AKU ADALAH DIRIKU ADANYA

Di mana aku berada dalam perjalanan menangkap pantulan cahaya kemuliaan?

Kadang tertidur lelah di bawah bayangan rimbun nyaman pepohonan.

Kadang berkeringat dalam panas terik ke tak puasan.

Kadang meringkuk mengkerut di kedinginan nestapa ke tak berdayaan.

Kadang terpana tak tahu berada dimana, berputar-putar tak tentu arah.



Aku perlu memegang kompas penunjuk arah yang telah ditera pada arah yang tepat.

Aku tiba-tiba terjaga dari tidur panjangku di kereta yang salah, yang tak mengarahkanku pada pantulan cahaya.

Kudapati tubuhku compang camping tak bersepatu.

Rambut mulai memutih,

gigi gemeretak, dingin dan kelu.



Kutatap orang-orang tersenyum sinis berkecewis dengan tatapan tajam mengiris harga diriku bak sembilu.

Berkebalikan dengan khayalan tidurku...

Hidup bak ningrat yang selalu hadir di jamuan di istana raja, menginjak batu pualam bertatah emas,

Mengatur langkah sesuai birama dalam pesta kaum bangsawan,

Membusungkan dada di puncak dunia namun terasa sesak terikat dalam jerat keterpanaan bertatah mahkota pengabdian,

Kenyataan sering berbeda dengan panggung drama... 

Fana...



Kini aku berganti kereta asa.

Kuganti bajuku dan kubersihkan kembali tubuh dan jiwaku dan asaku dan semangatku...

Bukan apa... 

Karena aku tak lagi dalam kereta yang salah dan kompas yang kemarin terjatuh dalam tidur panjang telah ku genggam erat.



Sebentar lagi cahaya kemuliaan bukan fatamorgana akan kugapai.

Dan Aku dapat berteriak... 

Inilah AKU!

Bebas tak terpenjara!

Bahagia... 

Puas!



Dan Aku akan berkata peduli amat dengan mereka.

AKU bukan mereka.

AKU adalah diriku adanya.

Yang siap melangkah jauh tak terkira oleh mereka. (US) 12112019


Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

DUAN YANG (PEH CUN (?)) HARI SARAT MAKNA SPIRITUAL