BETAPA PENTING KESUSILAAN

Salam Kebajikan,

Betapa penting Kesusilaan dan Tata Susila dalam kehidupan manusia dijelaskan secara mendetail dalam Li Ji (Catatan Kesusilaan). 

Disabdakan dalam Li Ji XXIII, Jing Jie (Membedah Makna Kitab Suci): 1 dan 2:
Nabi Kongzi bersabda, "Memasuki suatu negara, akan dapat diketahui pendidikan apa yang telah diberikan... 
...Bila orang-orangnya berperilaku hormat, cermat, berwibawa, dan penuh kesungguhan, mereka telah menerima pendidikan Li Jing (Kitab Kesusilaan)...
...Orang yang perilakunya hormat cermat, berwibawa, dan penuh kesungguhan, dan tidak rewel atau mudah kesal tentu karena dalam pemahamannya tentang Li Jing (Kitab Kesusilaan)..."

Pada kesempatan ini saya kutipkan ayat-ayat dalam Li Ji (Catatan Kesusilaan) VIII Li Qi I Bagian I. Ayat 1, 2, 3, 4, 5, 21, 22 yang mudah-mudahan akan membangkitkan minat Anda untuk membaca dan mendalami Li Ji.
Tata Susila adalah sarana yang memberi kesiapan besar mengembangsuburkan Kebajikan. Makna mulia Kesusilaan: melepaskan manusia dari hal yang buruk, dan mengembangkan jati dirinya yang indah menjadikan orang lurus di dalam diri dan beroleh kelancaran dalam melakukan sesuatu untuk orang lain. Dalam diri manusia seperti anak panah dari bambu yang berkulit; seperti hati bagi pohon Song dan Bo (Pine dan Cypress). Kedua hal itu berperanan sebagai permulaan besar di bawah langit ini, maka memiliki ketahanan dalam melewati keempat musim, tanpa berubah cabang maupun daunnya. Maka seorang Junzi yang memiliki Kesusilaan itu, di luar menciptakan keharmonisan, dan di dalam tidak menimbulkan penyesalan. Sesungguhnya tiada orang yang tidak mendambakan Cinta Kasih, dan Gui Shen (Tuhan yang Maha Rokh) berkenan menerima Kebajikannya.

Raja yang telah mendahulu itu, di dalam menegakkan Kesusilaan memiliki pokok atau akar (Ben) dan bentuk luarnya indah (Wen). Satya dan dapat dipercaya (zhong xin), itulah pokok Kesusilaan. Kebenaran dan hukum (Yi dan Li yang alami) itulah wujud keindahan Kesusilaan. Bila tiada pokok, tidak dapat ditegakkan. Bila tiada wujud yang indah tidak dapat berjalan.

Kesusilaan itu serasi berpadu dengan waktu/kesempatan karunia Tian. Diambil dari kekayaan yang disediakan bumi, patuh selaras dengan (tuntutan) Gui Shen dan bersatu padu dengan hati manusia: - semuanya sesuai dengan hukum yang berlaku bagi berlaksa benda. Maka tiap musim atau waktu yang dikaruniakan Tian, memberi kesempatan tumbuh terhadap sesuatu yang semestinya. Hukum yang berlaku atas bumi masing-masing menghasilkan sesuatu yang semestinya. Tiap-tiap indera manusia mempunyai kemampuan masing-masing dan tiap-tiap benda mempunyai faedah masing-masing. Maka musim yang tidak menumbuhkan, bumi yang tidak merawat (menyuburkan), seorang Junzi tidak menggunakannya sebagai dasar membangun Kesusilaan. Tuhan yang Maha Roh pun tidak akan berkenan menerima. Bila penghuni pegunungan menggunakan (mencari) ikan dan bulus di dalam menegakkan Kesusilaan; penghuni danau (rawa-rawa) menggunakan kijang dan babi di dalam menegakkan Kesusilaan, seorang Junzi menamainya tidak mengerti Kesusilaan.

Karena itu orang wajib menggunakan penghasilan tetap suatu negeri untuk menegakkan dasar Kesusilaannya. Pertimbangan besar untuk menetapkan Li ialah seberapa luas wilayah yang dimiliki. Banyak atau sedikitnya benda untuk keperluan Kesusilaan harus disesuaikan dengan baik dan buruknya tahun itu. Dengan demikian, meskipun panen tahun itu sangat gagal, masyarakat tidak akan ketakutan dan Kesusilaan yang ditentukan untuk atasan, akan diatur sangat dibatasi.

Di dalam Li, masalah waktu adalah hal paling besar yang wajib dipatuhi. Kepatuhan kepada yang alami, yang menyangkut benda-benda sajian, dan selanjutnya apa yang semestinya atau apa yang disebutkan semuanya adalah yang kedua. Raja suci Yao menyerahkan tahta kepada Shun, dan Shun menyerahkan takhta kepada Yu; Cheng Tang menumbangkan dan menghukum buang (Xia) Jie dan Raja Wu menyerbu dan menumbangkan Raja Zhou - semua karena masalah waktu... dst.

Maka seorang Junzi di dalam melaksanakan Li, tidak boleh tidak hati-hati. Mereka adalah yang memberi ikatan masyarakat banyak; bila ikatan itu tersingkir, maka masyarakat banyak itu akan kacau. Nabi Kongzi bersabda, "Hendaknya bila 'aku' berperang, aku menang, bila aku bersembahyang, aku menerima berkah." Dikatakan begitu, bila orang itu sudah mendapatkan Dao (Jalan Suci)"

Seorang Junzi berkata, "Sasaran melakukan upacara sembahyang bukan hanya untuk meminta-minta; waktunya jangan tergesa-gesa. Besarnya peralatan bukan yang dituntut. Indahnya perhiasan bukanlah yang dianggap baik. Hewan korban tidak harus gemuk dan besar. Banyaknya berbagai sajian bukanlah yang dianggap indah atau dipujikan." (US) 21122019

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN