TAHUN INI SEMBAHYANG QING MING DI RUMAH SAJA

Salam Kebajikan,

"Menjalankan tetapi tidak mengerti maksudnya;  berkebiasaan tetapi tidak mau memeriksa, sepanjang hidup mengikuti tetapi tidak mengenal Jalan Suci,  begitulah kebanyakan orang."  (Mengzi VIIA: 5) 

Hari ini adalah Qing Ming 清 明, Jie Qi ke 5節 氣 dari Er Shi Si Jie Qi 二 十 四 節 氣 (dua puluh empat waktu peredaran bumi mengelilingi matahari). Perhitungan Sistem Kalender Masehi bertepatan pada Tanggal 4/5 April.

Berdasar Perhitungan Sistem Kalender Dinasti 周 Zhou, Qing Ming adalah hari Pertama saat 季 春 Ji Chun (Bulan ketiga Musim Semi).

Qing Ming (Bersih - Terang), menunjukkan pada saat itu Matahari bersinar bersih dan terang (bersinar hangat).

Li Ji menuliskan, pada saat Ji Chun, 天 子 Tian Zi (Kaisar) berdiam di kanan Kuil 清 陽 Qing Yang (nama pendopo di Timur Bio Besar). Melakukan Persembahan kepada 先 帝 Xian Di (Raja pendahulu/leluhur; 黄 帝 Huang Di), serta menaikkan doa berharap Panen Berlimpah. Spirit ini menjadi Persembahyangan Kubur (Sadranan).

Saat orang berpulang Bo/Po 魄 (Jasad) kembali ke Tanah (Bumi). Maka persembahyangan Qing Ming dikaitkan dengan Peribadahan terhadap Shan Shen 山 神 (Shoa Sien) karena Makam/Kuburan zaman itu di Gunung. Dengan demikian peribadahan kubur adalah persembahyangan pada 福 神 Fu Shen atau 后 土 Hou Tu; kedua nya menunjuk pada "Malaikat Bumi".

Tahun ini kita menghadapi situasi yang benar-benar berbeda sehubungan wabah corona. Kita dihadapkan pada pilihan, apakah tetap membersihkan dan bersembahyang di makam leluhur dan orang tua kita yang telah mendahulu ataukah bersembahyang di rumah dan menunda pembersihan makam?

Saya beserta keluarga memilih bersembahyang di rumah dengan sajian sederhana, tidak pergi membersihkan makam dan bersembahyang di sana.

Saya sekeluarga bisa saja pergi ke makam, tapi saya pikir tindakan itu egois dan hanya memandang keadaan dari kaca mata saya yang merasa sehat dan tak ada masalah. Jika saya pergi ke makam dan banyak orang berpikir sama, maka akan bertemu dengan banyak orang, terjadi tegur sapa, kerumunan bahkan bukan tak mungkin terjadi kontak fisik. Dengan demikian physical distancing sesuai anjuran pemerintah dan ahli kesehatan akan dilanggar baik sengaja maupun tidak sengaja. Saya tak mau membahayakan keluarga saya, saudara, kawan, sahabat dan kolega saya.

MATAKIN telah memberi himbauan agar kita bersembahyang di rumah dan tidak—atau menunda—mudik dan berziarah di makam. Saya yakin himbauan tersebut sudah berdasarkan kajian dan yang terbaik untuk diikuti. Jadi semestinya kita ikuti dengan taat dalam kelurusan, tanpa perlu mempertanyakan atau dengan sembunyi-sembunyi tetap pergi ke makam.

Saya yakin malaikat bumi berkenan, para leluhur dan orang tua kita yang telah mendahulu memaklumi, Tian pun yakin akan meridhoi. 

Ketidakhadiran kita ke makam untuk membersihkan dan bersembahyang hanya bersifat sementara karena adanya bahaya, bukan bersifat permanen. Kita sedang 'berperang' dengan wabah corona. Saat bahaya telah berlalu, kita bisa melaksanakan kembali.

Atau kalau tidak memungkinkan, tahun-tahun mendatang kita bisa kembali melakukan pembersihan makam dan bersembahyang dengan lebih dipenuhi cheng (iman, tulus), xin (percaya), zhong (satya, terbaik), jing (hormat, sujud). Selayaknya seorang umat Khonghucu, entah kalau Anda sudah berpindah keyakinan.


Di antara Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana dengan sajian? 

Nabi Kongzi dengan tidak meninggalkan hal pokok, tidak kukuh mengharuskan. Dengan sajian nasi putih dan air putih kalau memang hanya ada dan kita hanya mampu menyediakan itu, tak masalah. Buat apa banyak sajian kalau hati kita tak mampu mengenang dan merasakan kehadiran yang telah berpulang? Buat apa kita menyajikan sajian mewah dan menyolok kalau hati kita menggerutu dan merasa apa yang kita sajikan hanya membuang-buang uang saja? 

Saya menuliskan ini bukan berarti sajian dan tata upacara itu tidak penting. Sajian dan tata upacara penting bila diiringi ketulusan hati, semangat bakti, terlebih bila kita mampu merasakan kehadiran yang kita sembahyangi.

Tidak sedikit orang mengatakan bahwa persembahyangan itu merepotkan anak cucu. Dan kita sebagai anak cucu juga merasa direpotkan dengan keharusan bersembahyang dengan banyak sajian. Ya, merepotkan, karena kita tak paham maksud dan makna persembahyangan. Kalau kita paham maksud dan makna hakiki persembahyangan tentu kita tak akan merasa hal tersebut merepotkan.

Persembahyangan itu bukanlah hanya tentang menghormati, berbakti dan berdoa untuk yang telah berpulang atau menghormati para shen serta bersujud pada Tian.

Bersembahyang dengan segenap sajian—yang pantas dan sesuai kemampuan kita—adalah tentang bagaimana kita yang hidup mengasah dan mengembangkan benih cinta kasih, benih kebenaran, benih kesusilaan, dan benih kebijaksanaan kita yang telah Tian Firmankan dalam diri kita.

Juga memberi keteladanan pada anak cucu bahwa Tian dao (jalan suci Tian) itu tak dapat dipisahkan dari ren dao (jalan suci manusia), dan di dao (jalan suci alam semesta) akan tumbuh berkembang selaras dan berpihak pada kita karena kita mampu menangkap nilai hakiki dari makna persembahyangan yang diajarkan dalam kitab suci.

Disabdakan dalam Lunyu, "Maka seorang Junzi mengutamakan pokok, sebab setelah pokok itu tegak, Jalan Suci akan tumbuh. Laku bakti dan rendah hati itulah pokok cinta kasih." (Lunyu I: 2) (US) 04042020



Lunyu I: 9, Lunyu II: 5, Lunyu III: 12, Lunyu III: 4, Lunyu XII: 8, Lunyu VI: 18,  Mengzi VIIA:5, Liji XX, Liji XXI: I dan II, Liji XXII. 

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

KELENTENG DAN SHEN MING