CHUN QIU JING BUKU I-V: CERMIN DIRI

Salam Kebajikan,

Saya dan Anda sepatutnya bersyukur dilahirkan pada zaman sekarang di negara bernama Indonesia. Betapa tidak? Banyak fasilitas dan kenyamanan yang dapat kita nikmati di negara yang relatif aman, tentram, dan menawarkan banyak pilihan serta kesempatan untuk hidup lebih baik asal kita mau berupaya dan bekerja dengan sebaik-baiknya. Satu lagi: Indonesia sekarang ini damai, jauh dari peperangan, walau kadang ada riak di sana-sini.

Rasa syukur semakin menyeruak dalam diri saya setelah selesai membaca terjemahan Buku I-V Chun Qiu Jing dalam bahasa Indonesia buah karya Da Xueshi Tjhie Tjay Ing yang dimuat dalam SGSK 40 Nomor Sincia 2565/2014.

Betapa tidak? Dari Buku I-V yang meliputi tahun 722 s.M - 627 s.M dalam pemerintahan Lu Yin Gong (722 s.M - 711 s.M), Lu Huan Gong (711 s.M - 693 s.M), Lu Zhuang Gong (693 s.M - 661 s.M), Lu Min Gong (661 s.M - 660 s.M), Lu Xi Gong (659 s.M - 627 s.M), kita akan mendapatkan gambaran bahwa pada periode musim semi dan musim gugur secara terus menerus terjadi peperangan antar negara. Negara yang satu menyerbu negara lainnya. Kekacauan dan bencana alam terjadi berulang kali. Dapat dibayangkan bagaimana kondisi masyarakat ketika itu, tidak seenak kita yang hidup di Indonesia di masa sekarang.

Saya miris membayangkan saat itu, nyawa seperti tak ada artinya hanya demi kekuasaan. Intrik-intrik terjadi berulang kali oleh orang-orang yang punya kepentingan. Anak membunuh orang tua, orang tua membunuh anak, adik membunuh kakak, kakak membunuh adik, perempuan menjadi komoditas dalam meraih perdamaian dan kekuasaan, hubungan kekeluargaan dikorbankan, tentara dan rakyat menjadi korban. Li (kesusilaan) dan yi (kebenaran) telah banyak dilanggar dan diabaikan.

Saat itu, pesawat udara, mobil, motor, AC, telepon, telepon genggam, internet, wifi belum ada, kertas belum diciptakan, teknologi yang memberi kita kenyamanan dan kemudahan belum terbayangkan, perlu waktu yang sangat lama hanya untuk menyampaikan berita.

Kertas, buku, bolpen, satelit, drone belum ada, tak heran bila hal-hal spiritual dan mistis begitu mewarnai pemerintahan. Peramalan dengan batok kura-kura dan rumput shi menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan seorang raja, raja muda atau pangeran. Walau kadang diabaikan (kadang pengkaji disuap untuk menyampaikan berbeda dari ramalan) dengan segala akibat buruk yang menyertai keputusan (dengan mengabaikan prediksi/ramalan) tersebut yang tercatat dalam Chun Qiu Jing buah karya Nabi Kongzi (551 s.M-479 s.M) dengan komentar (zuo zhuan) dari Zuo Qiu Ming (556 s.M-452 s.M). 

Penulisan Kitab Chunqiu seharusnya dilakukan oleh seorang kaisar, tapi telah lama tidak dilakukan, sehingga Nabi Kongzi terpanggil untuk melakukannya karena keyakinan beliau sebagai pengemban ming (firman) demi kebaikan umat manusia, dengan segala konsekuensi atas apa yang beliau lakukan.

Ketika itu nilai-nilai keteladanan kebajikan raja suci dan nabi purba telah banyak diabaikan, tak heran kekacauan, peperangan dan intrik-intrik begitu mewarnai. Para penguasa, bangsawan dan pejabat lalai bahwa kekuasaan yang langgeng adalah kekuasaan yang memuliakan li (kesusilaan) dan yi (kebenaran). Dalam kitab tersebut nampak jelas, orang-orang yang memuliakan kebajikan beroleh perlindungan Tian dan memperoleh Tianming. 

Kitab Chunqiu juga mencatat alasan nama-nama tertentu boleh dan tidak boleh digunakan untuk memberi nama anak, mengapa perkawinan satu marga tidak dianjurkan, kapan dan di mana papan arwah ditempatkan, kesusilaan dalam hubungan antar negara, perjanjian atau kesepakatan tak ada gunanya kalau tak ada integritas, pemakaman seorang penguasa lama (berbulan-bulan) setelah wafat karena alasan tertentu (bagaimana ya cara mengawetkannya?), pertanda seseorang akan menjadi penguasa, memegang teguh kesetiaan sampai mengorbankan nyawa, menjaga nama baik, syarat suatu peristiwa dicatat atau tidak dicatat, gerhana matahari, strategi perang, banjir, kajian yang dipilih saat ada perbedaan antara ramalan rumput shi dan batok kura-kura, poligami dan mempunyai selir acap membawa dampak negatif saat terjadi pergantian kekuasaan dan lain-lain.

Dari kitab Chunqiu kita dapat bercermin tentang banyak hal untuk kehidupan kita yang lebih baik atau lebih buruk. Seperti banyak karya besar yang ada, banyak segi yang bisa kita komentari dan tafsirkan, Anda dan saya mungkin berbeda dalam memahami dan menyikapi.

Dalam aspek spiritualitas, religiusitas dan filosofis mungkin Anda dan saya berbeda. Anda yang mengagungkan rasionalitas dan filsafat bisa saja berpandangan bahwa segala sesuatu harus rasional dan logis tidak terkecuali dalam hal ramalan/prediksi dengan batok kura-kura dan rumput shi yang mungkin Anda anggap tidak rasional dan harus ditolak, bagi saya hal-hal demikian adalah cara Tian memberi petunjuk pada manusia, nyata dan terjadi, dan dalam hal-hal kepentingan besar untuk kepentingan banyak orang, saya tetap bertanya dan melakukan kajian bazi dan Yi Jing.

Nabi Kongzi sendiri tidak menolak hal-hal yang demikian sepanjang bukan untuk sekedar termasyhur di kemudian hari. Ada alasan 'rasional' dalam kepercayaan atau keyakinan kita pada hal-hal spiritual dan 'mistis' karena manusia bukan hanya makhluk rasional yang berpikir tetapi punya perasaan. Otak manusia bukan cuma ada bagian neocortex, tetapi juga punya bagian limbik yang memiliki fungsi masing-masing yang berkaitan dengan berpikir dan merasa.

Nyatanya 'rasa' sering menunjukkan kebenaran, hanya Anda dan saya perlu mengasah agar tetap ada di batas Tengah sehingga Harmonis.

Anda dan saya perlu bersyukur karena memiliki itu.

Saya 'rasa' Chun Qiu Jing pada akhirnya dapat selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, meneruskan karya Da Xueshi Tjhie dan tim penerjemah kitab Sishu Wujing lainnya yang selama ini telah bekerja keras dengan luar biasa. 

Ada kekeliruan di sana-sini dan double penerjemahan adalah sesuatu yang wajar, tak mengurangi penghargaan dan rasa terima kasih saya pada Da Xue Shi yang dalam kondisi kesehatan fisik dan mata beliau yang tak lagi prima terus berkarya nyata. 

Karena kerja keras beliau dan para penerjemah, saya dapat membaca seluruh kitab suci agama Khonghucu sehingga saya tidak malu mengaku sebagai pemeluk Agama Khonghucu. (US) 05012020


Renungan: ZY XXIII: 1, MZ IIIB: 9

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN