UNTUK APA BERGOSIP DAN MEMBICARAKAN TOPIK TAK RELEVAN

Salam Kebajikan,

Setelah pada tanggal 20 Oktober 2019 dilaksanakan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI, pada tanggal 23 Oktober telah dilaksanakan pelantikan Kabinet Indonesia Maju. Dalam kedua peristiwa kenegaraan penting tersebut, banyak pro dan kontra mengiringi. Selalu ada yang setuju dan tidak setuju hampir pada setiap peristiwa. Itu hal yang lumrah.

Waktu dan apa yang dikerjakan yang akan membuktikan apakah pilihan yang dibuat tepat atau tidak. Sebagai warga negara, saya hanya perlu mengucapkan selamat bertugas, bekerja keras, dan mengabdi kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih beserta seluruh jajaran kabinet yang sedang terus dilengkapi, semoga apa yang dicita-citakan dalam Pembukaan UUD NRI 1945 dapat terwujud.

Saya tak mau ikut berpolemik. Saya juga tak mau menuliskan opini atau ulasan mengenai peristiwa politik dan kenegaraan tersebut dalam blog ini maupun media sosial pribadi saya.

Mengapa? 

Alasannya:
  1. Presiden dan Wakil Presiden serta para Menteri serta pejabat negara yang lain kecil sekali kemungkinannya membaca blog ini.
  2. Menulis sesuatu yang tidak diketahui dengan benar dan jelas sama saja dengan bergosip dan hanya menghabiskan waktu dan kata-kata.
  3. Dengan membuat opini serta ulasan yang saya kurang pahami dapat menimbulkan kesalahpahaman dan perselisihan dengan para pendukung fanatik atau pihak-pihak yang tidak setuju.
  4. Kalaupun saya setuju atau tidak setuju, biarlah menjadi konsumsi pribadi bersama orang-orang terdekat, sambil mendoakan semoga para abdi negara bekerja dengan tulus ikhlas untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan kepentingan kelompok dan golongannya sendiri.

Jadi, yang ingin saya katakan adalah saya hanya mau membuat catatan, opini, dan ulasan yang relevan dengan pembaca. Saya juga akan melakukan hal yang sama pada saat saya mendapat kepercayaan untuk memberi uraian agama atau khotbah. Saya akan berupaya memberi uraian agama atau khotbah yang relevan dengan pendengar saya.

Dalam mengajar pun demikian, saya akan berusaha membawakan topik yang relevan dengan mahasiswa. Syukur-syukur kalau dapat memberi inspirasi. Kalau tidak membawakan hal yang relevan, sama saja dengan menyia-nyiakan kata-kata dan waktu. Pada gilirannya saya akan kehilangan orang.

Saya seringkali membaca FB, grup-grup WA, IG dan Line yang isinya membuat saya mengernyitkan dahi. Bagaimana tidak? Aib keluarga diumbar, kelemahan pasangan dipertontonkan, gosip bertebaran, caci maki dan umpatan di tuliskan, tak sedikit hoax diforward tanpa diperiksa, hedonisme dipertontonkan, dan hal-hal lain yang tidak seharusnya diketahui umum dan semestinya cukup diketahui pribadi justru dituliskan atau dipertontonkan.

Pertanyaannya untuk apa? Untuk kebahagiaan? kepuasan? Kelihatan hebat? Mendapat bantuan? Sekedar latah? Apakah telah dipikirkan terlebih dahulu dampak negatif bagi kehidupan pribadi dan orang lain sebelum jempol menyentuh send atau upload?

Beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan seorang mantan anggota KBMK yang dahulu begitu bersemangat dan aktif dalam organisasi Khonghucu serta begitu rajin beribadah. Setelah itu dia menghilang bagai ditelan bumi. Asal tahu saja, orang tuanya tidak beragama Khonghucu dan dia pun dulunya bukan beragama Khonghucu, tapi kemudian dia menjadi umat Khonghucu bahkan memutuskan untuk liyuan umat.

Kenapa orang yang demikian bersemangat dan aktif 'tiba-tiba lenyap di telan bumi'?

Pada saat kami bertemu, dia bercerita bahwa dia sangat kecewa karena orang yang begitu dekat dengannya, dan di depan dirinya begitu baik, ternyata di belakang dia justru menyebarkan gosip negatif tentang dirinya, hingga akhirnya pada suatu hari, tanpa sengaja mantan mahasiswa KBMK ini mendengar dengan telinganya sendiri gosip yang diucapkan oleh 'sahabat' yang begitu dekat dengannya tersebut. Sejak kejadian tersebut, dia tak mau lagi hadir beribadah kebaktian. Untungnya hingga hari ini dia tetap menjadi umat Khonghucu dan beribadah ke kelenteng bersama suaminya. Dia sekarang menjadi seorang pebisnis yang cukup sukses.

Kejadian seperti ini acap terjadi di berbagai daerah. Kita kehilangan orang karena kata-kata.

Kalau ada aktivis yang awalnya begitu bersemangat tapi lalu 'hilang ditelan bumi' atau umat semakin berkurang, sudah waktunya kita introspeksi diri.

Kita perlu lebih berhati-hati dengan jempol dan mulut kita, apalagi jika kita mengaku sebagai umat Ru-Khonghucu, umat yang 'terpelajar' dan lembut hati. (US) 24102019

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

DUAN YANG (PEH CUN (?)) HARI SARAT MAKNA SPIRITUAL