DUAN YANG (PEH CUN (?)) HARI SARAT MAKNA SPIRITUAL

Salam Kebajikan,

Baru saja kemarin dan kemarin lusa (5 dan 6 Juni 2019) saya dan mungkin Anda turut merayakan kegembiraan Idul Fitri, 1 Syawal 1440 Hijriyah, hari kemenangan umat muslim setelah berpuasa ramadhan dengan bersilaturahmi dan makan ketupat lebaran. Hari ini kita merayakan Peh Cun, di hari peribadahan Duan Yang tanggal 5 bulan lima 2570 Kongzi Li, dengan mendirikan telur dan makan bakcang. Dua perayaan sarat makna spiritual yang acap gagal kita pahami dan hayati makna hakikinya.

Hari Raya Duan Yang ialah hari suci bersujud kehadirat Tian YME yang telah dilakukan umat Khonghucu atau Ru Jiao sejak jaman purbakala. Di sini kita lebih mengenalnya dengan nama Go Gwee Chee Go (Wuyue Chuwu) atau Hari Raya tanggal 5 bulan V Kongzi Li.

Duan artinya lurus, terkemuka, terang, yang menjadi pokok atau sumber dan Yang artinya sifat positif atau matahari; jadi Duan Yang ialah saat matahari memancarkan Cahaya paling keras. Hari Raya ini dinamai pula Duan Wu. Wu artinya saat antara Pkl. 11.00 - 13.00 siang; jadi perayaan ini tepatnya ialah pada saat tengah hari. Pada saat-saat demikian pada hari Duan Yang, matahari benar-benar melambangkan curahnya rahmat Tuhan. Cahaya matahari ialah sumber kehidupan, lambang rahmat dan kemurahan Tian atas manusia dan segenap makhluk dunia.

Maka saat Duan Yang ialah saat untuk bersuci, bermandi, bersujud menyampaikan sembah dan syukur kepadaNya. Pada saat Duan Yang kita rasakan sebagai saat paling besar Tian melimpahkan rahmat karuniaNya; khususnya pada saat Wu, saat tengah hari.

Oleh karena itu timbul kepercayaan pada saat Duan Wu segala makhluk dan benda mendapat curahan karunia kekuatan paling besar. Orang-orang percaya bahwa ramuan obat-obatan yang dipetik pada saat itu akan besar khasiatnya. Karena letak matahari tegak lurus, orang percaya telur ayam pun bila ditegakkan saat itu akan berdiri tegak lurus.

Hari raya ini disebut pula dengan nama Pek Cun yang artinya merengkuh dayung atau beratus perahu. Dinamai demikian karena pada hari itu sering diadakan perlombaan dengan banyak perahu. Demikian tertulis dalam buku Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu yang bersumber dari kitab suci agama Khonghucu.

Tentang perlombaan dengan perahu di sungai-sungai atau perlombaan dayung perahu naga berkaitan dengan suatu peristiwa yang dilakukan oleh Qu Yuan (Hanzi: 屈原) (339 SM–277 SM), seorang menteri negara Chu (Hanzi: 楚) di Zaman Negara-negara Berperang pada hari Duan Yang dan tercatat dalam buku sejarah Shi Ji. Dari peristiwa tersebut kita mengenal bakcang (Hanzi: 肉粽, hanyu pinyin: ròuzòng).

Seperti kebanyakan hari-hari besar keagamaan Khonghucu lain yang telah membudaya, sekarang orang-orang lebih mengenal Peh Cun sebagai festival budaya dan hura-hura, ketimbang Duan Yang atau Duan Wu yang sarat akan makna spiritual. Kita acap gagal memahami kedalaman makna dan rasa syukur atas limpahan rahmat Tian yang demikian luar biasa atas kehidupan sebagai manusia.

Hari Duan Wu sejatinya bukanlah semata-mata tentang limpahan rahmat Tuhan dan kemujaraban obat-obatan jasmani yang kita petik pada saat Wu. Duan Wu adalah hari saat kita mendapat rahmat dan obat atas kekeringan spiritual kita dalam kehidupan yang serba sibuk, instan, dan terburu-buru.

Saat Duan Yang, kita bersujud tafakur dengan tiga batang hio dan memanjatkan doa-doa kita, merasakan cahaya kebajikan Tian yang ada di dalam batin kita, gemilang memenuhi keempat anggota tubuh sehingga kita selalu berupaya berkarya di dalam jalan suciNya bagi kemanusiaan, berkelindan dengan limpahan cahaya matahari (sumber kehidupan) yang memberi kesadaran pada kita bahwa hidup kita perlu selalu bersyukur, eling, dan takwa bukan hanya mengikuti ambisi, keinginan dan hawa nafsu yang ekstrim. Alam ada di titik panas yang ekstrim, kita sebagai manusia eling dan takwa. Inilah persembahyangan Yue sesuai amanat dalam Shi Jing, Tian Bao. Persembahyangan Besar pada Sang Khalik.

Lebih lengkap makna bila di saat Duan Yang, kita juga bersembahyang memberi penghormatan dan meneladani kesetiaan Qu Yuan, seorang yang rela mengorbankan nyawa untuk memegang teguh kebenaran di hari yang suci ini.

Tak elok bila kita melupakan Duan Yang dan digantikan dengan Peh Cun, apalagi melupakan ibadah sarat makna spiritual dengan sekedar lomba dan hura-hura, lalu sekarang kebablasan menyebutnya sekedar hari raya makan bakcang yang bikin perut gendut.

Atau memang kita sudah terlalu buta dan materialistis, lebih mementingkan kepuasan jasmani dan sesuatu yang nampak oleh mata jasmani dibanding kesejatian diri dan nampak oleh kebeningan batin? Lebih mementingkan makan bakcang dan mendirikan telur ketimbang ''memakan" makanan rohani dan menegakkan diri? 

Kalau iya, sungguh menyedihkan, Wuhuaizai. (US)

05-05-2570 Kongzili
07 Juni 2019 M.


Renungan:
Zhong Yong XXXII: 6, Lun Yu III: 12, Mengzi VIA: 10, Li Ji, Ji Tong XXII: 24, Shi Jing II.I.6 Tian Bao.

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TOUS LES JOURS