BUAT APA MEMBANDING-BANDINGKAN DAN MENGKRITIK?

Salam Kebajikan,

Bagaimana reaksi Anda saat beberapa nilai rapor anak atau cucu Anda 100 (sempurna) dan beberapa yang lain ada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)? Apakah Anda spontan memuji nilai 100 ataukah mencela karena tidak mencapai KKM?

Apakah Anda bertanya pada anak Anda mengenai nilai kawan-kawannya? Apakah Anda membanding-bandingkan dengan orang lain atau Anda bertanya apakah dia sudah belajar dengan baik sehingga mencapai nilai-nilai tersebut? Reaksi Anda dan bagaimana Anda bertanya akan berbekas dan membentuk kepribadian mereka dalam kehidupannya.

Reaksi yang dianjurkan adalah memuji bukan mencela dan bertanya apakah dia sudah belajar dengan baik sehingga mencapai nilai-nilai tersebut bukan membanding-bandingkan dengan nilai teman-temannya. Dengan demikian mereka akan menghargai dirinya serta upaya yang telah dilakukannya. Dan pada saat mereka menghadapi masalah, mereka tidak menyalahkan orang lain tapi berupaya meneliti ke dalam diri untuk memperbaiki diri.

Sayangnya kita terbiasa mencela 'yang jelek' dan tidak melihat hasil kerja yang baik. Saya sering mendengar kritikan atas suatu acara yang telah dilaksanakan. Yang dilihat adalah kekurangan dari acara bukan mengapresiasi apa yang telah dilakukan. Kritik, apalagi dilakukan secara terbuka atau kasak kusuk di belakang lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya. Bahkan kritik secara pribadi yang dilakukan tidak pada waktu dan momen yang tepat, banyak menyebabkan kerenggangan dan bukan perbaikan.

Selalu membanding-bandingkan pun tidak dianjurkan. Biasanya kita membandingkan kelemahan anak/cucu dan diri kita dengan kelebihan orang lain. Hal ini menyebabkan harga diri yang rendah dan stress. Saat kita berlebihan membandingkan keunggulan kita dengan orang lain, timbul kesombongan. Lebih baik bandingkan diri kita hari ini dengan diri kita kemarin, dan apa yang hendak kita lakukan besok agar lebih baik.

Kalau pasangan Anda telah memasak untuk Anda, walaupun kurang asin atau kurang gurih tidak perlu dikatakan, bahkan saat pasangan Anda bertanya bagaimana masakannya. Katakan saja enak. Karena dia sudah tahu kok masakannya kurang enak.

Orang sebetulnya menyadari 'kekurangan' yang telah dia lakukan, tak perlu juga ditambah bebannya dengan kritik. Kecuali orang tersebut 'ndableg', dan kita tahu itu merupakan kesengajaan. Tentu ada pengecualiannya, misalnya dalam militer. Kasak-kusuk di belakang juga sangat tidak dianjurkan karena akan sampai juga pada yang bersangkutan dan akan menimbulkan permusuhan dan perselisihan.

Kita seringkali menginginkan 'kesempurnaan', kondisi ideal, kondisi 100%, nilai 100. Tapi kondisi itu jarang terjadi dalam kehidupan manusia. Manusia pun jarang memperoleh nilai 100 dalam bidang-bidang yang dia tekuni. Seorang yang genius matematika dan fisika, belum tentu bisa melukis, membuat puisi atau bermain musik dengan genius pula. Makanya Nabi dan orang suci itu tidak banyak, bahkan Nabi dan orang suci telah dipilih dan diturunkan Tian ke dunia, dunia tetap saja kita rasakan tidak 100% ideal.

Manusia tak luput dari kekurangan, kesalahan dan kekeliruan. Itu sangat manusiawi. Tak perlu selalu membanding-bandingkan dengan orang lain. Lebih bijaksana membangun spirit untuk berusaha lebih baik dan lebih baik lagi. Seorang junzi menuju ke atas, seorang xiaoren menuju ke bawah.

Saat muda saya suka mengkritik dan membanding-bandingkan, sekarang saya belajar untuk berubah dengan lebih menahan diri dan menutup mulut.

Tak terasa, tulisan ini adalah tulisan ke-100 sejak saya menulis pertama kali dalam blog www.uungsendana.com, pada tanggal 2 Januari 2019 dengan judul Afterlife. Tulisan ke 100 tidak berarti juga sempurna.

Saya sungguh berterima kasih pada Budi Wangsa Tedy (Wawang) yang telah begitu kreatif dan mengagumkan dalam merancang blog dan secara konsisten mengedit serta memberi gambar penuh makna bagi blog ini. Tak terbayangkan bila tak ada sentuhan tangan dan otak kreatifnya. Bakat seni saya sangat minim. Saya hanya berusaha terus belajar, mengasah diri dalam menulis dan menulis. Tak bisa juga dibandingkan dengan Wawang yang begitu kreatif.

Untuk apa juga dibanding-bandingkan, lebih baik saling mengisi, berkolaborasi. (US)20102019

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN