KONGMIAO JAKABARING

Salam Kebajikan,

Hari ini tanggal 11 Juli 2019/Liu Yue, 9 2570 Kongzili siang hari dilaksanakan peresmian Kelenteng Kongmiao Jakabaring, di Jakabaring Sport City, Palembang oleh Menteri Agama R.I. Bpk. Lukman Hakim Saifuddin. Maju dari rencana awal tanggal 29 Juli 2019 sore hari.

Sebetulnya pembangunan kelenteng ini belum 100% selesai sesuai rancangan yang telah dibuat oleh Arsitek Ir. Budi Wangsa Tedy—yang juga umat Khonghucu—misalnya beberapa ornamen belum terpasang, begitu pula beberapa bagian kelenteng belum dibangun. Walaupun demikian kelenteng rumah ibadat Khonghucu telah dapat digunakan untuk beribadat.

Sejak awal rencana pembangunan kelenteng Kongmiao dicanangkan memang perlu perjuangan berat dan tidak diperoleh dengan mudah. Bahkan ada isu negatif yang sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu agar pembangunan kelenteng tidak terlaksana dan tidak didukung oleh Kakanwil Kemenag Provinsi Sumatera Selatan.

Isu negatif yang dihembuskan dari pihak-pihak tertentu antara lain pembangunan rumah ibadat Khonghucu akan menciptakan ketidakrukunan antar umat beragama di Sumatera Selatan, istilah kelenteng dipersoalkan dan dipersoalkan pula mengenai (konon) umat Khonghucu tidak ada di Sumatera Selatan—khususnya Palembang—serta tidak adanya lembaga agama Khonghucu di Sumatera Selatan.

Sebelum wacana pembangunan rumah ibadat ini, telah beberapa kali utusan MATAKIN dan Bimas Khonghucu serta MAKIN Jambi datang ke Palembang untuk mendirikan MAKIN, tapi tidak berhasil. Walaupun saat utusan tersebut datang ke Palembang, beberapa tokoh Khonghucu di sana berjanji akan mendirikan MAKIN, tapi janji tidak terlaksana karena ada rasa sungkan terhadap kelompok tertentu.

Setelah itu persoalan dana pembangunan juga menjadi masalah, siapa yang melaksanakan pembangunan, apakah Pusbimdik Khonghucu, Kanwil Sumatera Selatan, ataukah MATAKIN? Bila Kanwil Kemenag Sumatera Selatan yang membangun perlu dilakukan lelang dan itu akan memakan waktu karena ada prosedur yang mesti dilalui. Di samping itu, waktu pembangunan yang berkejar-kejaran dengan pelaksanaan Asian Games 2018 yang sudah mepet.

Persoalan bertambah rumit karena tak ada umat Khonghucu yang kami kenal, tak ada pula kontraktor setempat yang kami kenal. Kami tak kenal pula situasi di sana bagaimana. Upaya pembangunan rumah ibadat Khonghucu di Jakabaring seperti membabat hutan lebat yang masih perawan, belum tersentuh manusia. Kalau tanpa kesabaran, kecerdikan, dan goal yang kuat serta kemampuan diplomasi dan lobi—utamanya karena rahmat Tian—pembangunan rumah ibadat Khonghucu di Jakabaring takkan mungkin terwujud.



Perjuangan Langkah Awal

Pada awalnya, rumah ibadat Khonghucu tidak ada dalam rencana untuk dibangun di Jakabaring Sport City, maka saat Menteri Agama dan para tokoh lintas agama hadir untuk peletakan batu pertama pembangunan rumah ibadat di sana, hanya ada lima rumah ibadat.

Saya diberitahu akan ada pembangunan komplek rumah ibadat di Jakabaring oleh Pak Yanto dan Pak Udayana, mereka adalah para sahabat, tokoh Hindu dari Parisada yang memberitahu saya melalui telepon. Bagi mereka, kalau hanya lima agama berarti bukan Indonesia, karena di Indonesia ada enam agama besar. Mereka mendorong saya untuk berjuang mendapatkan tanah untuk pembangunan di sana. Pada momen ini saya teringat saat saya berada di ujung tombak dalam perjuangan mendapatkan tanah dan mewujudkan pembangunan Kongmiao di TMII sehingga dapat berdiri megah di tanah seluas sekarang, seminggu 2-3 kali bertemu dengan manajemen TMII.

Setelah mendengar kabar tersebut, saya selaku Ketua Umum Matakin segera membuat surat yang ditujukan pada Gubernur Sumatera Selatan yang pada pokoknya meminta agar rumah ibadat Khonghucu dapat dibangun di Komplek Olahraga Jakabaring, walaupun tanpa sedikit pun memiliki channel dan koneksi di Palembang.

