TERIMA KASIHKU PADA IBU BAPAK GURU

Salam Kebajikan,

Kemarin adalah Hari Guru.

Pada momen itu saya teringat pada satu kejadian yang berkaitan dengan Guru.

Pada saat saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama pada tahun 1980-an, diadakan lomba mencipta lagu Hymne Guru tingkat nasional oleh pemerintah. Pada akhirnya Pak Sartono dengan lagu "Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" keluar sebagai pemenang. 

Dalam ingatan saya—entah mengapa—pada waktu itu tidak ada pemenang pertama, pak Sartono menjadi juara harapan. Setelah pengumuman lomba lagu tersebut, sekolah kami mulai berlatih menyanyikan lagu Hymne Guru:
Hymne Guru

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Sosok Guru adalah sosok yang penting dalam peradaban dunia. Dalam keyakinan agama Khonghucu Guru sejatinya adalah pembantu Tuhan YME.
Di dalam Kitab Shu Jing tertulis, "Tuhan YME menurunkan manusia, ada yang dijadikan raja, ada yang dijadikan guru dengan maksud membantu pekerjaan Tuhan Yang Maha Tinggi mencintai segenap umat di empat penjuru..."
—(Mengzi : IB.3)

Tak heran bila Nabi Kongzi disebut sebagai Guru Agung Sepanjang Masa karena Nabi Kongzi begitu dihormati sebagai Guru Agung umat manusia, Beliau bukan hanya membantu pekerjaan Tuhan Yang Maha Tinggi mencintai umat di empat penjuru tetapi juga sebagai Muduo Tian yang menuntun manusia kembali hidup dalam dao.

Nabi Kongzi adalah Guru Pertama yang mengajar murid dari berbagai kalangan, tidak terbatas kaum bangsawan. Hanya dengan membawa seikat dendeng saja, seseorang dapat diterima jadi murid Beliau. Karena Nabi Kongzi begitu dihormati dan dimuliakan, Beliau mendapat panggilan kehormatan Kong Fuzi 孔夫子 atau dalam bahasa hokkian Khong Hu Cu. Istilah Fuzi 夫子 menempati tempat yang sangat mulia dalam tradisi budaya Huaxia. Fuzi digunakan untuk penghormatan tertinggi terhadap seorang Guru Besar.

Pada suatu masa, kedudukan Guru adalah kedudukan yang sangat mulia dan terhormat. Tak heran banyak orang-orang Tionghoa pada masa-masa sebelum orde baru yang notabene menjadikan Khonghucu sebagai agama atau way of life sangat bangga dan terhormat menjadi seorang guru.

Karena Tian Ming, sembilan tahun terakhir ini saya menjadi seorang 'guru formal' dengan menjadi dosen agama Khonghucu di beberapa universitas, baik mengajar tatap muka maupun jarak jauh, baik di kelas maupun e-learning. Lebih dari dua dekade yang lalu, saya pernah mengajar sekolah minggu, setelah satu dekade sebelumnya pernah mengajar les matematika dan IPA untuk anak SD. Pernah juga memberi pelatihan logistik saat saya menjadi karyawan di sebuah perusahaan farmasi. Saya pun selama lebih dari sembilan tahun membimbing mahasiswa saat mengikuti mingde. Lalu saat menjadi Ketum Matakin, menjadi fasilitator DAK serta pada beberapa kegiatan seperti Zhi Ren Zhi Tian menjadi fasilitator. Kegiatan-kegiatan itu menempatkan saya sebagai seorang 'guru non formal'.

Sejujurnya saya merasa terhormat dan bangga menjadi seorang Guru. Saya tertantang untuk menjaga profesi terhormat tersebut dengan melakukan yang terbaik agar pantas menyandang predikat Guru. Agar  pantas disebut guru, saya perlu menjadi orang yang pantas diteladani, orang yang dapat digugu dan ditiru. Tentu saja saya perlu terus meng-upgrade diri dan pengetahuan agar tetap relevan dengan zaman. Dengan cara itulah saya menjaga kehormatan predikat sebagai seorang guru sehingga layak mendapat pujian dan selalu dikenang seperti dalam lagu Hymne Guru.

Saya sangat berterima kasih dan berhutang budi pada para guru yang telah dengan tulus membimbing dan mengajari saya sepanjang hidup, terlebih kepada Guru Agung Sepanjang Masa yang telah mewariskan ajaran penuntun hidup sesuai Firman Tian. (US/26112019)

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

TOUS LES JOURS