SEPULUH TEMA KOTBAH YANG DIBUTUHKAN UMAT

Salam Kebajikan,

Dalam beberapa kesempatan saya mendapat undangan untuk memberikan uraian agama, khotbah, atau jiangdao di beberapa bio/miao/kelenteng dan litang berbagai daerah. Saya pribadi lebih suka menggunakan istilah uraian agama, atau bila mau menggunakan istilah yang dianggap lebih agamis (Khonghucu) oleh sebagian orang, saya lebih memilih istilah ming cheng, menggemilangkan iman dibanding jiangdao yang merupakan terjemahan dari khotbah ke dalam huayu.

Pertanyaan besar yang mengemuka adalah materi apa yang sebaiknya disampaikan saat khotbah atau uraian agama?

Sebagian pengkhotbah memilih untuk menguraikan ayat dalam Sishu Wujing melalui interpretasi pribadi, kajian etimologi yang mempelajari asal usul suatu kata atau melalui hermeneutika, yang mempelajari tentang interpretasi makna dengan menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan. Etimologi adalah cabang dari ilmu linguistik. Hermeneutika adalah cabang dari filsafat.

Memahami asal-usul dan makna suatu kata, dalam hal agama Khonghucu aksara wenyan adalah penting dan perlu agar dapat menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan suatu aksara yang terangkai dalam ayat dengan tepat atau mendekati kebenaran arti dari ayat tersebut. Tidak mudah untuk menjadi seorang yang mampu melakukan ini karena sang pengkhotbah harus memahami ilmu linguistik, hermeneutika, sejarah, antropologi, dan sosiologi serta telah memperoleh benang merah dari Sishu Wujing, agar dapat menafsirkan, memberi pemahaman atau menerjemahkan suatu aksara dan ayat seperti dimaksudkan saat suatu perkataan atau sabda yang sekarang dituangkan dalam ayat suci diucapkan, bukan sekedar otak-atik aksara wenyan dari kacamata yang bersangkutan. Diperlukan kehati-hatian dalam melakukan khotbah atau uraian agama dengan pendekatan seperti ini, apalagi khotbah atau uraian merupakan komunikasi monolog, bukan dialog seperti dalam diskusi.

Saya selalu merasa kagum dengan orang-orang yang mampu menjelaskan ayat dengan pendekatan ini. Sejak saya masih di Bandung beberapa dekade yang lalu, saya banyak belajar dari guru saya mengenai ayat-ayat pokok dalam Sishu melalui pendekatan ini dalam tulisan dan diskusi. Ya, melalui tulisan dan diskusi, bukan melalui khotbah atau uraian agama. Pendekatan etimologi dan hermeneutika lebih cocok dijabarkan dalam tulisan dan diskusi. Melalui tulisan, pembaca dapat membaca berulang-ulang, mengkaji, dan mencari referensi lain. Melalui pemaparan dalam diskusi, peserta diskusi dapat bertanya untuk mendalami, mengemukakan pandangan dan menyanggah bila mempunyai pandangan berbeda. 

Diskusi dan kajian 'berat' seperti ini biasanya hanya diminati oleh sedikit umat yang memang tertarik mendalami agama. Sebagian besar umat tidak tertarik dan merasa diskusi dengan tema seperti ini terlalu berat dan memusingkan serta tak melihat relevansinya dengan kehidupan pribadinya. Biasanya diskusi seperti ini pada awalnya diikuti sebagian besar umat, tapi setelahnya tinggal tersisa segelintir orang.

Di era tahun 1980–1990-an dalam MIDK Genta Rohani Makin Bandung ada satu rubrik "Lembah Kasus" (Lembaran Bahasa Kitab Ayat SuSi) di bawah asuhan Suhu Chew Kong Giok, rubrik ini merupakan salah satu tempat belajar etimologi.

Kalau kajian etimologi dan hermeneutika cocok dilakukan dengan diskusi atau tulisan dan diminati oleh segelintir umat, lalu tema apa yang cocok dipilih dalam khotbah atau uraian agama yang lebih bersifat monolog itu?

Pada dasarnya sebagian besar umat hadir beribadah adalah ingin memperoleh pegangan hidup dan mencari inspirasi dalam menjalankan kehidupannya agar dapat mengatasi persoalan, memperoleh jalan keluar, dipenuhi ketenteraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan, baik selama hidup di dunia maupun saat dia berpulang. Mereka tak berminat terhadap ilmu agama yang rumit dan membutuhkan pemikiran mendalam. Tanggung jawab dan tantangan hidup yang dihadapi sehari-hari sudah menjadi beban tersendiri yang menguras energi dan pikiran.

Mereka kurang merasa perlu kajian-kajian filsafat seperti hermeneutika atau kajian etimologi, dan pada umumnya kurang merasa perlu kajian ayat yang terlalu letterlijk menguraikan pemahaman ayat. Pada umumnya mereka ingin tuntunan hidup, contoh-contoh praktis kebajikan yang bisa diteladani dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, syukur-syukur dapat mendekatkan hubungan dengan Tian, mengharmoniskan hubungan suami isteri, tuntunan mendidik anak, memberi harapan saat menghadapi kesulitan dan penderitaan, kunci kesuksesan, memahami dan dipahami, dan lain-lain yang berkenaan dengan kehidupan dan kematian. Masing-masing generasi tentu saja berbeda. Generasi Baby Boomers, tentu berbeda dengan Generasi X, Y (milenial) dan Z. Teknik penyampaiannya juga mungkin berbeda, namun ada tema-tema tertentu yang dibutuhkan lintas generasi.

Menurut penelitian, pada umumnya ada 5 ketakutan yang dirasakan oleh manusia yaitu: kematian, kehilangan, kegagalan, kemiskinan, dan penolakan. Ditambah dengan 5 hal yang umum ingin dicapai dan didambakan oleh manusia: kebahagiaan, kesuksesan, kesehatan, keselamatan, dan keharmonisan. Sepuluh tema pokok inilah yang hendaknya dapat dipaparkan dalam khotbah yang dapat memberi tuntunan dan inspirasi pada umat. Khotbah atau uraian agama yang dibutuhkan umat pada umumnya adalah mengenai kesepuluh tema utama tersebut yang dijabarkan dalam bahasa pendidikan agama (perilaku), sharing kehidupan dan inspirasi. Dengan kata lain khotbah atau uraian agama bertujuan memberi inspirasi dan tuntunan pada umat untuk menjalankan kehidupan. Memberi tuntunan untuk mengatasi 5 ketakutan dan mencapai 5 hal yang didambakan. Kalaupun ingin dimasukkan kajian hermeneutika atau etimologi atau uraian ayat sebaiknya tidak lebih dari 25–30% dari isi dan waktu khotbah atau uraian agama.

Bagaimana dengan hermeneutika, etimologi, dan uraian/pemahaman ayat? Tetap sangat diperlukan dalam diskusi agama atau DAK yang diikuti oleh segelintir umat dan rohaniwan yang memang berminat mendalami ilmu agama dan nantinya bisa menjadi bekal saat memberi uraian agama atau khotbah dengan penyampaian yang berbeda. 

Lalu bila dilaksanakan diskusi yang melibatkan banyak umat, apa isinya? Kembalilah kesepuluh tema di atas. 

Tentu tak mudah untuk melakukannya, karena perubahan itu membutuhkan persiapan dan kesiapan. (US) 19072019

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

MEJA ABU LELUHUR

TAHUN BARU