SEMBAHYANG 祭 (JI)

Salam Kebajikan,

Diantara semua Dao yang mengatur kehidupan manusia, tiada yang lebih penting dari Li (Kesusilaan). Li itu mempunyai Wu Jing dan daripadanya tiada yang lebih perlu daripada Ji 祭(Sembahyang/Ibadah). [1] 

Adapun Ji itu bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan dari tengah batin keluar dan lahir di hati. Bila hati itu dalam-dalam tergerak, perwujudannya meraga di dalam Li. Karena itu hanya orang Bijaksana yang berkebajikan dapat penuh-penuh mewujudkan kebenaran dari Ji.

Ji yang dilaksanakan oleh Xian Zhe (orang Bijaksana yang berkebajikan) pasti akan menerima berkah bahagia. Ini bukan berkah bahagia yang biasa dikatakan oleh dunia. Berkah bahagia disini berarti kesempurnaan (siapnya segala sesuatu) – kesempurnaan disini ialah untuk menamakan tentang patuh lancarnya beratus perkara. Bila tiada sesuatu yang tidak patuh lancar untuk terselenggara, itulah yang dinamai Bei (siap sempurna); yaitu: di dalam, diri terpacu penuh-penuh, dan di luar, patuh-lancar di dalam Jalan Suci. Patuh setianya seorang menteri mengabdi kepada rajanya dan bakti seorang anak mengabdi kepada orang tuanya, itu berpokok satu.

Ke atas Shun (patuh-taqwa) kepada Gui Shen (Tuhan Yang Maha Roh), keluar (di tengah keluarga) bakti kepada orang tua; demikianlah yang dinamai siap sempurna. Hanya seorang yang Bijaksana berkebajikan dapat siap sempurna. Orang yang siap sempurna baharulah kemudian dapat melakukan sembahyang (ibadah). Maka, sembahyang/ibadah seorang yang Bijaksana berkebajikan dipenuhi iman dan kepercayaan, dengan semangat penuh Cheng Xin Zhong Jing (iman, percaya, satya dan hormat-sujud); dengan suasana batin yang demikian dipersembahkan sesuatu, diungkapkan di dalam Li (kesusilaan, upacara), disentosakan/dimantapkan dengan musik, digenapkan pada waktunya. Dalam kecerahan batin disajikan semuanya itu, dikerjakan semuanya tidak karena suatu pamrih. Demikianlah hati seorang anak berbakti. [2]

Sesungguhnya sembahyang/ibadah ialah yang terbesar dari semua hal. Segala piranti disiapkan lengkap, tetapi kelengkapannya mengikuti keperluan; - bukankah ini menjadi pokok agama? Maka, agama yang diamalkan seorang Junzi, diluar dibimbingkan bagaimana memuliakan pemimpin dan tua-tua, di dalam dibimbingkan bagaimana berbakti kepada orang tua. Maka, bila raja/pemimpin yang cerah batin di atas, para menteri/pembantunya akan tunduk mengikuti. Bila penuh sujud dilakukan sembahyang di Miao leluhur, dan di hadapan altar Malaikat Bumi dan Gandum, tentulah anak-cucunya akan patuh-berbakti; sungguh-sungguh akan menempuh Jalan Suci, dengan tulus hidup dalam kebenaran; dan akan semarak tumbuh ajaran agama. Maka, seorang Junzi dalam melayani/mengabdi kepada pemimpin, pasti melaksanakan sebagaimana diharapkan kepada diri sendiri. Apa yang tidak memberi kesentosaan/kepuasan diri atasan-nya, tidak akan dilakukan dalam menyuruh bawahan; dan apa yang tidak disukai dari bawahannya, tidak akan dilakukan dalam mengabdi kepada atasan. Apa yang tidak disetujui dari orang lain, tetapi diri sendiri melakukan; itu bukan Jalan Suci agama. Karena itu, amalan agama seorang Junzi pasti berlandas kepada yang pokok/yang akhir yaitu sembahyang/ibadah; diikuti dengan patuh sampai mencapai puncak. Maka dikatakan, Ji Zhe, Jiao Zhi Ben Ye     (Sembahyang/Ibadah, itulah pokok/akar agama). [3]

Adapun Ji (sembahyang/ibadah) di dalamnya terkandung Shi Lun 十 伦 (sepuluh jalinan). Di dalamnya nampak bagaimana Dao mengabdi kepada Gui Shen (Yang Maha Roh) (1), nampak kebenaran yang harus dijalankan antara pemimpin/raja dan pembantu/menteri (2), nampak bagaimana wajib jalinan antara ayah (orang tua) dengan anak (3), nampak pertingkatan antara yang berkedudukan mulia dan rendah (4), nampak dekat-renggangnya jalinan keluarga yang berkembang (5), nampak bagaimana diberikan anugerah dan pahala (6), nampak bagaimana pemilahan tugas antara suami dan isteri (7), nampak bagaimana pemerintahan harus adil (8), nampak bagaimana antara yang tua dan muda wajib dalam kedudukan masing-masing (9), dan nampak bagaimana batasan yang ada antara atasan dan bawahan (10). Inilah yang dinamai sepuluh jalinan (hubungan). [4]

Junzi berkata, “Li Yue (Kesusilaan dan musik) tidak boleh sekejappun dilengahkan dari diri. Bila orang telah menguasai musik, dan menggunakan untuk mengatur hatinya, ia akan secara wajar mendapat kemudahan di dalam hatinya, berkembang sifat lurus-benar, lembut dan jujur, maka diperoleh kebahagiaan/kesukaan. Kesukaan ini akan menjadikan rasa sentosa. Rasa selamat-sentosa membawakan kelestarian. Kelestarian (didalam rasa selamat-sentosa) menjadikan orang merasakan penghayatan didalam Tian. Penghayatan di dalam Tian menumbuhkan kekuatan rohani. Tian, meskipun tanpa bicara dipercaya, kekuatan rohani biar tanpa marah menjadikan orang gentar. Demikianlah kalau orang menguasai musik untuk mengatur hatinya.”

Bila orang telah menguasai Li (kesusilaan), dan menggunakan untuk mengatur perilakunya/membangun kepribadiannya; ia akan memiliki Zhuang Jing 莊敬 (kemantapan dan kesungguhan), kemantapan dan kesungguhan mendatangkan rasa gentar dan wibawa. Bila di dalam hati untuk sesaat tiada Harmoni, tiada kesukaan, maka hati yang keji dan curang akan masuk. Bila di dalam perilaku untuk sesaat tiada kemantapan dan kesungguhan, maka hati yang lalai dan menggampangkan akan masuk. [5]

Li (Susila, ajaran agama, ibadah) bawah langit ini menjadikan (batin) insan kembali kepada Yang Mula (kepada Tuhan Khalik Semesta Alam), menjadikan insan memuliakan Gui Shen(Nyawa dan Roh); menjadikan segala perkara harmonis dalam gunanya; menjadikan berkembangnya kebenaran; dan menjadikan berkembangnya sifat mengalah/ rendah-hati. Menjadikan insan kembali kepada Yang Mula itu mengkokohkan/menebalkan pokok/akar/dasar. Menjadikan insan memuliakan Nyawa dan Roh itu memuliakan atasan. Menjadikan segala benda berguna itu menegakkan kesejahteraan rakyat. Dengan berkembangnya kebenaran, maka tiada pertentangan antara atasan dengan bawahan. Menjadikan berkembang sikap suka mengalah menyingkirkan sifat suka berebut. Yang menjadikan kokoh berpadunya kelima hal itulah Li untuk mengatur bawah langit. Dengan demikian, biarpun mungkin ada pemborosan karena tidak menaati peraturan, itu akan jarang terjadi. [6]

Ketika tiba waktu menaikkan sembahyang, seorang Junzi akan Zhai (bersuci diri, berpuasa lahir-batin). Yang dikatakan bersuci diri ialah menjadikan semuanya suci: - mensucikan yang tidak suci sehingga semuanya sempurna suci. Karena itu, seorang Junzi kalau tidak ada urusan besar, kalau tidak benar-benar didorong oleh rasa sujud dan hormat, ia tidak mencoba melakukan penyucian diri. Bila tidak sedang bersuci diri, tidak was-was terhadap pengaruh benda-benda, juga tidak menghentikan berbagai kegemaran dan keinginannya. Tetapi setelah bermaksud bersuci diri, lalu mawas terhadap segala pengaruh benda-benda yang menyesatkan dan menindas berbagai kegemaran dan keinginannya. Telinganya tidak mendengarkan musik; - seperti yang tersurat di dalam catatan, “Orang yang bersuci diri, tiada musik baginya.” Ini hendak mengatakan bahwa ia tidak berani membuyarkan citanya. Hati tidak memperturut pikiran yang sia-sia, ia mesti memadukan di dalam Jalan Suci. Ia tidak membiarkan kaki-tangannya melakukan gerak-langkah yang sia-sia, tetapi mesti memadukannya di dalam Li. Demikianlah seorang Junzi di dalam bersuci diri, ia benar-benar berusaha Jing Ming Zhi De 精 明 之 德 (meluas sempurnakan sari kecerah- an kebajikan). Maka, tujuh hari San Zhai 散 齋 (bersuci diri longgar) untuk mencapai ketetapan (tujuan); dan tiga hari bersuci diri penuh untuk menciptakan keberesan suasana seluruh batin. Usaha mencapai ketetapan itulah yang dinamakan bersuci diri; sempurnanya pensucian itulah puncak pencapaian sari kecerahan. Dengan demikian, kemudian dapat melakukan jalinan kepada Shen Ming.” [7]

“Upacara sembahyang adalah dimaksudkan untuk dapat melakukan doa. Untuk mengucapkan syukur atau untuk menyampaikan keluhan” [8]
Segala hal di dalam upacara sembahyang harus serba hati-hati. Hal itu karena Rokh yang bersifat semangat Hun Qi pulang kepada Tian, sedang badan dan nyawa yang bersifat hewani (Ling Po) pulang kepada tanah; maka didalam upacara sembahyang timbul gagasan yang berdasarkan sifat Yin dan Yang…” [9]

“Upacara sembahyang dengan menyajikan jawawut dan gandum adalah untuk menyertai sajian berupa paru-paru itu. Sembahyang dengan penyajian anggur jernih adalah untuk menyertai sajian berupa air jernih; - semuanya untuk memenuhi tuntutan sifat Yin. Diambilnya lemak yang ada di dalam dan dibakar, dan menaikkan kepala (hewan korban) adalah untuk memenuhi tuntutan sifat Yang[10]

Demikianlah umat Ru-Khonghucu menghayati arti sembahyang/ibadah.

Sembahyang/ibadah bukan hanya bermakna hubungan vertikal semata, tetapi mencakup hubungan vertikal dan horizontal. Dalam ibadah/sembahyang terkandung kekhusukan, kejujuran, iman dan kesadaran hubungan dengan TianDi dan Ren. Dengan ibadah/persembahyangan sebetulnya kita sedang melakukan pembinaan diri pula, mengasah kebeningan batin yang terdalam. Dalam persembahyangan pula kita melatih kejujuran dan kesungguhan hati dan menguatkan hubungan kekeluargaan/ kebersamaan/tali silaturahmi serta bakti kita kepada generasi pendahulu dan keteladanan kita kepada generasi penerus.

Di dalam aspek religius ini terkandung makna filosofis yang sangat mendalam. Dalam ibadah/sembahyang kita belajar memahami dan menghayati keterkaitan Tian Di Ren dan Yin Yang.
Sebagai umat Ru-Khonghucu, tentu terbiasa bersembahyang kepada Tian, Nabi, Shen Ming dan kepada orang tua/leluhur. Agar tidak salah melangkah, menghindarkan kekeliruan, dan tetap sesuai dengan Li maka perlu dipahami apa perbedaan dan apa persamaan bersembahyang kepada Tian, Nabi, Shen Ming dan orang tua/leluhur yang telah mendahulu. [11]

Sembahyang kepada Tian adalah Sembah Sujud, kepada Nabi dan Shen Ming adalah Sembah Hormat, sedangkan kepada leluhur dan orang tua yang telah mendahulu adalah Sembah Bakti. Yang membedakan adalah adanya Li (Kesusilaan) dan suasana batin yang melingkupi.

Nabi bersabda, “Sungguh Maha Besarlah Kebajikan Gui Shen (Tuhan Yang Maha Roh) dilihat tidak nampak, didengar tidak terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa, membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap, sujud bersembahyang kepadaNya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan di atas dan dikanan kiri kita.” [12]

“...Orang yang penuh hormat-sujud itulah kemudian boleh melayani/mengabdi kepada Shen Ming...”[13]

“Melakukan sembahyang kepada leluhur bermaksud melanjutkan perawatan dan melestarikan laku bakti. Yang berbakti itu memberi perawatan...” [14]

Maka ketika Nabi Kongzi berkunjung ke sebuah kelenteng, yang dilakukan oleh Beliau adalah mengetahui asal-usul ‘isi’ Miao/kelenteng tersebut, tujuannya adalah menegakkan Li (Kesusilaan) dan menghindarkan dari kekeliruan melaksanakan Ji (sembahyang/ibadah). [15]

Beliau menganjurkan kita untuk bersembahyang tetapi agar berhati-hati untuk tidak mengikatkan diri. Nabi bersabda, ”Bersembahyang kepada roh yang tidak patut disembah, itulah menjilat.” [16]


[1] Wu Jing (Lima pokok) yaitu ji 吉, xiong 凶, jun 军, bin 宾, jia 
[2] Li Ji , Bab XXII Ji Tong: 1-2
[3] Li Ji Bab Ji Tong XXII -12
[4] Li Ji XXII, Bab Ji Tong: 12-13
[5] Li Ji XXI, Bab Li Yi Bagian II: 8
[6] Li Ji XXI, Bab Ji Yi Bagian I:20
[7] Li Ji XXII, Bab Ji Tong: 6
[8] Li Ji IX Jiao Te Sheng III: 28
[9] Li Ji IX Jiao Te Sheng III: 17
[10] Li Ji IX Jiao Te Sheng III: 21
[11] Untuk pelaksanaan ibadah di Indonesia, diatur dalam Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu yang merupakan kesepakatan para pendahulu, SAK Th. XXVIII No 4–5 terbitan Matakin, tahun 1984 dengan beberapa penyempurnaan.
[12] Zhong Yong XV: 1-3
[13] Li Ji XXII Bab Ji Tong: 5
[14] Li Ji XXII Bab Ji Tong: 3
[15] Lun Yu III:15
[16] Lun Yu II: 24

Dikutip dari buku Hidup Bahagia dalam Jalan Suci Tian (Gerbang Kebajikan Ru 2010) (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU