WARISAN PAPA MAMA

Salam Kebajikan,

Beberapa tahun yang lalu saya memperoleh warisan dari almarhumah mama saya berupa poci kecil dengan beberapa cangkir yang dibeli oleh mama saya saat beliau berkunjung ke Tiongkok. Poci dan cangkir berwarna coklat tua dari tanah liat tersebut sekarang saya gunakan sebagai peralatan sembahyang di rumah untuk sajian teh. Benda paling berharga di rumah saya, tak ternilai yang saya miliki. Saya merasa ada pesan simbolik, spiritual, dan religius dari mama atas pemberian poci dan cangkir mungil tersebut untuk saya dan keluarga.

Beberapa tahun yang lalu, rumah orang tua saya di Bandung, yang dibeli dengan jerih payah dan pengorbanan yang besar oleh kedua orang tua saya dan merupakan rumah kebanggaan kedua orang tua saya, dialihnamakan ke saya. Saya berulang kali menolak rumah wasiat tersebut menggunakan nama saya, karena saya khawatir tak mampu menjaga amanat kedua orang tua saya. Tapi apa daya, papa dan mama tetap menginginkan rumah tersebut 'dititipkan' pada saya.

Ya, rumah tempat saya tinggal saat masa kecil hingga saya selesai kuliah hanya 'dititipkan' pada saya, walau menurut hukum rumah tersebut menjadi 'milik' saya karena nama saya tercantum dalam sertifikat kepemilikan.

Bagi saya, amanat yang diberikan kedua orang tua saya begitu berat. Rumah tersebut berisi banyak kenangan dan nilai-nilai suci, berisi benda-benda bersejarah, tempat benda pusaka dan meja abu orang tua serta leluhur. 

Terlebih lagi, dalam rumah tersebut, orang tua kami membesarkan dan mendidik kami, kakak beradik, menanamkan nilai-nilai kebajikan, keteladanan dan agama, tempat orang tua kami dan keluarga kami berjuang untuk hidup lebih baik dalam arti jasmani maupun rohani. Maka tak berlebihan bila rumah itu tidak boleh dan tidak akan dijual seperti pesan papa dan mama. 

Rumah itu terlalu bernilai hanya untuk ditukarkan dengan uang. Uang akan habis dipakai, kenangan dan nilai-nilai yang ada di dalamnya bila dirawat sebagai emas dan tidak ditukar dengan kuningan akan terus ada dari generasi ke generasi. Walau kadang mungkin emas itu berdebu karena kami lalai membersihkannya, tetaplah emas. Kuningan yang nampak berkilau tak akan dapat menggantikan.

Sungguh bagi saya, amanat ini terasa berat, seberat nama pemberian orang tua yang di dalamnya mengandung pesan dan harapan orang tua. Apalagi kehidupan tidak selalu mulus rata, kadang lubang menganga harus diseberangi, petir dan hujan lebat acap mengejutkan, terik matahari memicu rasa haus, di tengah harapan yang begitu besar ada rasa khawatir. 

Dalam hidup ada masa kita berjaya, tapi ada kala kita terpuruk. Amanat itu tetap ada. Wajar bila sebagian orang merasa khawatir dan bertanya-tanya mengapa saya yang harus mendapat amanat itu. Apakah saya kuat menjaganya? Bagaimana dengan anak dan cucu saya? Apakah mereka juga mampu berada di garis yang sama dalam menjaga? Benar-benar tugas maha berat. Itulah mengapa saya berkali-kali menolak, saya khawatir tak mampu dan mengecewakan orang tua.

Lim Khung Sen (林孔昇) itulah nama kecil pemberian orang tua. Dalam nama tersebut seperti dalam setiap nama, ada pesan dan harapan, yang baik dan mulia tentunya. Ada pesan religius dan spiritual di balik nama pemberian orang tua. 

Saya lahir sebagai anak bungsu dari 12 bersaudara. Saya lahir saat papa sedang mencari ilmu sejati, menemukan jati diri sejati. Saya lahir saat papa menjadi 'pelayan' nabi. Kata papa, 'Pelayan adalah orang terdekat dengan nabi'. Papa dengan sukarela menjadi penjaga litang Khonghucu di Bandung, meninggalkan keluarga dan bisnisnya, berkelana merengkuh kedalaman batin, menemukan dan mengenal Tuhan. 

Setelah berkelana ke berbagai tempat, di pelosok negeri, papa akhirnya menemukan apa yang beliau cari di litang itu. Maka bagi papa, agama Khonghucu sebagai agama leluhurnya adalah emas berharga yang harus diwariskan kepada anak dan cucunya, tidak layak digantikan dengan kuningan. Mama adalah perempuan hebat, yang selalu tulus, setia, mendukung, berkorban dan bangga pada suami dan selalu punya harapan menjadi lebih baik dalam keadaan apapun, padahal apa yang mama jalani tidaklah mudah.

Dengan mewariskan pada anak-anak dan cucunya, kemuliaan, dan keberkahan generasi ke generasi akan semakin gemilang, itulah keyakinan papa dan mama yang selalu saya ingat dengan takzim dalam kedalaman jiwa dan batin saya. 

Warisan terbesar yang harus saya jaga.

Walau warisan ini bagi beberapa orang tak begitu berarti, bagi saya emas tetaplah emas. Kemilau kuningan yang nampak takkan sanggup menggantikan nilainya. Kemilau emas akan muncul saat kita membersihkan hati kita dan menggunakan otak kita. Saya punya keyakinan yang sama tentang kemuliaan dan keberkahan dengan papa dan mama saya. Hanya masalah waktu saja semua akan terwujud, dan terus semakin gemilang asal saya dan keluarga tetap teguh, tak menggantikan emas dengan kuningan.

Poci kecil beserta cangkirnya, rumah wasiat, nama dan pesan serta keyakinan papa mama pada dasarnya sama, semua bukan sekedar tentang materi, bukan sekedar tentang uang atau benda, tapi tentang nilai-nilai, tentang menjadi manusia seutuhnya. Tentang bagaimana menjadi manusia sejati yang terhubung dengan para leluhur dan pada ujungnya pada Tuhan. 

Hanya dengan menjaganya dipenuhi iman, ketulusan, keteguhan, kesetiaan, tahan godaan serta tekad kuat meneruskan pada generasi berikut. Kemuliaan dan keberkahan semakin gemilang akan hadir, cuma masalah waktu.

Saya bertanya pada anak saya. Di keluarga papa siapa yang paling sukses dan diberkahi? Anak saya belum begitu mengerti. Kesuksesan bukan sekedar tentang materi. Materi sebentar lagi akan kalian miliki, tapi hal lain yang telah papa,  tepatnya kita miliki belum tentu akan dapat dimiliki dan dicapai oleh keluarga lain. 

Terima kasih papa, terima kasih mama, terima kasih Tian. Emas takkan tergantikan oleh kuningan. Maafkan bila belum semua harapan papa mama terpenuhi dan kami belum dapat menjaga warisan papa dan mama. Kami berjanji akan mewujudkan dan menjaganya. 

Ini tentang kami, entah tentang Anda.
"Maka seorang yang mempunyai Kebajikan Besar niscaya mendapat kedudukan, mendapat berkah, mendapat nama, dan mendapat panjang usia".
—Zhong Yong XVI: 2
"Maka seorang yang berKebajikan Besar itu niscaya menerima Firman".
—Zhong Yong XVI: 5

恭賀新禧 
Gōnghè xīnxǐ 

Selamat Melaksanakan Ibadah Tahun Baru 01–01–2571.


宅天命作新民 
zhái tiānmìng zuò xīnmín

Berada Dalam Firman Tian, Menjadi Rakyat Baharu.


永言配命自求多福 
yǒng yán pèi mìng, zì qiú duō fú

Perilaku Selalu Manunggal Firman, Menjadikan Diri Penuh Berkah.


善哉 
Shanzai. (US) 26012020

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

TOUS LES JOURS

MEJA ABU LELUHUR