DIFFABLE BUKAN DISABLE, SEBUAH SPIRIT MENGHARGAI

Salam Kebajikan,

Dalam upaya menjaga kesehatan, beberapa bulan terakhir ini, setiap ada kesempatan saya berupaya untuk berjalan kaki 10.000 langkah dalam satu hari, minimal 5 hari dalam seminggu. Dua hari sisanya saya berupaya berjalan minimal 5000 langkah.

Upaya kecil dan sederhana ini nampak mudah tapi sebetulnya memerlukan goal dan komitmen. Tanpa goal dan komitmen yang cukup kuat niscaya 10 ribu langkah tak akan tercapai. Banyak hal yang akan menghambat dan semua alasan adalah alasan masuk akal dan sahih. Belajar dari upaya sederhana ini kita sadari, goal dan komitmen sangat penting. Pada dasarnya pencapaian-pencapaian dalam kehidupan kita, sebagian besar karena adanya goal dan komitmen.

Agar kita punya komitmen pada goal kita, perlu ada 'emosi' dalam goal kita. Nah 'emosi' dalam goal saya adalah kalau saya tidak sehat bagaimana saya bisa panjang umur dan melihat keindahan dunia bersama anak-anak serta istri saya? Maka saya perlu persisten melakukan 'hal kecil', berjalan kaki. Persistensi menunjukkan dan dijiwai oleh komitmen yang tertanam kuat untuk mencapai tujuan.

Hari ini—3 Desember—adalah hari Diffable Internasional. Saya lebih memilih menggunakan istilah Diffable daripada Disable. Diffable berarti Different Ability, orang yang mempunyai kemampuan berbeda. Sepatutnya kita memandang sesama manusia sebagai orang-orang yang punya kemampuan berbeda. Penghargaan kita pada saudara-saudara kita yang diffable mestinya dipenuhi dengan spirit cerita saya di atas.

Di Jakarta sekarang sedang dilakukan upaya memanusiakan dan memanjakan para pejalan kaki dengan pelebaran trotoar, upaya yang patut diapresiasi. Trotoar yang lebar adalah 'surga' bagi pejalan kaki. Upaya memanjakan pejalan kaki tak terkecuali bagi kaum diffable. Kaum diffable disediakan jalur khusus berwarna kuning dengan tanda-tanda khusus. Tujuan yang mulia dan patut diapresiasi. Dalam penyediaan jalur khusus diffable, tentu pemda DKI mempunyai goal. Tapi apakah dalam goal itu terkandung 'emosi'? Saya meragukan itu.

Pada kenyataannya banyak jalur khusus yang disediakan sangat tidak manusiawi. Saya sering melihat, jalur khusus tersebut berkelok-kelok dan melalui tiang listrik atau pohon atau berhenti pada ketinggian yang curam, bahkan ada yang berujung pada ujung besi beton yang mencuat. Bila seandainya seorang diffable menggunakan jalur tersebut, entah apa yang akan terjadi. Belum lagi banyaknya pedagang kaki lima dan pengendara kendaraan bermotor yang berseliweran dan memarkir kendaraannya di trotoar, lengkaplah sudah fungsi jalur khusus itu hanya hiasan belaka.

Contoh di atas menunjukkan goal tanpa 'emosi' dari pemda atau pelaksana proyek, akibatnya penyediaan jalur khusus untuk diffable hanyalah proyek 'basa-basi', hanya agar terlihat peduli pada kaum diffable atau memenuhi ketentuan undang-undang dengan seadanya, tidak mencerminkan jiwa kemanusiaan/cinta kasih.

Kejadian-kejadian sejenis yang memprihatinkan banyak kita dapati di negeri kita. Jamak jadinya di negeri kita terjadi mark up, OTT, korupsi dan kolusi karena tujuan pembangunan dilakukan tanpa 'emosi' kecintaan pada negara, tapi pembangunan dilakukan sekedar nampak ada dengan tidak memperhatikan maslahat bagi rakyat untuk menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial. Pancasila hanya menjadi sederetan kata yang wajib dihafal, tidak menjadi jiwa pembangunan, begitupun agama seolah kehilangan nilai-nilainya yang hakiki.

Lalu, untuk apa saya menulis hal ini dalam blog?

Untuk mengingatkan Anda dan saya, bahwa apa yang hendak kita capai (goal/tujuan) harus ada 'emosi' sehingga ada greget, ada jiwanya, dan menciptakan komitmen. Goal tanpa 'emosi' akan menyebabkan dikerjakan dengan asal-asalan.

Akhirnya, sebagai bagian dari bangsa Indonesia kita tidak berani tidak sungguh-sungguh dalam menjaga semangat menjadi 'rakyat yang baharu', agar firman Tian (berupa kemerdekaan) yang telah dicapai dapat tetap terpelihara, menuju tercapainya tujuan sebagai manusia pribadi serta tujuan mulia berbangsa dan bernegara, seperti tercantum dalam pembukaan UUD NRI 1945.

Anda siap bergabung? (US) 03122019

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

DUAN YANG (PEH CUN (?)) HARI SARAT MAKNA SPIRITUAL