JUNZI BERUSAHA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH


Salam Kebajikan,

Beberapa minggu terakhir ada cukup banyak kegiatan online yang saya ikuti baik sebagai peserta maupun sebagai pembicara dalam berbagai bidang, baik perkuliahan, bisnis, sosial-lintas agama, kebaktian, maupun diskusi keagamaan Khonghucu yang dilakukan melalui berbagai aplikasi untuk menunjang diskusi atau presentasi online.

Dalam mengikuti kegiatan-kegiatan online, khususnya saat menjadi pembicara diperlukan persiapan dan pengetahuan yang cukup. Bukan saja mengenai pemanfaatan aplikasi, tapi juga mengenai materi yang akan dibawakan. Tanpa persiapan dan pengetahuan yang cukup dalam pemanfaatan aplikasi, akan menyebabkan presentasi dan diskusi terganggu dan tidak berjalan dengan mulus. Koordinasi yang baik mengenai hal-hal detail dan teknis sebelum acara dimulai serta melakukan check and recheck perlu pula dilakukan. Hal-hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kelancaran kegiatan online yang kita ikuti dan laksanakan.

Tak kalah pentingnya tentu saja mempersiapkan materi yang akan dibawakan. 

Ada materi umum yang sudah kita kuasai sehingga tidak memerlukan banyak waktu untuk mempersiapkan, ada materi yang perlu pendalaman lebih lanjut agar diskusi, presentasi atau uraian agama yang kita lakukan menjadi lebih menarik dan bermanfaat. Perlu diingat: diskusi, presentasi dan uraian agama online (biasanya direkam) akan meninggalkan jejak digital.

Pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 2 dan 3 Mei 2020 yang lalu, saya menjadi pembicara dalam 3 kegiatan online: Diskusi Zoom yang diselenggarakan oleh kelompok Way of Wisdom (WOW), Kebaktian Online yang diselenggarakan oleh MATAKIN, dan Diskusi Youtube Live yang diselenggarakan dalam Bincang Kebajikan. 

Untuk mengisi uraian agama di kebaktian online, saya tidak terlalu melakukan persiapan khusus, hanya menyiapkan tema yang relevan dengan kondisi sekarang beserta ayat suci yang akan dibawakan, dengan mengandalkan pengetahuan yang saya dapat dari membaca, keyakinan yang saya yakini, dan pengalaman hidup yang sudah saya jalani. Lalu dalam otak saya, saya merancang struktur uraian agama yang akan saya bawakan. Itu saja persiapan yang saya lakukan sebelum shooting. 

Uraian agama diupayakan tentang kehidupan, bukan menguraikan ayat. Target saya mudah-mudahan umat memperoleh inspirasi, minimal tergerak untuk melakukan sesuatu yang berbeda atau lebih baik dalam kehidupannya. Kalaupun tidak, uraian agama yang saya bawakan tidaklah buruk.

Hal ini berbeda dengan dua diskusi lain. 

Saya perlu menyiapkan materi dengan lebih intens termasuk membuat power point dan catatan-catatan tertentu. Tentu saja persiapan yang lebih banyak perlu dilakukan karena kegiatan diskusi adalah kegiatan dua arah. Tidak elok bila sebagai pembicara tidak menguasai materi yang dibawakan.

Kedua kelompok diskusi diinisiasi orang-orang yang memang berkeinginan untuk belajar dan mendalami, tapi diskusi dapat diikuti oleh siapapun yang berminat. Diskusi dilaksanakan secara interaktif dan live untuk kemudian hasil diskusi diupload ke youtube, artinya masyarakat umum dapat ikut dalam diskusi serta melihat hasil diskusi tersebut.

Tentu saja sebagai pembicara saya harus menguasai materi dengan baik dan mempersiapkan materi sebaik-baiknya. Targetnya disamping peserta memahami lebih dalam mengenai materi yang saya bawakan, mudah-mudahan memperoleh gagasan untuk mengaplikasikan hasil diskusi dalam kehidupan mereka.

Maka yang saya lakukan adalah membaca kembali buku-buku dan referensi lain yang relevan. 

Saya tidak mau menanggung malu dan tidak mau jejak digital saya buruk, terlebih lagi tidak mau mengecewakan kelompok diskusi yang sudah mau memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi pembicara. Tak heran, bila saya memerlukan persiapan yang tidak sedikit untuk diskusi-diskusi tersebut. Tugas saya yang utama adalah mempersiapkan materi sebaik-baiknya dan membawakan materi semenarik mungkin, semampu saya. Selebihnya tugas mereka. 

Mudah-mudahan Anda puas dan tidak kecewa saat melihat hasilnya di youtube atau medsos yang lain.

Prinsip yang selalu saya pegang sebagai umat Khonghucu adalah dalam keterbatasan saya, saya selalu berupaya mengupayakan yang terbaik dan dengan sungguh-sungguh. 

Bukankah dipesankan dalam kitab suci kita, "Seorang Junzi tidak pernah tidak berusaha sungguh sungguh?"

Spirit itulah yang ingin saya upayakan terus bergelora. Siapa tahu ada yang tergerak melakukan hal yang sama. 

Mudah? 

Tidak mudah, tapi layak untuk diupayakan. (US) 04052020


Postingan populer dari blog ini

KELENTENG DAN SHEN MING

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

TOUS LES JOURS