Berbulan-bulan surat tersebut tidak mendapat balasan, sampai akhirnya Tian mempertemukan saya secara kebetulan dengan Pak Muddai Madang seorang putera asli Palembang di rumah Prof. Jimly Ashidiqqie saat silaturahmi Idul Fitri tahun 2017 di rumah Pak Jimly. Pak Muddai Madang adalah VP Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Saya tunjukkan gambar rencana pembangunan lima rumah ibadat di Jakabaring yang kebetulan saya punya ke Pak Jimly dan Pak Muddai Madang, sambil meminta bantuan Pak Muddai Madang agar dapat membantu penyediaan tanah untuk membangun. Pak Jimly mendukung dan mengatakan dengan bangga pada Pak Muddai bahwa dia adalah 'ketua' kehormatan Matakin. Saya katakan, kalau Pak Muddai membantu, maka sama saja membantu Pak Jimly.

Sepulang dari Pak Jimly, saya langsung menindaklanjuti dengan whatsapp Pak Muddai dan sekali lagi meminta bantuan sambil saya kirimkan gambar tanah lokasi dan surat yang telah dikirimkan ke Gubernur. Saat saya ditanya oleh Pak Muddai mengenai dana pembangunan, saya katakan yang penting tanah ada dulu. Biaya pembangunan nanti diupayakan. Pak Muddai menganjurkan agar pembangunan dapat cepat dilaksanakan, pembiayaan sebaiknya dilakukan secara swadaya.

Lebih kurang satu bulan kemudian, Gubernur melalui surat nomor 900/1008/Dispora.TU/2017 berkenan menyediakan tanah sambil menyarankan agar dana pembangunan segera disediakan. Maka saya segera mengirimkan surat kepada Menteri Agama RI dengan nomor 208/MATAKIN/SUX/VIII/2017 perihal permohonan bantuan dana untuk pembangunan Litang/Kelenteng di Kompleks Jakabaring Sport City dan surat tersebut juga ditembuskan kepada Gubernur Sumatera Selatan yang pengirimannya menggunakan jasa Pos Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2017.

Pada tanggal 24 Oktober 2017 saya selaku Ketua Umum MATAKIN bersama Pejabat dari Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Kementerian Agama meninjau Lokasi Pembangunan Klenteng di Kompleks Jakabaring dengan didampingi Pejabat Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan lalu menemui Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Selatan.

Pada pertemuan itu—yang juga dihadiri oleh beberapa orang dari pihak agama tertentu yang nampak keberatan—dengan upaya diplomasi, kami mengungkapkan tujuan kehadiran kami mengunjungi Kakanwil adalah dalam rangka memohon dukungan membangun rumah ibadat Khonghucu. Bapak Kakanwil walau nampak dengan berat hati, karena informasi yang didengarnya tentang eksistensi umat Khonghucu di Sumatera Selatan kurang positif. Tapi akhirnya Beliau memberi dukungan pembangunan dengan beberapa 'persyaratan'.

Pada tanggal 15 Maret 2018 saya bersama arsitek dan Bu Emma dari Pusbimdik kembali menemui Kakanwil Kemenag sambil membawa gambar rancang bangun kelenteng Kongmiao. Pada saat inilah Kakanwil akhirnya menyarankan agar pembangunan dilaksanakan oleh Matakin, tidak usah oleh Kanwil Kemenag agar tidak terbentur prosedur administratif dan birokrasi karena Asian Games telah semakin dekat. Pak Kakanwil secara eksplisit menyatakan mendukung pembangunan Kelenteng Kongmiao dan akan menghadapi orang-orang yang menghalangi. Setelah mengobrol ngalor ngidul, Pak Kakanwil ternyata berada di organisasi ICMI Sumatera Selatan dan sepupu dari Pak Muddai. Dunia ternyata sempit, kami terhubung. Tian merahmati.


Kendala Pembangunan

PR selanjutnya adalah segera melakukan pembangunan. Asian Games tinggal 5 bulan lagi, tapi dana dari Kemenag belum jelas kapan turun. Maka kami meminta kontraktor mengurus ijin ke manajemen Jakabaring dan saya dibantu Pak Bratayana (alm) mencari dana talangan agar pembangunan dapat dilaksanakan. Setelah lebih kurang satu bulan ternyata diperoleh kabar dari kontraktor pembangunan harus selesai akhir Juni. Kontraktor tidak sanggup kalau harus menyelesaikan dalam dua bulan. Maka gagallah upaya mengejar Asian Games dan dana talangan kami kembalikan.

Setelah itu, saya ditemani oleh Kapusbimdik Khonghucu menemui Sekjen Kemenag, tentang alokasi dana pembangunan Kongmiao yang diminta oleh Menag untuk disediakan. Pak Sekjen menanyakan, apa masih relevan membangun rumah ibadat di Jakabaring setelah perhelatan Asian Games. Saya katakan bahwa pesta olahraga lainnya kan akan dilaksanakan lagi di sana, dan keberadaan Rumah Ibadat Khonghucu akan memperlihatkan Indonesia dengan enam agama besar ke dunia internasional. Pak Sekjen setuju.

Pada minggu ketiga September 2018 dana untuk pembangunan ditransfer oleh Kemenag ke Matakin setelah sebelumnya saya harus menandatangani MOU dengan Pusbimdik Kemenag dan bertanggung jawab atas penggunaan dana untuk pembangunan secara bersih.

Maka pembangunan dimulai sesuai MOU dengan kontraktor yang telah diperbaharui. Pembayaran akan dilaksanakan dalam beberapa termin. Pada tanggal 23 Januari 2019, saya bersama arsitek, konsultan sipil, kontraktor, dan penilai meninjau ke Jakabaring dan bersama pak Darman bertemu dengan pengurus kelenteng di Palembang untuk penjajagan pembentukan MAKIN Palembang. Hasilnya ada beberapa perbaikan dan penambahan yang harus dilakukan oleh kontraktor. Satu bulan kemudian kewajiban kontraktor mengerjakan tahap awal sudah rampung.

Banyak hal yang menggembirakan dan juga tidak mengenakkan terjadi yang membuat hati dongkol dan mengganjal tapi tidak elok dituliskan disini. Begitulah, setiap kerja yang kita lakukan ada saja orang-orang yang berkomentar atau berkasak kusuk tak mengenakkan telinga. Dan bila diambil hati akan menimbulkan perselisihan.

Yang jelas melalui lika-liku yang tidak mudah dan kadang menegangkan akhirnya umat Khonghucu berhasil mempunyai rumah ibadat di Jakabaring sebagai ikon Indonesia.

Upaya yang dilakukan telah membuahkan hasil. Menteri Agama hari ini telah menandatangani prasasti, peresmian pun dihadiri oleh Gubernur Sumatera Selatan, dan tokoh-tokoh agama di Sumatera Selatan turut hadir. Kelenteng Kongmiao dengan Jinshen Zhisheng Kongzi, Fu De Zheng Shen, Guan Gong, Guan Yin Niang Niang, dan Tian Shang Sheng Mu telah berdiri dan diresmikan. 

Yang lebih menggembirakan adalah akhirnya umat Khonghucu terpanggil untuk membentuk MAKIN di Palembang dan telah dilantik. Sekali dayung dua tiga pulau terlalui. 

Di sana sini tentu saja masih banyak kekurangan, mungkin saja ada yang kurang memuaskan, atau ada kecurigaan dari beberapa pihak yang nyinyir mengenai dana, harga bangunan, dan lain-lain. Satu hal yang perlu diketahui, membabat hutan yang masih perawan dengan tak punya kenalan disana, pada awalnya bukanlah pekerjaan mudah. Kalau tak percaya, silakan Anda coba cari daerah lain untuk melakukan hal yang sama.

Saya sudah menghadap ke BPK untuk menjelaskan mengenai pembangunan ini dan pertanggungjawaban keuangan melewati tanggal 31 Desember, tanggal closing keuangan negara sebagai respon atas surat Pusbimdik. Semua clear, tak ada temuan. Tak perlu paranoid juga, hadapi dan jelaskan saja kondisinya kenapa bisa lewat tahun. Dan di Matakin juga kebetulan ada pergantian pengurus.



Terima kasih pada kawan-kawan yang sudah mendukung, terutama Ir. Budi Wangsa Tedy—selaku arsitek dan Ketua Panitia Pembangunan—yang mewujudkan proyek ini menjadi nyata. Kita belajar berjiwa besar, Wang, walau tak mudah. Kita juga belajar mengenai arti persahabatan dan persaudaraan yang tulus, saling mendukung, dan saling menjaga. Bukan mencurigai dan tak peduli. Pembangunan itu ada yang kurang sesuai dengan harapan kita dan belum selesai. Tapi biarlah orang lain yang meneruskan. Yang penting kita telah berusaha dengan tulus dan jujur semampu kita berbuat untuk agama.

Terima kasih pada Ketua Harian Deroh Matakin, Ws. Budi Suniarto yang selalu percaya dan kepada Menteri Agama, Sekjen serta pak Mudoph, Kepala Pusbimdik Khonghucu Kemenag yang telah bersusah payah mengalokasikan dana bantuan untuk pembangunan, bukti keadilan dalam tindakan, bukan cuma kata-kata. 

Tak ada gading yang tak retak. Tian Maha Tahu. Tian melindungi kebajikan. (US)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU