MENGHADAPI MASALAH SESUAI KEHENDAK TIAN

Salam Kebajikan,

Apakah ada manusia yang tidak mengalami masalah? Jawaban: Ada, di kuburan. Setiap manusia mempunyai masalah dalam kehidupannya. Ada masalah besar, sedang, dan kecil.

Baru saja saya menghadapi masalah, saat saya telah selesai menulis blog mengenai topik masalah ini, seluruh hasil pemikiran saya yang dituangkan dalam tulisan, terhapus total tak berbekas dan tak bisa dipulihkan kembali, hanya karena kesalahan kecil, padahal tulisan itu tinggal saya copy ke blog. Jadi tulisan yang sekarang Anda baca tidak persis sama dengan apa yang saya tulis kemarin. Saya tak punya daya ingat yang mampu meng-copy dengan sempurna apa yang saya tulis. Walau ada rasa dongkol dan menyesali kebodohan yang saya lakukan, saya memutuskan untuk menulis kembali topik yang sama.

Saat mengalami masalah, Anda dan saya bisa saja memilih untuk menghindar, berkeluh gerutu, menyesali, menyalahkan asal-usul, menyalahkan orang lain, menyalahkan orang tua, menyalahkan alam, menyalahkan Tuhan, menyalahkan setan, menyalahkan karma, dan lain-lain.

Mengapa masalah hadir dalam kehidupan manusia? Apakah Tuhan memang menghendaki manusia hancur dan tercerai berai sehingga Tuhan puas? Ataukah masalah hadir dalam kehidupan manusia untuk suatu maksud tertentu?

Pertanyaan nyata namun tidak mudah untuk mendapat jawaban yang benar dan tepat sesuai dengan 'untuk apa kita dilahirkan/diciptakan di dunia ini'.

Berdasarkan pengalaman hidup, audio yang saya dengar, buku-buku dan kitab Sishu Wujing yang saya baca, setidaknya ada tiga hal mengapa masalah hadir dalam kehidupan manusia, yakni:
  1. Mengembangkan potensi diri. Kita dilahirkan dengan potensi diri yang perlu digali dan dikembangkan. Kita memperoleh karakter asal dalam jiwa kita, mempunyai bakat, inteligensia, beroleh anugerah nafsu, dan benih kebajikan. Kita juga memperoleh tubuh sebagai warisan ayah bunda yang perlu dijaga dan digunakan dengan penuh kehormatan karena tak mau memalukan orang tua. Masalah yang kita hadapi memungkinkan kita mengembangkan potensi diri agar dapat hidup sesuai dengan 'untuk apa kita dilahirkan/ diciptakan'. Dengan masalah kita bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

  2. Menyadari bahwa dalam kehidupan kita kadang berada pada arah yang salah, lalu memilih untuk bertanggung jawab, bukan melarikan diri, sehingga kehidupan selanjutnya berada dalam dao, yaitu hidup sesuai kehendakNya. Dengan pengalaman ini, kita belajar dan sadar akan nilai-nilai dasar yang dapat dan akan menjadi pegangan dalam seluruh perjalanan hidup kita menuju arah yang sesuai dengan 'untuk apa kita dilahirkan/diciptakan', hidup dijalani dengan didasari nilai-nilai kebajikan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan yang menjadi acuan bagaimana kita berjalan dan ke mana kita menuju.

  3. Memuliakan Tian. Dengan masalah kita tahu kebesaran dan kemuliaan Tian. Dalam menjalani kehidupan ada hal-hal yang acap tak kita mengerti mengapa menimpa kita. Masalah-masalah yang kita alami menyadarkan kita akan keterbatasan kita sebagai manusia dan tersadarkan akan kebesaran dan kemuliaanTian. Misalnya tiba-tiba ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi (anak yang masih kecil, isteri atau suami saat masih muda, adik, kakak, orang tua saat kita masih belum dewasa, atau sahabat) atau terkena penyakit yang sulit disembuhkan padahal kita merasa telah banyak berbuat kebajikan dalam kehidupan kita. Kita tak tahu jawaban atas keadaan ini dan kita tak dapat menjawab saat terjadi pada orang lain dan mereka bertanya mengapa hal ini terjadi. Dengan masalah yang terjadi dan kita tak tahu apa jawabannya, kita sadar bahwa seluruh perjalanan hidup kita adalah untuk memuliakan Tian dengan karya kemanusiaan kita. Masalah yang ada diterima dengan tulus dalam kelurusan sebagai firman.
Saat kita benar-benar menghadapi masalah, tak semudah yang saya tuliskan ini. Mempersiapkan diri sejak dini, untuk menyongsong saat gelap datang dengan sikap yang tepat dan benar adalah langkah bijaksana. Saya dan Anda perlu belajar dan berlatih membina diri, sambil tak lupa mengasah kecerdasan batin agar masih tetap ada cahaya. Sehingga kegelapan tak mampu berkuasa lama, karena ada cahaya kebajikan dan iman yang menerangi perjalanan selanjutnya.

Dengan persiapan yang cukup, Anda akan mampu bersikap dan bertindak bijaksana saat berhadapan dengan masalah atau orang bertanya tentang masalah yang dihadapi di luar nalarnya.

Bagaimana Anda dan saya hidup yang tak pernah luput dari masalah, akan menentukan apakah saat Anda dan saya berpulang keharibaan kebajikan Tian, akan diwisuda sebagai lulusan TK, SD, SMP, SMA, S1, S2 atau S3 kehidupan.

Bukankah berpulang itu adalah saat wisuda kita? (US) 3031072019


Renungan: Mengzi VIIA: 1-7, Mengzi VB: 18, VIB: 15, IVB: 28.7, Lunyu IV: 8.

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU