SELAMAT IDUL FITRI 1440 H

Salam Kebajikan,

Hari ini adalah hari lebaran (Idul Fitri) 1440 Hijriyah. Idul Fitri dirayakan setelah umat muslim menjalankan puasa ramadhan.

Di Indonesia sering mengucapkan doa Minal 'Aidin wal-Faizin, sebenarnya itu adalah tradisi masyarakat Asia Tenggara. Menurut sebagian besar ulama ucapan tersebut tidaklah berdasar dari ucapan dari Nabi Muhammad. Perkataan ini mulanya berasal dari seorang penyair pada masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteksnya mengisahkan dendang wanita pada hari raya.

Adapun ucapan yang disunnahkan olehnya adalah Taqabbalallahu minna wa minkum ("Semoga Allah menerima amal kami dan kalian") atau Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik ("Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu") dan semisalnya. (Wikipedia)

Sebagai umat Khonghucu, saya hanya memahami kulit luar dari Idul Fitri (dari hasil mendengar atau membaca), umat muslim tentu lebih memahami, merasakan dan menghayati  makna terdalam  Idul Fitri karena merupakan kewajiban ibadah dan perayaan yang diimaninya. Keliru besar bila saya sok tahu tentang Idul Fitri. Saya selalu mempunyai prinsip, orang tak bisa menilai keyakinan agama orang lain dari kacamata keyakinan agamanya, karena sama saja seperti saya pergi ke pantai Kuta, lalu membawa sebotol air laut dari sana dan mencoba menceritakan keindahan alam dan suasana pantai Kuta kepada kawan saya yang belum pernah ke Kuta dengan menuangkan air laut dalam botol tersebut ke ember, lalu orang yang kita ceritakan kita persilakan menyentuh dan merasakan air dalam ember tersebut. Agar orang yang kita ceritakan tentang Kuta memahami keindahan pantai dan suasana di sana adalah dengan pergi ke pantai Kuta.

Yang saya rasakan dan alami dalam Idul Fitri adalah adanya suasana persaudaraan yang kental lintas etnis, lintas keyakinan. Idul Fitri adalah momen yang tepat dalam merayakan kemenangan manusia mengatasi hawa nafsu untuk mencapai satu titik dalam kehidupan, menjadi manusia baru, manusia yang dipenuhi dengan nur ilahi, melupakan perbedaan, saling memaklumi, saling berempati, saling memaafkan, merajut dan memperbaharui kembali hubungan yang retak karena ego kita sebagai manusia. Idul Fitri juga dipenuhi dengan rasa syukur dan penyerahan total pada sang Khalik. Saya selalu merasakan Idul Fitri seperti saya melaksanakan perayaan tahun baru imlek yang dipenuhi dengan peribadahan dan silaturahmi.

Saya tak henti-hentinya merasa bersyukur hidup di tanah air Indonesia dengan limpahan kawan dan sahabat muslim yang begitu toleran, sehingga sebagai umat Khonghucu, saya dapat hidup dengan layak dan dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinan saya. Saya tak dapat membayangkan apakah hal ini akan saya alami pula di negara lain.

Memang akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang mengambil cara-cara yang ekstrim dan radikal dalam mengekspresikan keyakinannya dan tidak dapat menerima perbedaan. Ya, itu keyakinan mereka. Selama tidak menggunakan kekerasan dan dalam koridor konstitusi dan cita-cita berdirinya Indonesia sesuai pembukaan UU NRI 1945,  perlu kita hargai. Di hampir semua agama ada saja kok yang seperti ini. Toh Indonesia adalah negara Pancasila yang menghargai perbedaan dalam Bhinneka Tunggal Ika. Kesepakatan negara Pancasila menunjukkan kebesaran jiwa para ulama dan tokoh-tokoh muslim Indonesia yang arif bijaksana. Tak mudah mempunyai kebesaran jiwa seperti itu. Keteladanan yang patut diikuti.

Ijinkan saya turut bergembira dan bersyukur dalam perayaan Idul Fitri ini. Taqabbalallahu minna wa minkum sahabat dan saudaraku umat muslim.

Ijinkan pula saya ucapkan selamat Idul Fitri sesuai tradisi yang saya tahu sejak kecil 'Selamat Hari Lebaran 1 Syawal 1440 H. Minal Aidin Wal Faidzin, Maafkan Lahir dan Batin'.

Idul Fitri menegaskan bahwa 'di empat Penjuru lautan semua umat bersaudara'.

Salam Hormat dan Takzim. Uung Sendana. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TOUS LES JOURS