diajarkan dan diteladankan oleh para raja suci, nabi purba dan tokoh-tokoh suci lain, yang kemudian disempurnakan oleh Nabi Kongzi. Sikap tengah yang diajarkan bukanlah sikap memegang satu haluan saja seperti diajarkan oleh Yangzi, Mozi, dan beberapa tokoh aliran lain.

Misi ketiga yang diemban adalah tercapainya perdamaian dunia. Misi ketiga dapat tercapai dengan melaksanakan kedua misi pertama dengan melalui pembinaan diri.

Dengan ketiga misi tersebut akhirnya akan tercapai misi ke empat, yaitu Tian Ren He Yi. Keharmonisan dan keselarasan Tian dan manusia, kebersatuan manusia dengan Tuhan.

Para tokoh agama Khonghucu meyakini misi ini adalah misi utama yang diemban dari Tian Yang Maha Esa. Cara untuk mencapai misi ini bisa saja berubah, termasuk melalui pelembagaan agama, tapi misinya tetap sama, tak berubah. Dengan kata lain, misi agama Khonghucu bukanlah sekedar labelisasi umat manusia sebagai 'beragama Khonghucu', tapi mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai makhluk pengemban Firman yang akan hidup dalam keharmonisan, perdamaian dan kebersatuan antara manusia dengan Tuhan hanya dengan  sikap Tengah, tidak berpegang pada satu haluan.

Dalam kondisi dunia sekarang ini yang dipenuhi dengan pemikiran hitam putih—atau dalam bahasa kitab sebagai sikap memegang satu haluan, yang menimbulkan banyak pertentangan, kebencian, ancaman, permusuhan, dan peperangan—para pemimpin, tokoh dan umat Khonghucu perlu lebih memahami dan bekerja keras mewujudkan misi tersebut. 

Agama Khonghucu tidak lagi tepat menjadi agama yang diam. (US) 31/05/2019

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU