BERENANG DALAM KEHIDUPAN

Salam Kebajikan,

Ada banyak perlombaan renang yang diselenggarakan dalam pesta olahraga olimpiade. Pada perlombaan renang—seperti juga cabang-cabang olahraga yang mempertandingkan kecepatan—waktu menjadi begitu sangat berharga. Pemenang medali emas, perak, dan perunggu seringkali hanya berselisih sepersekian detik.

Mengapa seseorang dapat mencatatkan waktu demikian cepat dan menjadi juara olimpiade?

Sejak Nicolaus Wynmann—seorang profesor bahasa dari Jerman pada tahun 1538 menulis buku tentang renang, telah banyak ditulis buku-buku tentang olahraga renang. Anda dan saya bisa membaca buku-buku renang tersebut baik versi hardcopy atau pdf kapan saja kita mau.

Pertanyaannya, apakah dengan semakin banyak membaca buku tentang renang, Anda dan saya akan menjadi lebih ahli berenang? Jawabnya: Tidak! Anda dan saya akan semakin ahli berenang bila apa yang kita baca dipraktekkan dengan masuk ke dalam kolam renang dan terus berlatih berulang-ulang. Seberapa banyak dan lama latihan yang perlu dilakukan tergantung untuk apa saya dan Anda belajar dari buku tersebut, apakah untuk berlomba di olimpiade ataukah sekedar agar saat berenang bersama kawan atau keluarga enak dilihat, dan sebagainya.

Manusia bukanlah makhluk ciptaan Tian seperti ikan yang dapat hidup di air karena bernafas dengan insang dan mampu berenang dengan cepat karena memiliki tubuh yang aerodinamis dengan sirip-sirip dan ekor yang menunjang untuk berenang serta naluri. Para juara mampu berenang dengan cepat karena belajar dan berlatih. Begitu pun saya dan Anda akan mampu berenang dengan baik atau sekedar mengambang karena belajar dan berlatih, tak cukup dengan hanya membaca buku tentang renang.

Anda dan saya ditakdirkan lahir ke dunia ini sebagai manusia, dengan bekal xing dan nafsu. Untuk apa kita dilahirkan ke dunia ini? Tentu untuk menjadi manusia sesuai untuk apa kita diciptakan. Apakah kita telah menjalankan peran kita sebagai manusia sesuai untuk apa kita diciptakan?

Jawabnya tergantung upaya Anda dan saya belajar dan berlatih mengembangkan potensi diri yang telah dianugerahkan Tian.

Ajaran agama yang dulu diajarkan secara lisan oleh para nabi berdasarkan wahyu Tian kepada murid-muridnya dan kemudian dibukukan dalam kitab suci, merupakan ajaran yang membimbing manusia untuk hidup dalam dao, yaitu hidup sesuai dengan untuk apa manusia diciptakan, atau dengan kata lain sesuai dengan kehendak Tian. Sebagai manusia yang manusiawi atau manusia yang menjalankan kemanusiaannya. Bukan manusia yang melawan atau menghindari kemanusiaannya.

Bagaimana manusia menjalankan kemanusiaannya? Dengan cara menjalani dao dan menyempurnakan cheng dalam hubungan dengan sesama manusia, dengan alam dan dengan Tian. Manusia tak akan 'menjadi untuk apa dia diciptakan' bila tidak bergaul dengan sesama manusia, hidup di hutan seperti hewan dan burung dan hanya berfokus pada hubungan dengan alam dan Tian. Manusia takkan 'menjadi untuk apa ia diciptakan' dengan meninggalkan kemanusiaannya, hidup selibat, sekedar percaya tanpa berupaya, rajin beribadah tanpa mengasah perilaku, hanya berfokus pada pengasahan rohani tanpa pemenuhan jasmani. Maka dalam kitab suci agama Khonghucu, dao yang harus dijalani adalah lima perkara dan tiga pusaka. Dao ini berkaitan dengan kemanusiaan kita. Diibaratkan membuat tangkai kapak dengan mengikis tangkai kapak dengan kapak, demikianlah dengan menggunakan kemanusiaan untuk mengatur dan memanusiakan manusia. Upaya memanusiakan dan mengatur manusia, diawali dengan memanusiakan dan mengatur diri sendiri. Dalam proses ini adalah manusiawi bila melakukan kesalahan, upaya akan berhenti setelah dapat memperbaiki kesalahan.

Begitulah, agama membimbing manusia bukan sekedar menyempurnakan dirinya sendiri tetapi menyempurnakan segenap wujud. Dalam upaya ini, manusia tidak sekedar hanya membaca kitab suci, namun harus dilaksanakan dalam kehidupan, dengan belajar dan berlatih, seperti perenang yang tidak cukup hanya belajar teori berenang tanpa dia berlatih di dalam kolam renang, terus berulang-ulang. Hasil belajar dan berlatih ini bisa bermacam-macam, seperti orang belajar berenang. Hanya saja kehidupan bukan tentang siapa lebih cepat, tapi seberapa persisten dan konsisten  belajar dan berlatih  sepanjang hidup untuk mencapai keharmonisan seperti dalam renang indah. Pada puncaknya manusia mampu menjadi pemimpin besar, menjadi tritunggal dengan langit dan bumi dan bersatu dengan Tian. Tak masalah juga bila menjadi manusia pembelajar yang mampu menjalankan peran dengan tepat, pas pada proporsinya.

Kalau Anda memilih cara berbeda, ya itu pilihan Anda. (US) 28072019


Renungan: Zhong Yong XII: 1, XIX: 8, XII: 2, XXIV: 1 dan 3

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU