BERPIKIR BRILIAN DALAM KONDISI NEW NORMAL



Salam Kebajikan,

Pada kesempatan kali ini saya mengutip tulisan dari Paul Sloane, penulis terkemuka dunia dibidang puzzle berpikir lateral dalam bukunya berjudul 'How to be A Brilliant Thinker' yang saya pikir berkaitan dengan menemukan 'tiga sudut lain dan menemukan ruang yang dibentuk oleh sudut-sudut setelah tahu mengenai satu sudut'.

Sebagian besar pemikiran kita memiliki pola seragam, yaitu analitis, konvergen, kritis, dan berpusat pada otak kiri. Ketika mendengar sebuah masukan, naluri kita akan memerintahkan untuk menelaahnya, mengkritiknya, dan menganalisis konsekuensi-konsekuensinya dengan penekanan khusus pada kemungkinan adanya kesalahan dari masukan tersebut. 

Kita dilatih di sekolah dan di bangku kuliah untuk mengikhtisarkan, menelaah dengan seksama, dan mengevaluasi hasil karya para penulis, sejarawan, dan ilmuwan. Sangatlah mudah dan alamiah bagi kita untuk berfokus pada suatu konsep dan menelaahnya secara kritis dari berbagai sudut pandang.

Kita membawa asumsi dan kerangka pikir kita sendiri dalam bertindak dan menempatkan gagasan-gagasan baru yang datang ke dalam kerangka pikir tersebut. Ini merupakan pola operasi normal kita dan tindakan menghambat diri sendiri dengan membatasi cara berpikir. Ini sama sekali bukan sesuatu yang baik. Sebenarnya, ada banyak cara berpikir lain yang dapat kita gunakan untuk mengekspresikan pemikiran kita.

Kita mengekspresikan pemikiran dengan menggunakan kata-kata. Merupakan hal yang sepertinya sangat wajar apabila kita mengucapkan sesuatu, menggunakan kata-kata, dan menulis memo, email, dan laporan rutin hingga jarang sekali kita berhenti sejenak untuk memikirkan cara lain yang lebih baik untuk melakukan sesuatu.

Kita memiliki kecenderungan yang kurang baik untuk hanya melihat dan mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung keyakinan kita, dan menolak atau mengabaikan bukti-bukti yang bertolak belakang dengan keyakinan kita.

Sikap mental ini mencerminkan cara kita memandang dunia. Kita memiliki sekumpulan kepercayaan dan asumsi, dan kita mencari bukti-bukti yang mendukung pola pikir kita. Laporan pertama mengenai keberadaan angsa hitam di Australia pada awalnya tidak dipercayai, bukti ini sama sekali tidak sejalan dengan pemahaman konvensional bahwa angsa itu putih.

Faktanya, para ahli matematika mengekspresikan diri mereka dengan persamaan, akuntan menggunakan angka, seniman memakai gambar, insinyur memanfaatkan model, sutradara film dengan gambar bergerak dan para pembicara publik melontarkan orasi dan kisah-kisah mereka. Mengapakah kita jarang sekali meminjam sebagian bentuk ekspresi mereka? 

Para pemikir brilian memahami bahwa ada banyak cara pandang di dunia ini dan masing-masing tidaklah lengkap.

Sayangnya, kita memiliki kecenderungan alamiah untuk menolak gagasan-gagasan lain apabila mereka tak sejalan dengan pengetahuan dan sistem kepercayaan atau keyakinan yang kita miliki.

Einstein mengatakan, "Imajinasi adalah lebih penting ketimbang pengetahuan." 
Cara berpikir divergen memungkinkan kita untuk menggunakan imajinasi dalam mengeksplorasi berbagai kemungkinan-kemungkinan baru. 

Cara berpikir konvergen akan membuat kita menggunakan pengetahuan yang kita miliki guna menelaah konsep-konsep dan melihat di tempat mana konsep-konsep tersebut akan berguna. 

Cara berpikir divergen membuat kita melangkah menjauhi topik utama masalah ke berbagai arah. Ketika menggunakan cara berpikir divergen, kita akan mampu melahirkan berbagai macam gagasan yang tidak berhubungan dengan tantangan awal yang sedang dihadapi atau konsep yang tengah diperbincangkan.

Cara berpikir ini merupakan kebalikan dari cara berpikir konvergen di mana kita memusatkan perhatian secara mendalam pada satu sasaran dan mempersempit pilihan-pilihan kita untuk memperoleh solusi yang diinginkan. Kita memperluas garis batas pemikiran dan membiarkan imajinasi kita menghasilkan begitu banyak kemungkinan yang berbeda, termasuk gagasan-gagasan liar dan tidak masuk akal.

Cara berpikir divergen mencakup pertimbangan terhadap seluruh sudut pandang yang ada, termasuk sudut pandang yang tidak konvensional, tidak populer, menggelikan, dan aneh. Kemampuan menerapkan cara berpikir seperti ini merupakan keahlian yang amat penting, yang tak banyak dikuasai oleh sebagian besar orang.

Brainstorming atau rapat curah pendapat merupakan contoh yang amat baik tentang bagaimana kedua cara berpikir ini dapat diterapkan secara harmonis. Pertama gunakan cara berpikir divergen agar semua gagasan melimpah ruah setelah itu gunakan cara berpikir konvergen untuk mengevaluasi gagasan-gagasan tersebut dan memilih yang terbaik diantaranya.

Para pemikir konvensional biasanya terjebak dalam cara berpikir konvergen, namun para pemikir yang brilian mampu memanfaatkan kedua cara ini.

Terdapat sejumlah kesempatan di mana kita memerlukan ketajaman cara berpikir konvergen dan terdapat pula saat-saat di mana cara berpikir ini menunjukkan keterbatasannya.

Cara berpikir konvergen memang amat berguna, namun cara ini tak boleh menjadi satu-satunya metoda dalam kerangka mental kita. Bila kita dapat menambahkan imajinasi dan cara berpikir divergen dalam kepala, kita akan menjadi lebih kreatif dan melipatgandakan efektifitas cara berpikir hingga beberapa kali lebih tinggi.

Sebentar lagi kita akan memasuki kehidupan new normal, kehidupan normal yang berbeda dengan kehidupan normal yang kita jalani sebelum adanya Covid-19. Banyak bisnis dan pekerjaan yang akan mengalami kemunduran, banyak pula bisnis dan pekerjaan yang akan mengalami kemajuan. Banyak bisnis dan pekerjaan yang akan hilang dan banyak bisnis serta pekerjaan baru yang akan muncul. Kita merupakan makhluk yang hidup dengan kebiasaan terpola sepanjang hidup kita. Kondisi new normal memaksa kita membentuk dan menjalankan kebiasaan baru.

Memahami dan menggunakan cara berpikir konvergen dan divergen akan membantu kita menjadi manusia yang mampu beradaptasi, bertahan, dan unggul dalam kehidupan new normal. (US) 29052020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN