PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU DI SEKOLAH

Salam Kebajikan,

Dengan dikeluarkannya PP 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, yang kemudian diikuti dikeluarkannya Permendiknas No. 47 tahun 2008 tentang Standar Isi Pelajaran Agama Khonghucu dan No. 48 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pelajaran Agama Khonghucu, maka Pelajaran Agama Khonghucu secara resmi kembali diajarkan di sekolah-sekolah setelah selama lebih dari 3 dekade dimarginalkan. Sayang, entah mengapa hingga hari ini Peraturan Menteri Agama mengenai pendidikan keagamaan Khonghucu belum terlihat tanda-tanda akan dikeluarkan, padahal lima agama besar lainnya telah mempunyai Peraturan Menteri Agama mengenai pendidikan keagamaan. Seharusnya Pusbimdik Khonghucu di Kementerian Agama menjadikan hal ini prioritas utama, bukan hanya mengurusi hal-hal yang derajat prioritasnya lebih rendah.

Beriringan dengan keluarnya Permendiknas 47 dan 48 tersebut diadakan 'sayembara' penulisan buku teks pelajaran agama Khonghucu untuk SD sampai dengan SLTA yang ketika itu dimenangkan oleh tim penulis dari Surabaya. Semenjak buku tersebut terbit, telah dilakukan beberapa kali pembaharuan buku sesuai perkembangan sosial kemasyarakatan yang terjadi dan kurikulum yang juga mengalami pembaharuan. Pembaharuan terakhir adalah penulisan buku berdasarkan Kurtilas, atau Kurikulum tahun 2013.

Sejak awal akan dikeluarkannya Permendiknas, telah dilakukan upaya-upaya untuk membuat Standar Isi dan silabus mengenai pendidikan agama Khonghucu yang sesuai dengan perkembangan yang ada, tapi sayang sekali tidak terjadi perubahan signifikan.

Standar Isi yang ada masih menggambarkan pendidikan keagamaan dan bukan pendidikan agama. Padahal tujuan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan tidaklah sama. Analoginya, bobot materi pelajaran agama bagi siswa di pondok pesantren dan madrasah (pendidikan keagamaan) tentu saja berbeda dengan siswa di sekolah umum (pendidikan agama). Seorang siswa di sekolah keagamaan semacam pesantren dididik bukan saja menjadi seorang yang berperilaku luhur budi, tapi juga disiapkan menjadi seorang ahli agama, sedangkan pendidikan bagi siswa di sekolah umum adalah agar siswa menjadi seorang yang luhur budi dan tidak disiapkan menjadi seorang ahli agama.

Dengan demikian, titik berat standar isi pelajaran dan standar kompetensi lulusan yang kemudian dituangkan dalam bentuk buku dan materi pembelajaran tidak sama.

Dalam pandangan saya, para pakar pendidikan, penulis buku, dan para pengajar agama Khonghucu gagal memahami perbedaan kedua hal ini (seperti juga agama lain) sehingga materi pembelajaran dan buku yang dibuat tidak menuju pada sasaran pendidikan agama di sekolah umum yang ingin membentuk siswa yang berbudi luhur. Artinya menjadi siswa Khonghucu yang berbudi pekerti luhur, siswa yang berperilaku baik, sopan, jujur, tulus, hormat, berbakti, dapat dipercaya, dan beretika. Bukan sekedar siswa yang hafal sejarah, hafal hari-hari besar agama, hafal delapan keimanan, pandai menyusun perlengkapan sembahyang, tahu bahasa kitab, dan bisa menjadi petugas kebaktian.

Kegagalan memahami maksud pendidikan agama inilah yang menjadikan bangsa Indonesia berada di persimpangan jalan dalam pendidikan agama sehingga timbul gagasan dihapusnya pelajaran agama di sekolah karena menurut kelompok ini pelajaran agama di sekolah justru menyebabkan siswa terkotak-kotak dan eksklusif.

Maksud pendidikan agama di sekolah—dan sebetulnya merupakan poin terpenting—adalah memberi kontribusi dalam pembentukan sikap dan perilaku siswa atau bisa dikatakan sebagai pembentukan karakter siswa menjadi siswa yang mempunyai sikap dan perilaku baik (Junzi) berdasarkan ajaran agama. Dengan demikian materi pembelajaran bagi siswa bukanlah hafalan mengenai hal-hal yang telah saya kemukakan di atas. Jadi menurut pendapat saya, materi mengenai Yin Yang, Tian Di Ren, Tujuan Hidup serta Ketuhanan, Nabi dan Shen Ming perlu diajarkan di awal (15%) dan di akhir (5%-10%) sehingga siswa tahu (atau lebih baik lagi bila memahami) kemana hidup mereka menuju; mengapa mereka harus berkarakter baik dan berbuat baik; berbudi pekerti luhur dan mampu mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, dan masyarakat bangsa, negara dan dunia tergantung tingkat usia mereka.

Pengajaran mengenai peribadahan atau sejarah misalnya, siswa mestinya lebih ditekankan mengenai maknanya bagi pembinaan diri, bukan mengarahkan siswa menghafal. Begitu pula mengenai ba cheng zhen gui atau delapan keimanan semestinya diajarkan mengenai contoh sikap dalam praktek keseharian, bukan hafalan. Pengajaran seperti ini memang jauh lebih sulit bagi para guru, guru pun harus memberi keteladanan dalam sikap dan karakter, guru menjadi orang yang digugu (diikuti) dan ditiru, karena mempraktekkan apa yang diajarkannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Siswa akan mencontoh apa yang dilakukan guru ketimbang apa yang diajarkan dalam kata-kata. Mengajar agama jauh berbeda dengan mengajar ilmu pengetahuan lain.

Buku-buku pendidikan agama sekarang ini khususnya pendidikan agama Khonghucu perlu ditinjau kembali dan diperbaiki (untuk agama Khonghucu upaya perbaikan standar isi telah mulai dilakukan). Menurut pendapat saya, konten buku seharusnya 70-80% mengenai nilai-nilai kebajikan dan budi pekerti luhur yang didasarkan spiritualitas agama Khonghucu dan metode pembelajaran perlu diperbaiki bagi generasi millennial dan generasi Z yang mempunyai karakteristik berbeda. Generasi millennial (1978-1995) adalah generasi yang lebih menyukai kolaborasi, sebaliknya generasi Z (1996-sekarang) adalah generasi yang lebih mandiri.

Mengubah cara berpikir yang telah berakar bertahun-tahun tidaklah mudah. Apalagi para guru agama, khususnya guru agama Khonghucu berasal dari generasi X (1965-1977) dan baby boomers (1946-1964) yang mempunyai cara berpikir berbeda pula. Tanpa upaya perbaikan yang signifikan, pelajaran agama akan semakin tidak mengena bagi para siswa dan tujuan yang ingin dicapai dari pengajaran agama di sekolah tidak akan tercapai.

Perbaikan akan dapat dilakukan dengan niat yang sungguh-sungguh, bukan dengan kerja setengah hati dan asal jadi. Memahami tujuan pendidikan agama yang berbeda dengan pendidikan keagamaan (khususnya Khonghucu) adalah langkah awal yang tak bisa ditawar-tawar supaya kita tidak salah melangkah, selanjutnya memahami perubahan generasi dan jaman yang sedang terjadi tak kalah pentingnya agar langkah perubahan yang akan dilakukan akan mengena dan tepat sasaran.

Untuk para penulis dan guru agama Khonghucu, sebetulnya bukanlah hal yang sulit untuk menemukan materi-materi yang sesuai karena 90% lebih kitab suci agama Khonghucu—khususnya Sishu—mengajarkan tentang kehidupan, karakter, sikap, dan perilaku yang timbul karena spiritualitas yang meraga. Karena doktrin dasar agama Khonghucu adalah setiap manusia telah dianugerahi Firman Tian dalam dirinya berupa benih-benih kebajikan watak sejati.

Agama menuntun manusia untuk menempuh dao (jalan suci), yaitu berbuat mengikuti watak sejati, firman Tian dalam dirinya.

Sesederhana itu. 

Hanya saja kita sendiri yang sering membuatnya menjadi kompleks dan ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh agama lain. (US) 08072019

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU