TRADISI, AGAMA, DAN WATAK SEJATI

Salam Kebajikan,

"Watak sejati saling mendekatkan, kebiasaan saling menjauhkan", demikian sabda Nabi dalam kitab Lun Yu XVII: 2.

Dalam sabda tersebut ada empat kata kunci yang mesti dipahami, yaitu watak sejati, kebiasaan, menjauhkan dan mendekatkan.

Watak Sejati merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari Xing yang dalam kitab Zhong Yong Bab Utama ayat 1 dikatakan sebagai Tian Ming (Firman Tian).

Dalam kitab Mengzi watak sejati atau watak dasar manusia adalah benih-benih kebajikan yang dianugerahkan kepada setiap manusia tanpa membeda-bedakan warna kulit, etnis, jenis kelamin atau atribut lainnya. 

 Dengan demikian semua manusia setara dan diberi bekal yang sama oleh Tian agar dapat hidup selaras dengan kehendakNya. Manusia dapat hidup di dalam dao bila dia berbuat mengikuti watak sejati atau watak dasar ini. Watak sejati baik adanya. Manusia suka akan kebaikan. Maka mahfum adanya bila watak sejati yang mengandung rasa belas kasihan, rasa hati tahu malu dan tidak suka, rasa hati hormat dan mengindahkan, serta rasa hati membenarkan dan menyalahkan bersifat mendekatkan karena merupakan benih-benih kebajikan yang bersumber dari Tian dan bersifat universal. Watak sejati tak terbatas oleh ruang dan waktu. Dengan watak sejati, manusia terhubung satu dengan lain dalam cahaya kebajikan.

Kebiasaan, tradisi atau dalam bahasa latin 'traditio' adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi atau kebiasaan adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah. Tradisi merupakan pengejawantahan cipta rasa dan karsa manusia. Cipta rasa dan karsa manusia berbeda-beda. Tergantung pada lingkungan tempat tinggal mereka. Tak heran ada banyak variasi dan bentuk dari tradisi atau kebiasaan. Tradisi atau kebiasaan terlahir dalam ruang dan waktu tertentu. Tak heran bila antara orang-orang dengan tradisi atau kebiasaan yang berbeda saling bertemu dan masing-masing saling bersikukuh tradisi atau kebiasaannya paling baik akan menimbulkan gesekan.

Orang dengan tradisi dan kebiasaan yang berbeda akan dapat menjalin hubungan harmonis bila mereka saling bertoleransi, menghormati, menghargai, dan menerima perbedaan yang ada. Jalinan itu akan ada bila masing-masing pihak mengedepankan nilai-nilai kebajikan. Nilai-nilai kebajikan bersumber dari watak sejati.

Walau agama bersumber dari wahyu Tian dan diajarkan melalui para nabi, dalam agama terkandung tradisi dan budaya. Kondisi ini tak mengherankan karena kebajikan Tian adalah Yuan Heng Li Zhen. Dengan adanya tradisi dan budaya dalam agama, memudahkan agama diterima oleh masyarakat tempat agama tersebut diturunkan dan kemudian berkembang. Pada akhirnya nilai-nilai kebajikan dan moral dalam agama akan menjadi pengikat. Namun demikian, seiring berubahnya situasi, kondisi, ilmu pengetahuan dan teknologi, agama menyebar ke berbagai penjuru negeri dan kemudian ke berbagai penjuru dunia dengan berbagai budaya dan tradisi. Kondisi demikian berpotensi menimbulkan ketegangan.

Dalam menyikapi ini, Nabi Kongzi dengan bijaksana berpesan agar mengajarkan agama tidak merusak tradisi, namun tradisi pun tidaklah elok bila merusak nilai agama. Jadi, mengajarkan agama tetaplah perlu dengan bijak, tidak kaku. Bila tidak, akan menimbulkan gesekan dan ketidak harmonisan.

Kita dapat menyaksikan, agama-agama besar diterima di berbagai negara penjuru dunia (minimal pada awalnya) karena kebijaksanaan ini yang diikuti. Suatu tradisi akan berubah atau bertahan seiring berlalunya waktu. Watak Sejati akan abadi. Sikap bijak Nabi adalah sikap Zhong (tengah), tidak ekstrim. Pada titik inilah kita memahami agama membimbing manusia untuk mengikuti watak sejati, bukan sekedar menempelkan label agama. Dengan misi agama seperti ini, agama akan 'mendekatkan' manusia.

Keteladanan seperti ini sekarang mulai diingkari, akibatnya kita merasakan ketegangan antar agama dan tradisi yang sebetulnya tak perlu. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU