KETERKAITAN DAN KETERHUBUNGAN KEBAIKAN

Salam Kebajikan,

Tadi siang kami berbelanja ke pasar setelah 12 hari yang lalu melakukan hal yang sama. Saya pikir pasar adalah tempat kita dapat merasakan bahwa kebaikan itu milik setiap orang, apapun etnis, suku, ras, agama dan golongan orang-orang yang kita temui. Di pasar kita menemukan kenyataan bahwa kebaikan bukan milik satu etnis, suku, ras, agama atau golongan tertentu.

Saya acapkali merasa kagum dan terharu dengan kebaikan pedagang-pedagang di pasar tempat kami biasa berbelanja sayur, tahu, tempe, oncom, bawang merah, bawang putih, cabe, ikan asin, ayam, kerupuk, telor, kacang, jamur, pepaya, ubi, singkong, labu, petai, kelapa, jengkol, bumbu-bumbu dan macam-macam kebutuhan pokok lain.

Mereka begitu ramah dan tulus melayani dan memberi. 

Mungkin Anda heran. Kok "memberi"? 

Betul memberi, bukan meminta. Kadang beberapa dari mereka memaksa kami menerima kebaikan mereka.

Kami pernah dipaksa untuk tidak usah membayar belanjaan kami, ketika kami kurang membawa uang belanja karena berbelanja agak banyak.

Kata penjual, "Biar saja, Pak, Bu. Mau bayarnya seminggu lagi atau kapan saja tak usah dipikirkan."

Ketika kami akhirnya balik lagi untuk membayar setelah mengambil uang di atm, kami harus dengan susah payah memaksa untuk membayar. Sebulan yang lalu, kami kurang membayar 50 ribu rupiah, karena kondisi tidak memungkinkan akhirnya dua minggu kemudian baru balik lagi ke pasar untuk berbelanja dan membayar hutang kami.

Hari ini pedagang sayuran memaksa mengantarkan sayuran yang kami beli ke rumah kami dengan memanggul di bahunya, menemani kami berjalan kaki, padahal tadinya dia 'membohongi' kami akan mengantarkan dengan motornya.

Kami sungguh merasa tak enak hati. Kalau seandainya bukan sedang kondisi seperti sekarang, tentu kami akan mempersilakan pedagang baik hati ini masuk ke rumah. Jadi kami hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kebaikannya. 

Kata dia lagi, "Lain kali kalau mau belanja, telpon saja, jadi tak usah ke pasar, nanti saya belanjakan dan antarkan ke rumah. Kan sekarang sudah tahu rumah Bapak dan Ibu."

Kami pernah diberi satu ekor ayam utuh ketika akan libur lebaran, ketika kami tolak, ibu tua pedagang ayam itu tetap memaksa. Kata dia ini hadiah yang sudah ibu sediakan untuk pelanggan setia. Padahal ibu ini janda tua, bukan orang berada, sakit-sakitan dan rumahnya sering kebanjiran. 

Dengan berat hati, pemberian ibu yang baik hati ini kami terima dengan rasa haru. Kami tak kuasa menolak kebaikan yang demikian tulus. Sungguh pedagang-pedagang kecil yang baik hati.

Anda boleh percaya boleh tidak, kalau kami berbelanja sayur, yang kami lakukan adalah mengambil sayur-sayuran yang kami mau lalu menaruhnya di wadah pedagang tersebut lalu kami tinggalkan untuk berbelanja yang lain dan ketika kami akan pulang, barulah kami ambil sambil menanyakan berapa yang harus kami bayar. 

Seringkali kami bertanya, ini tidak salah menghitungnya? 

Kok sedikit sekali yang mesti kami bayar? 

Rugi tidak? Jangan sampai rugi ya? 

Kami merasa kok belanjaan banyak, tapi bayarnya menurut kami kurang sepadan.

Ya, kami memang hampir tidak pernah menawar harga, walau kami tentu menanyakan harga komoditas tertentu yang harganya sering berfluktuasi seperti bawang dan cabe, sehingga kami bisa menentukan kami akan membelinya atau tidak, atau berapa banyak membelinya. 

Kalau kami sudah memutuskan untuk membeli, berapa harga yang dipatok, kami bayar.

Kenyataannya mereka pedagang-pedagang hebat, memberi harga wajar tidak mau merugikan kami. Lagipula kalau kita merasa terlalu mahal, ya sudah lain kali belanja saja di pedagang lain, untuk apa kita merasa dongkol. Kita tak usah menjadi pelanggannya. 

Kalaupun tidak ada pedagang lain yang menjual barang yang sama, ya sudah beli saja. Pedagang kan memang mencari untung, bukan mencari kerugian. Dengan sikap demikian, kami dapat berbelanja cepat, tidak pernah terlalu lama di pasar tapi kami menjadi begitu akrab dengan pedagang-pedagang langganan kami. 
Sesekali, kami  mengobrol dan bercanda dengan mereka. 

Dalam kehidupan ini, banyak kebaikan yang dapat kami saksikan dan rasakan. 

Jadi untuk apa kita menjadi orang yang angkuh dan eksklusif? Apalagi merasa terlahir sebagai suku atau etnis yang lebih mulia dan lebih unggul dari etnis atau suku lain. 



Untuk apa pula kita melihat orang dari penampilannya, kedudukannya, strata sosialnya, profesinya, agamanya atau apapun yang melekat pada diri seseorang yang kita kenal. Setiap orang memancarkan kebaikan dari hatinya, dari cahaya Tuhan yang ada dalam dirinya. 

Dan sebetulnya itulah satu-satunya tanda kemuliaan manusia yang hakiki, yang memadukan manusia dan memberi kesadaran pada kita bahwa di empat penjuru lautan semua manusia bersaudara.

Apakah pertemuan dengan orang-orang baik ini suatu kebetulan? 

Saya percaya,  bukan. 

Bagi kita yang beriman pada Tuhan, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Yang ada adalah satu keterkaitan dan satu keterhubungan atas apa yang kita percaya,  yakini dan kita jalani dalam kehidupan.

Ajaran Khonghucu pada hakikatnya mengajarkan tentang ketulusan dan kebaikan serta tentang keterkaitan dan keterhubungan kebaikan,  yang akan membawa pada Tian Ren He Yi (kebersatuan dalam keharmonisan manusia dengan Tian) dan pada puncaknya melintasi ruang dan waktu. 

Anda percaya? 

Kalau saya percaya. (US) 24042020

Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

TOUS LES JOURS