BANTUAN KEBUTUHAN FISIK MINIMUM UNTUK MASYARAKAT KECIL PALING TERDAMPAK

Salam Kebajikan,

Pada saat kita menghadapi musuh bersama kita, yaitu COVID-19, semangat gotong royong, bahu membahu, berkumpul, saling membantu bukan lagi diwujudkan dalam arti fisik, secara fisik kita tetap harus melakukan physical distancing (jaga jarak aman), tidak keluar rumah bila tidak benar-benar perlu, menghindari berkumpul dan berkerumun.

Secara spirit-lah kita meng-intens-kan kontak kita, secara spirit kita perlu guyub, berkumpul, merapatkan jarak, bahu membahu mengumpulkan energi positif untuk membantu sesama. Secara spirit kita kumpulkan energi positif kita untuk membantu sesama agar alampun bereaksi positif dan Tian tergerak menurunkan rahmat. Untuk itu adalah tindakan bijak bila kita mengurangi membaca berita-berita negatif yang tidak jelas sumbernya yang membuat kita stress, terlebih lagi kita perlu menahan diri untuk tidak menyebarkannya.

Tanpa mengurangi kewaspadaan, kita perlu secara sengaja mengarahkan pikiran kita pada hal-hal positif. Kita perlu melakukan psychological distancing (pembatasan psikologis) agar energi positif kita terkumpul.

Apakah itu berarti kita hanya berdiam diri, tidak melakukan apa-apa untuk membantu sesama kita padahal kita mampu melakukannya?

Jawabannya: Tidak.

Dalam menghadapi pandemi corona, kita perlu mengapresiasi apa yang dilakukan oleh individu, pengusaha, LSM, lembaga sosial keagamaan dan banyak pihak lain yang bahu membahu menyumbangkan uang, peralatan medis, ADP, dan relawan bahkan meminjamkan tempat untuk tenaga medis dan ODP, PDP serta pasien terdampak corona. Memang pandemi ini harus dihadapi bersama secara gotong royong, bukan hanya oleh pemerintah semata.

Satu hal yang tak kalah pentingnya dan nyaris terlupakan adalah perhatian kita pada masyarakat yang sehat jasmani tapi kemampuan ekonominya terbatas seperti buruh, sopir, pedagang kecil, driver ojol, satpam, tukang parkir dan lain-lain yang berjuang hari ke hari untuk menghidupi keluarga dan membayar cicilan, mereka tidak memiliki daya tahan ekonomi memadai dan paling cepat terseret dalam krisis ini.


Boro-boro dapat berdiam dirumah. 

Mereka tak punya pilihan harus tetap bekerja agar keluarganya tetap dapat bertahan hidup. Namun kemauan dan upaya mereka bertahan untuk menghidupi dirinya dan keluarga hari ke hari secara jujur dan tulus sangat tergantung dari sektor-sektor usaha lain yang kita ketahui mulai menutup usahanya atau membatasi usahanya melalui anjuran bekerja dari rumah, belum lagi adanya anjuran physical distancing dan kekhawatiran terdampak virus corona menyebabkan berkurangnya pembeli dan pengguna jasa mereka secara drastis. 

Mereka dan keluarganya tak akan mampu bertahan lama menghadapi kondisi ini. Dampak sosial (negatif) dari keadaan ini bila tidak cepat ditanggulangi bersama akan sangat sulit diprediksi. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang tulus, jujur, pekerja keras dan suka menolong, karena terpaksa dan putus asa (apalagi mereka berjuang untuk keluarga yang mereka cintai) bukan tak mungkin akan menyebabkan kerusuhan sosial dan penjarahan. 

Saatnya kita yang mampu segera mengulurkan tangan, membantu mereka.

Pemerintah telah mengumumkan agar cicilan mereka ditunda pembayarannya, itu langkah yang bijak, tapi belum cukup, perut mereka dan keluarganya tetap perlu diisi untuk bertahan hidup. Orang lapar bisa berubah perangai.

Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah menyediakan kebutuhan fisik minimum mereka (minimal) berupa beras kebutuhan mereka dan keluarga mereka setidaknya untuk satu bulan ke depan. Bentuknya bukan bantuan uang, tapi beras dan makanan mentah yang dapat mereka olah sendiri dirumah.

Saya dapat merasakan betapa mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita semua yang mampu: terutama para pengusaha dan karyawan dengan penghasilan besar yang mempunyai tabungan serta kita yang merasa terpanggil. 

Sekaranglah waktunya kita untuk lebih peduli dalam berbagi.

Lembaga sosial, keagamaan, perhimpunan dan paguyuban dapat berada di garda terdepan untuk melakukan ini, para tokoh-tokoh nasional dan daerah yang mempunyai akses dan relasi luas dapat menggunakan akses dan relasi yang dimiliki untuk menggerakan, mengumpulkan dan mendistribusikan bantuan beras dan makanan tersebut dan dipastikan sampai kepada yang membutuhkan tanpa korupsi. 

Atau kita bisa mulai dengan membantu orang-orang di sekitar daerah kita karena kita tak dapat terlalu lama menunggu.

Kita harus melakukannya dengan segera sebelum segalanya terlambat dan sesal kemudian tak berguna. (US) 28032020

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

TOUS LES JOURS