PERNIKAHAN DAN PENDIDIKAN PRANIKAH

Salam Kebajikan,

Banyak orang yang beranggapan setelah pernikahan segala sesuatunya tidak jauh berbeda, bahkan tidak berbeda dengan sebelum menikah. Itu keliru besar. Walaupun sudah berpacaran lama dan sering bersama-sama tidak berarti kedua sejoli akan harmonis dalam pernikahan. Hidup sebagai seorang yang menikah dengan seorang yang belum menikah sangat jauh berbeda. Dua orang yang tadinya hidup dalam keluarga berbeda dengan kebiasaan berbeda sekarang tinggal bersama dalam satu atap, bahkan di malam hari tidur bersama dalam satu ranjang. Hal-hal kecil sering menimbulkan pertengkaran dalam rumah tangga. Urusan handuk, tutup toilet, pasta gigi, kerapian tempat tidur, atau lipatan baju bisa menimbulkan pertengkaran. Apalagi urusan membantu keluarga, aktifitas organisasi atau sosial, kebiasaan dan keyakinan yang telah mendarah daging, semua terbuka dan dapat dilihat serta dirasakan oleh kedua belah pihak. Sangat berbeda dengan saat pacaran, karena kedua sejoli belum hidup bersama dalam ikatan suci pernikahan yang mempersatukan, bukan saja dua pribadi tetapi dua keluarga. Ikatan pernikahan perlu ditabuh dengan harmonis seperti seperangkat alat musik yang berbeda sebagai suatu orkestra. Laki-laki dan perempuan itu berbeda, apalagi ditambah mertua, ipar, dan anak-anak.

Di negara Barat yang menganut kebebasan individu, banyak laki-laki dan perempuan hidup bersama selama kurun waktu tertentu seperti layaknya suami istri walaupun mereka belum terikat oleh ikatan suci pernikahan, tapi nyatanya angka perceraian sangat tinggi. Kenapa? Karena hidup berumah tangga dalam pernikahan suci berbeda dengan sekedar hidup bersama. Ada kewajiban, hak dan tanggung jawab di dalamnya bagi kedua belah pihak. Keputusan pun diambil melibatkan kedua belah pihak.

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu pemerintah Indonesia berupaya agar suatu ikatan pernikahan didahului dengan pendidikan pranikah. Hal ini diperlukan agar calon suami istri dibekali ilmu rumah tangga, sehingga bisa saling memahami. Walau tentu saja ilmu yang masih merupakan teori sering kali tak mudah dilaksanakan dalam praktek. Tapi belajar dari buku hasil pengalaman orang lain dan kitab suci yang berasal dari para nabi berdasar wahyu Tian lebih kecil resiko, pengorbanan, dan dampak yang harus dirasakan ketimbang harus mengalami sendiri dengan trial and error.

Saya pernah diminta untuk memberi pendidikan pranikah dan nasihat kepada sepasang pengantin di Jakarta, tapi tidak jadi, karena rohaniwan yang akan me-liyuan keberatan dan beranggapan beliaulah yang berhak memberi pembekalan dan nasihat pernikahan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, tentu saja saya tidak memaksa untuk menjadi seorang yang sok pintar memberi pendidikan pranikah dan nasihat pernikahan karena diminta orang tua mempelai. Sebagai jalan keluarnya, saya mempersiapkan tulisan 'nasihat' pernikahan agar dapat dibaca dan dijadikan salah satu pegangan dalam membina rumah tangga.

Di lain kesempatan saya juga pernah me-liyuan pasangan pengantin di Kelenteng Talang Cirebon karena pengantin ingin saya yang me-liyuan, padahal saya sudah anjurkan agar di-liyuan oleh rohaniwan, kebetulan di Cirebon tidak ada rohaniwan. Beberapa hari sebelum menikah, pengantin pria menelpon saya kembali, ingin agar saya yang me-liyuan. Tentu saja saya tak mau melanggar ketentuan yang ada, karena akan membawa konsekuensi secara rohani dan yuridis. Ternyata berdasarkan surat dari Kaderoh Matakin dan sesuai Tata Agama Khonghucu, sebagai seorang wakil ketua umum Matakin saya dimungkinkan untuk melaksanakan liyuan pernikahan di Makin Cirebon karena tak ada rohaniwan di sana. Pada kesempatan tersebut saya juga menyampaikan tulisan mengenai nasihat pernikahan sebagai pegangan mempelai membina rumah tangga.

