KATA SIAPA KEMASAN ITU TAK PENTING?

Salam Kebajikan,

Ada idiom dalam bahasa Inggris mengatakan 'don't judge a book by its cover'. 

Sebuah frasa metafora agar orang tidak menilai sesuatu semata-mata dari penampilan luar saja, tetapi sebaiknya melihat juga bagaimana sisi-sisi lain yang mungkin tak terlihat hanya dari penampilannya.

Namun, sebuah penelitian dari tim peneliti Sekolah Bisnis Columbia cukup menggelitik untuk mempertanyakan peribahasa tersebut.

Melalui serangkaian penelitian yang sudah dipublikasikan di jurnal Ilmu Psikologi Universitas Columbia, para peneliti percaya bahwa penampilan luar seseorang sebenarnya mencerminkan pikiran batinnya tentang bagaimana ia ingin orang lain memandang dirinya.

Jadi ada hubungan yang jelas antara cara berpikir seseorang dengan tindakannya. 

Ia akan melakukan tindakan sesuai dengan harapan tentang bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain. Secara tidak sadar mereka akan menanamkan harapan bagaimana orang ingin melihat dia, dan ini akan sangat berpengaruh bagaimana dengan tindakannya kemudian. Ia akan cenderung bertindak sesuai harapan tersebut.

Sementara itu, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekspresi seseorang pun bisa menjadi indikator menilai kepribadian seseorang. Mereka yang terlihat bahagia cenderung lebih mudah dipercaya dibandingkan dengan mereka yang tampil dengan ekspresi marah maupun sedih.

Sebuah temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience tahun 2014 menyebutkan, otak memiliki kemampuan otomatis untuk memberikan peringatan dan mengirimkan sinyal agar langsung waspada terhadap orang yang memang kita persepsikan tidak dapat dipercaya.

Penelitian pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa kesan pertama merupakan hal yang paling krusial karena ini akan sangat menentukan bagaimana kesan selanjutnya.

Saat saya masih bergelut di dunia marketing, beberapa kali saya memutuskan untuk mengubah kemasan beberapa produk obat yang saya pasarkan. Kemasan produk tersebut terkesan jadul, ketinggalan jaman, tidak menarik dan kalah manjur dibanding produk kompetitor, padahal komposisi produk yang kami pasarkan lebih lengkap dan lebih baik.

Saya sengaja mengutip hasil penelitian dan pengalaman saya pribadi sebagai bahan renungan dan evaluasi agar Anda dan saya mulai lebih memperhatikan penampilan.

Dalam setiap kesempatan kegiatan lintas agama saya selalu berusaha tampil prima, tak mau kelihatan dekil, lusuh, kusut seperti orang tidak berseka. Jenis pakaian menyesuaikan keadaan tapi tentu saja bersih dan rapi. 

Saya juga terus berupaya meningkatkan pengetahuan dan skill saya dengan membaca dan berlatih. Saya tak mau terlihat seperti orang stress, tak bahagia dan berpenyakit saat bertemu dengan masyarakat, tokoh agama, rohaniwan, agamawan dan pejabat. 

Saya juga berkomitmen untuk datang tepat waktu. Kalaupun terpaksa datang terlambat (jarang), memberitahu. Sebagai seorang pengajar saya juga tak mau terlihat tak berseka dan kusam sehingga beresiko dipandang sebelah mata oleh mahasiswa. 

Maka di samping berilmu, saya berupaya tampil rapi dan memberi keteladanan.

Beberapa tahun terakhir dalam setiap kesempatan beribadah kebaktian dan memberi uraian agama, saya selalu menggunakan changshan dan huanglingdai baik yang saya bawa sendiri atau minta disediakan. Pada tahun-tahun sebelumnya saya menggunakan batik, kemeja, atau jas. Dengan changshan, saya tak beresiko terlihat memakai baju yang itu-itu saja.

Memang ada juga sih orang yang penampilannya biasa saja tapi berilmu dan berwibawa, tapi tak banyak dan biasanya orang-orang baru tak tahu.

Menggunakan changshan yang bersih dan rapi dengan huanglingdai di samping memberi kesan resmi dan berwibawa saat naik ke mimbar, memudahkan saya tidak perlu lagi memilih baju yang sesuai dengan audience/umat yang akan beribadah dan tidak beresiko saltum, salah kostum. Memang dengan mengenakan changshan kadang terasa panas bila ruangan tidak ber AC, tapi bagi saya cukup berharga untuk dilakukan.

Dalam pandangan saya, kebaktian itu akan lebih bagus, terkesan sakral, religius dan berwibawa bila MC, penaik dupa dan doa, pembaca ayat suci serta pengkhotbah menggunakan changshan dan huanglingdai/honglingdai. Intinya berpenampilan rapi, religius dan berwibawa.

Saya pernah mendengar cerita pengalaman umat di salah satu Litang yang bingung saat ditanya oleh umat baru siapa rohaniwan/petugas di sini karena semua berpakaian sama.

Ya bagaimana pun, saat ke toko buku bila saya belum mengetahui buku yang akan dibeli, pertama kali saya akan tertarik pada cover buku yang ada di rak, sebelum saya lihat daftar isinya, lalu membelinya untuk dibaca. 

Itulah sebabnya saya mengubah kemasan produk obat yang saya pasarkan, supaya tetap menarik dan konsumen memilih untuk membeli. (US) 25052020



Catatan: Penelitian dikutip dari artikel di website Tribun Jogja pada tanggal 16 Feb 2016.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN