TIAN, NABI, SHENMING, DAN LELUHUR TIDAK DIKALAHKAN OLEH CORONA

Salam Kebajikan,

Hari-hari terakhir ini kita dihadapkan pada suatu situasi yang mungkin tak terbayangkan akan kita alami dalam kehidupan kita. Sebagai manusia, nilai-nilai religius, sosial, moral, dan kekeluargaan yang kita yakini selama ini sedang diuji. Fisik, psikis dan mental kita pun tak luput dari ujian.

Bahkan ekonomi dan keuangan pun menghadapi ujian. Kita berada dalam persimpangan, ancaman dan peluang, bahaya dan kesempatan dihadapkan pilihan-pilihan. Bahaya yang menghantarkan kita pada keterpurukan ataukah peluang/kesempatan yang akan mengantarkan kita pada keadaan yang lebih baik. Bahaya yang membuat kita menjadi manusia yang lebih buruk ataukah kesempatan yang menjadikan kita manusia yang lebih baik.

Kita sedang menghadapi krisis. 

Krisis atau 危机 (wēi jī) berasal dari kata 危险 (wēi xiǎn, danger) dan 机 会 (jī huì, chance).

Untuk itu setiap 危机, wēi jī (krisis), selalu memiliki 2 dimensi. 

Pertama 有危 (yǒu wēi, ada bahaya). 

Kedua 有机 (yǒu jī, ada kesempatan). 

Di setiap krisis walaupun memang memiliki bahaya, namun juga mengandung kesempatan menuju harapan/kesuksesan.

Kendati banyak prediksi dilakukan, sebetulnya kita tidak tahu persis kapan krisis yang terjadi karena corona (covid-19) akan berakhir. Alam akan turut berperan, Tian tentu saja akan menentukan dengan tianli (hukumnya), tapi kita sebagai manusia yang dijadikan inang oleh virus corona berperan besar dan sangat menentukan seberapa lama krisis ini akan berakhir berkaitan dengan seberapa lama kita mampu menyelaraskan ren dao kita dengan tian dao dan di dao

Bisa menimbulkan korban yang besar atau korban yang sedikit. Bisa panjang, bisa sedang, bisa pendek. Menimbulkan kerusakan yang parah atau kerusakan yang mampu kita perbaiki dengan cepat. Alam (termasuk manusia di dalamnya) diatur oleh hukum yin yang yang dinamis akan menemukan titik keseimbangan baru. Terus bergerak dinamis, berubah tidak statis. Bisa lama, bisa sebentar.

Dalam menghadapi krisis ini, kembali kita diingatkan agar kita menggunakan akal budi kita. Manusia yang harus mengembangkan dao, bukan dao yang mengembangkan manusia.


Sekarang kita dihadapkan pada situasi dimana 'lawan' yang kita hadapi tidak dapat kita lihat. Kita tidak tahu apakah kita seorang carrier ataukah bukan, bukan sekedar kita takut tertular tapi kita khawatir menularkan. Kita mencintai sesama kita maka kita taat pada anjuran physical distancing. Menjaga jarak, mengurangi kegiatan yang melibatkan banyak orang, tidak keluar rumah bila tidak terpaksa termasuk beribadah bersama. 

Kita menunda hingga 'lawan' kita tersingkir, bukan meniadakan selamanya. Ketaatan pada physical distancing dan spirit khawatir menularkan pada orang lain akan sangat membantu mempercepat krisis cepat berakhir.

Ketidaktaatan akan membuat krisis lama berakhir dan akan banyak dampak susulan yang buruk akan kita dan sesama kita rasakan dan alami, terutama orang-orang dengan kondisi ekonomi pas-pasan.

Mungkin kita beranggapan bahwa dengan tidak kebaktian, tidak sembahyang bersama di kelenteng atau litang saat chuyi dan shiwu, tidak pergi bersama-sama ke makam saat Qing Ming dan ibadah bersama lainnya merasa bahwa kita terlalu ketakutan dan menghina kekuasaan, kebesaran dan kemuliaan Tian, nabi dan shen ming

Jawabnya dalam keadaan sekarang memang kita perlu zhi, ren, yong (bijaksana, cinta kasih, berani). 

Kita perlu kembali pada hakiki kita hidup beragama. Hidup beragama adalah tentang bagaimana kita hidup dalam dao. Hidup dalam dao adalah tentang bagaimana kita mengembangkan benih-benih kebajikan yang merupakan firman Tian dalam diri kita hingga gemilang dan mengendalikan nafsu kita hingga berada dalam batas tengah. 

Pada akhirnya kita menjadi manusia yang memiliki dan mendekap erat cheng (iman, ketulusan, kejujuran) dan menapaki hingga puncaknya. Biarlah persembahyangan di altar Tian, nabi dan shen ming di kelenteng dan litang diwakili oleh satu sampai tiga orang rohaniwan atau pengurus MAKIN atau tokoh-tokoh kita (utamakan yang muda) dengan tetap memperhatikan physical distancing (menjaga jarak sehat) kalau memungkinkan lakukan streaming, kalau tidak ya tak masalah.

Li (kesusilaan termasuk didalamnya peribadahan) dan yue (musik) tak lepas dari upaya kita melakukan pembinaan diri kita. Dalam kondisi sekarang, justru waktu yang tepat bagi kita untuk hening menyelaraskan ritme kehidupan dengan suara alam, merangkai kembali kehidupan yang selama ini terseret dalam kesibukan tak berujung dalam ritme yang tidak lagi sesuai suara alam, menemukan dan mengenal Tian yang bersemayam dalam kedalaman batin kita. 


Menemukan Tian bukanlah di luar diri, tapi di dalam diri, di kedalaman batin kita.

Dalam situasi sekarang, beribadah di rumah kepada Tian, Nabi, shenming, serta leluhur dan mendekatkan hubungan keluarga adalah kesempatan baik dalam upaya kita mulai menata kembali struktur keluarga yang mungkin selama ini terabaikan. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan kegiatan, pekerjaan dan bisnis kita serta melupakan hal yang tak kalah pentingnya yaitu membina tiga hubungan dalam keluarga yang dalam bahasa da xue, membereskan rumah tangga. 

Kita mulai kembali dari lingkaran kecil delapan upaya pembinaan diri untuk kemudian saat corona, lawan tak terlihat kita dapat kita kalahkan, kita kembali meneruskan upaya kita mengembangkan dao dalam skup yang lebih luas.

Dengan melakukan hal ini, kita tidak menjadikan Tian, Nabi, para shenming dan leluhur kalah oleh kehadiran corona virus, tapi spirit Tian, Nabi, shenming, dan leluhur terus bergelora dan hadir dalam diri kita dan alam semesta ini, karena kita mampu menangkap esensi dan hakikat mengapa kita hidup beragama dengan mengaplikasikan zhi ren yong

Selalu ada sisi positif dari setiap krisis dan masalah yang akan menghantarkan kita pada kehidupan yang lebih baik. 

Kita yakin dalam iman, ujian yang datang dari Tian pasti dapat kita lalui asal tidak menempatkannya dalam bahaya. 

Shanzai. (US) 27032020



ZY XVI: 3, LY III:12, LY XV: 29, MZ VIIA, Liji XXI: Ji Yi, Liji XXII: Ji Tong.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

KELENTENG DAN SHEN MING