Kedua pasangan yang saya sebutkan di atas adalah pasangan berbeda agama yang memilih untuk liyuan pernikahan. Pasangan-pasangan seperti ini akan semakin sering kita temukan. Pertanyaannya adalah setelah mereka menikah, apakah mereka menjadi keluarga Khonghucu? Apakah mereka benar-benar siap untuk berumah tangga? Bagaimana mereka dapat memahami pasangan hidup? Apa pegangan mereka saat menghadapi persoalan dalam kehidupan rumah tangga? Apa yang mesti dilakukan saat rumah tangga mengalami krisis? Bagaimana anak-anak mereka? Dan banyak lagi hal yang akan dihadapi di rimba kehidupan yang bernama keluarga. Menabuh alat musik agar harmonis bak orkestra bukanlah pekerjaan mudah. Maka perlu dipersiapkan agar dapat langgeng. Pendidikan pranikah adalah salah satu cara yang penting dalam mempersiapkan umat dalam berumah tangga dengan rukun harmonis dan sesuai dengan tujuan suci pernikahan itu sendiri sesuai dao.


Pendidikan Pranikah sangat penting untuk memberi pembekalan pada umat dalam kehidupan modern dengan kompleksitas tersendiri, dimana etnis, suku, nilai-nilai sosial, ekonomi, agama, dan budaya yang berbeda saling bertemu.

Materi yang perlu diberikan dalam pendidikan pranikah dalam 6-8 pertemuan sekurangnya mencakup:
  1. Makna dan tujuan pernikahan sesuai ajaran agama.
  2. Yin Yang.
  3. Memahami pasangan:
    a. Beda cara berpikir laki-laki dan perempuan.
    b. Lima Bahasa Kasih.
    c. Personality.
  4. Memahami dan mendidik anak-anak.
  5. Sex Education.
  6. Spiritualitas persembahyangan dan Persembahyangan di rumah.
  7. Tata cara upacara liyuan teori dan praktek.
  8. Pernikahan suci adalah komitmen dalam keadaan senang dan susah.
  9. Meneguhkan pernikahan.
  10. Dan lain-lain.
Sudah selayaknya pendidikan pranikah dilaksanakan untuk mempersiapkan calon pengantin mengarungi rumah tangga dengan bekal memadai baik secara biologis, psikis, agama, dan spiritualitas. Agar saat mereka mengarungi rumah tangga tetap mengingat makna suci pernikahan, saling memahami satu dengan lain, mampu mendidik anak dan berkomitmen untuk membina keluarga rukun harmonis dalam upaya pengabdian pada Tian dan leluhur serta mempunyai pelanjut dikemudian hari sebagai anak berbakti. Pernikahan bukan hanya mencakup hubungan fisik tapi juga mental-spiritual.

Tanpa upaya pendidikan pranikah, dikhawatirkan akan semakin banyak pasangan yang hanya sekedar menumpang liyuan secara agama Khonghucu lalu setelah itu kehilangan pegangan, tak menjalankan rumah tangga sesuai dao yang diajarkan Nabi, tak mengimani agama Khonghucu, memilih jalur yang berbeda, dan angka perceraian meningkat. Tak elok bila lembaga agama, para tokoh dan rohaniwan Khonghucu tidak berupaya melakukan tugas pokok yang mulia ini. Langkah awal yang mesti dilakukan adalah membuat buku pegangan untuk pendidikan pranikah. 

Kita tak boleh semakin ketinggalan kereta. (US) 16072019

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU