DITAWARKAN: PEMBINAAN MAHASISWA DAN PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU DI PT

Salam Kebajikan.

Tidak terasa semester ganjil tahun ajaran 2019-2020 akan segera dimulai, saya telah memasuki 18 semester atau 9 tahun mengajar mata kuliah wajib umum Agama Khonghucu di Universitas Tarumanagara Jakarta.

Di Universitas Tarumanagara, Mata Kuliah Umum dan Mata Kuliah Wajib Umum termasuk Agama Khonghucu diajarkan setiap semester, baik semester ganjil maupun genap. Xie Tian Zhi En, selama 18 semester saya mengajar, di setiap semester, baik ganjil maupun genap, selalu ada mahasiswa yang mengikuti perkuliahan agama Khonghucu. Dalam hal ini saya boleh sedikit berbangga dan juga prihatin. Rasanya sampai saat ini saya pemegang rekor mengajar mata kuliah agama Khonghucu terlama tanpa terputus di Universitas yang ada di Indonesia. Di lain pihak, saya prihatin karena belum semua Universitas di Indonesia mengajarkan Mata Kuliah Agama Khonghucu dengan berbagai alasan.

Salah satu kepuasan yang didapat sebagai seorang dosen agama adalah saat mahasiswa merasa memperoleh manfaat dan terinspirasi dengan materi pendidikan agama yang diajarkan. Menjadi dosen agama Khonghucu bukanlah ladang untuk mencari uang tempat kita menggantungkan hidup. Kalau uang adalah motivasi kita mengajar, maka kita akan kecewa dan keluarga kita takkan dapat kehidupan yang layak, bahkan uang yang diperoleh takkan cukup untuk hidup seminggu. Saya tak tega kalau mengatakan sisa sedikit setelah digunakan untuk ongkos.

Pekerjaan ekstra yang juga menjadi tantangan tersendiri dan memerlukan konsistensi serta tekad membaja adalah membina para mahasiswa Khonghucu di kampus-kampus. Sudah delapan tahun, sejak tahun 2011, saya menjadi pembina Keluarga Besar Mahasiswa Khonghucu di Jakarta, mulai dari satu universitas, Bina Nusantara, sekarang telah berkembang menjadi tiga universitas di empat lokasi berbeda yang tersebar di DKI, Serpong, dan Depok.

Menjadi dosen agama Khonghucu dan pembina KBMK adalah bentuk pengabdian yang jauh dari hingar bingar dan ketenaran tapi benar-benar perlu tekad baja, persistensi, dan konsistensi. Dalam seminggu, hampir sepanjang tahun, kita perlu menyediakan waktu 2-3 hari pada waktu hari kerja, meninggalkan pekerjaan pokok untuk memenuhi tugas pengabdian ini.

Saya rasa, sudah saatnya 'pekerjaan' ini perlu digantikan oleh yang lain. Saya sudah meminta Ketua Harian Deroh dan juga Ketua DPN PAKIN agar KBMK dimasukkan dalam naungan PAKIN dan kegiatan mingde (kelas kebajikan) yang dilaksanakan setiap hari Jumat siang agar diambil alih. Delapan tahun menjadi pembina saya rasa sudah cukup. Jangan sampai para mahasiswa jenuh mendengarkan suara saya hampir setiap minggu. Sekarang KBMK relatif sudah established dan mendapat dukungan universitas, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Pembina berikut tinggal meneruskan dan mengembangkan agar menjadi lebih baik dari saat ini. Sampai hari ini saya masih menunggu kabar realisasinya.

Terlebih lagi, delapan tahun terakhir, hampir setiap jumat, dalam waktu yang nyaris bersamaan saya harus menunaikan tugas sebagai anggota adhoc Dewan Kehormatan Peradi mewakili tokoh masyarakat (Khonghucu) yang membuat seringkali saya harus pontang-panting mengejar waktu, agar para mahasiswa dapat melaksanakan mingde, di lain pihak saya juga harus menunaikan tugas sebagai hakim adhoc dalam pelanggaran kode etik di Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI). Dua tahun lagi masa bakti kedua saya sebagai anggota DKD Peradi akan berakhir, perlu pula ada yang menggantikan.

Menjalani pengabdian ini tidaklah mudah, di samping kepuasan, kadang ada rasa kecewa dan dongkol. Tak jarang, sudah jauh-jauh hadir, mengorbankan waktu, biaya dan tenaga, tak ada mahasiswa yang hadir atau hanya 1-2 mahasiswa yang hadir. Beberapa kejadian, saat dilaksanakan event, sebagai pembina kurang mendapat perlakuan yang layak dan terabaikan. Menghadapi situasi seperti ini saya harus tetap tersenyum dan cool, bukan marah-marah atau menggerutu agar mahasiswa nyaman, kerasan dan aktif menjadi anggota KBMK. Itu bunga-bunga pengabdian yang memerlukan kebesaran jiwa, tempat saya mengasah diri untuk menjadi orang yang lebih sabar dan maklum. Tak mudah.

Untung saja, saya memang suka mengajar (plus belajar), dan pada waktu muda, saya mempunyai teladan luar biasa dalam pengabdian tanpa pamrih pada diri guru dan pembina saya di PAKIN, Buletin Genta Rohani, dan di Senam Olahraga Silat Genta Suci. Tak pernah menonjolkan diri, tak mengejar jabatan, dan berpuluh tahun terus berkarya tanpa peduli pada ketenaran. Tak banyak orang seperti beliau. Pengabdian saya tak sebanding dengan apa yang telah diteladankan. Keteladanan inilah yang selalu membuat saya bertahan dan bangkit saat kekecewaan menerpa.

Saya bukanlah tipe orang yang mudah puas. Sebagai seorang koleris-sanguinis, saya berbeda dengan guru saya. Saya tak dapat terus melakukan hal rutin yang sama selamanya. Saya cenderung pembosan dan ingin melakukan hal berbeda setelah melakukan sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Saya memerlukan tantangan baru dan ingin menyelesaikan apa yang telah saya mulai lebih dari dua dekade lalu di bisnis saya. Saya akan mengalihkan fokus dan kerja keras saya untuk mencapai goal dan impian dalam hidup saya yang selama ini tertunda karena kesibukan organisasi. Saya tak terbiasa untuk bekerja tidak all out.

Saya berpikir sekarang waktu yang tepat untuk mengubah arah, kembali fokus mengurus bisnis yang sudah saya tinggalkan hampir sepuluh tahun, dalam status saya sebagai orang tua tunggal dan pilar ekonomi bagi tiga anak yang sekarang telah mulai menginjak dewasa dan remaja selama 8 tahun terakhir. Anak-anak telah begitu banyak bersabar dan berkorban di saat mereka memerlukan perhatian orang tuanya. Saya meyakini, bila dapat mencapai apa yang selama ini tertunda, akan lebih banyak sumbangan dan karya yang dapat dilakukan bagi umat dan masyarakat pada umumnya.

Saya menuliskan tugas pengabdian ini di blog saya dengan harapan ada yang terpanggil untuk menggantikan dan menikmati nasi bungkus paling enak di dunia, di kampus tempat kita mengabdi, karena diberikan sebagai tanda kasih mahasiswa pada kita sebagai pembina.

Kata orang yang religius, pekerjaan ini untuk tabungan masa depan. Upahnya besar di surga. Saya mengajak Anda untuk menabung dengan menggantikan saya. Sudah saatnya saya kembali menabung bukan untuk nanti, tapi untuk kini, agar balance. Mengisi puzzle-puzzle yang selama ini kosong, tak sempat diisi, menjadi gambar yang utuh. Saya kagum pada ketulusan Yan Yuan, tapi Nabi punya murid lain bernama Zi Gong yang punya talenta di bidang berbeda.

Saya bukan mereka, saya adalah saya yang punya mimpi sendiri di zaman yang berbeda. (US) 31072019

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU