GUI REN DEKAT DENGAN KITA YANG TULUS TANPA PAMRIH

Salam Kebajikan,

Sudah dua minggu lebih saya melaksanakan social/physical distancing dengan banyak melaksanakan kegiatan di rumah, hanya sesekali saya keluar rumah karena memang benar-benar penting, seperti misalnya ke pasar atau minimarket agar makanan dapat tersedia di rumah. 

Di awal-awal melaksanakan physical distancing, di malam hari saya masih keluar rumah untuk berolah raga jalan kaki mengejar 10.000 langkah. Tapi seminggu terakhir dengan semakin merebaknya orang yang terpapar corona, saya memutuskan untuk berdiam di rumah dan berupaya berbelanja online. Keluar rumah hanya saat ke pasar, perut saya dan keluarga tetap harus diisi, tidak bisa ditunda. Apalagi saya sama sekali tidak memiliki masker, hand sanitizer pun hanya mempunyai sisa sedikit.

Saya harus membatasi aktivitas di luar rumah dan menjaga jarak aman saat terpaksa bertemu dengan orang. Bukan semata agar tidak terpapar, tapi juga saya tak tahu apakah saya terpapar atau tidak sehingga berpotensi menularkan pada orang lain. Memutus rantai penyebaran corona adalah perbuatan sederhana tapi mulia yang dapat menyelamatkan kehidupan. Ini hakikatnya merupakan amalan agama, menjalankan perintah Tian melalui rasa kemanusiaan. 

Saya merasa kasihan kepada orang-orang yang menimbun dan menjual perlengkapan 'perang' melawan corona dengan harga tak wajar, dia tak tahu apa yang pokok dan penting dalam kehidupannya.

Ajaran agama membimbing kita untuk memulai dari dekat (diri sendiri) sebelum melangkah jauh (keluarga, masyarakat, negara dan dunia). Bukan sebaliknya. 

Menuntut diri sendiri, bukan menuntut orang lain. Keras pada diri sendiri lunak pada orang lain, bukan sebaliknya. Mendisiplinkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum mampu mendisiplinkan orang lain. Mengatur diri sendiri terlebih dahulu bukan mengatur orang lain. Berdamai dengan diri sendiri agar mampu berdamai dengan orang lain. 

Kita perlu mendaki dari tempat kita sekarang berada untuk menuju tempat yang lebih tinggi. Kita perlu mulai dari mengembangkan rasa kemanusiaan kita sebelum kita mampu memahami dan menjangkau Tian. Pada hakikatnya Tian ada dalam diri kita, dalam bentuk benih kemanusiaan kita bukan di luar diri kita. Apa yang kita lakukan keluar semestinya dimulai dari dalam diri kita tempat cahaya kebajikan Tian bersemayam.

Kemarin, saat stok vitamin saya menipis tiba-tiba mendapat kiriman vitamin dari kawan lama yang jarang sekali bersua. Dia mengirim masker juga yang saya tidak punya. Inilah yang dinamakan gui ren (kwi jin), pertolongan yang datang pada saat yang tepat. Saya berulang kali merasakan gui ren (kwi jin) datang dalam kehidupan saya saat saya menghadapi kondisi sulit bahkan nampak sudah tanpa harapan. Saya percaya gui ren akan selalu hadir, hadir dan hadir pada kita karena kebajikan yang telah dilakukan oleh orang tua dan leluhur kita dan kebajikan yang telah kita lakukan dengan penuh ketulusan, tanpa pamrih. Memang kitab suci sebetulnya mencatat demikian.

Sayang kita sering mengabaikan ini dan acapkali dalam berbuat kebajikan atau melaksanakan pengabdian sadar atau tanpa sadar ada pamrih terselip pada apa yang kita lakukan. Tidak mudah memang untuk tetap tulus tanpa pamrih, apalagi saat ketulusan dan pengabdian kita mendapat ujian dan nyinyiran dari kolega, kawan, sahabat dan saudara kita. 

Tapi percayalah, saat kita tetap tulus tanpa pamrih, tidak menggerutu dan marah serta bagus bila tetap mampu tersenyum. Tidak bereaksi berlebihan apalagi balas nyinyir dan mencerca pada orang-orang yang melakukan itu, hati kita takkan perih terluka dan tetap berdiam tengah tepat pada tempatnya. Tidak dipenuhi emosi yang akan merusak kita. Sang waktu akan memberi tahu bahwa pengabdian dan kebajikan kita bukan untuk kepentingan diri kita tapi memang kita lakukan tanpa pamrih untuk kepentingan orang banyak.

Dengan berjalannya waktu, mereka pada akhirnya akan mengerti dan gui ren akan terus menghampiri walaupun kita tak meminta. Dan yang sebaik-baiknya memang kita tak meminta. Tian selalu menyertai dan melindungi kebajikan. 

Selalu ada hikmah dibalik peristiwa.

Tantangan terbesar kita adalah bagaimana terus berpegang pada yang pokok seperti dibimbingkan kitab suci. Sebetulnya sederhana, dan dekat dengan diri kita bukan hal rumit nun jauh disana. 

Mudah? 

Jawabannya terserah Anda. (US) 03042020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

KELENTENG DAN SHEN MING