KETELADANAN XIAO 孝 DAN TI 悌

Salam Kebajikan,
"Maka seorang Junzi mengutamakan pokok; sebab setelah pokok itu tegak, dao akan tumbuh. Xiao 孝 (Laku Bakti) dan Ti 悌 (Rendah Hati) itulah pokok Ren 仁 (Cinta Kasih)."
Teringat masa kecil hingga remaja saat saya dan kakak-kakak masih lengkap dan tinggal bersama papa mama di kota Bandung, saya merasa itu adalah salah satu simpul kehidupan yang penting untuk dikenang. Dikenang bukan karena harta benda yang kami miliki, bukan karena rumah mewah yang kami punyai. Bukan pula karena kawasan elite yang kami diami.

Patut dikenang karena nilai-nilai kebajikan yang diajarkan bukan hanya melalui kata-kata tapi melalui keteladanan. Papa dan mama adalah umat Khonghucu yang taat menjalankan tradisi dan nilai-nilai kebajikan yang bersumber dari ajaran agama Ru-Khonghucu.

Beliau berdua mewarisi tradisi dan nilai-nilai kebajikan tersebut dari engkong-ema/akung-apoh dan leluhur serta pengalaman hidup mereka. Saya baru tahu apa yang diajarkan dan diteladankan bersumber dari ajaran Khonghucu setelah saya mulai aktif kebaktian di Litang dan bersembahyang di bio/miao, berdiskusi dan membaca kitab-kitab Khonghucu.

Tak persis 100% sama, ada hal-hal tertentu yang mengalami penyesuaian jaman dan dipengaruhi lingkungan serta kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat, namun nilai-nilai utama yang mendasari bersumber ajaran Khonghucu yang dapat dibaca dalam kitab Sishu-Wujing.

Beberapa nilai utama yang diajarkan diantaranya adalah mengenai laku bakti (Xiao), hubungan persaudaraan dan sikap rendah hati (Ti).

Kami sebagai keluarga besar, 10 orang kakak beradik dari 12 orang bersaudara hidup dalam satu rumah diajarkan untuk senantiasa saling mengasihi dan menyayangi, saling menghormati dan menghargai, senantiasa ingat satu dengan lain, tidak serakah, mau berbagi, saling peduli, saling membantu.  

Dari hal kecil seperti makanan, kami diingatkan untuk ingat saudara-saudara yang lain. Maka kami tak berani memakan makanan yang bukan menjadi bagian kami. Semua akan mendapat bagian masing-masing, tidak kehabisan.

Antara adik kakak pun saling bantu membantu. 

Tiga kakak laki-laki saya yang paling besar membantu mama dan papa menopang ekonomi keluarga. Kakak perempuan yang paling besar membantu papa dan mama dalam urusan rumah tangga dibantu oleh kakak perempuan yang lain. 

Seingat saya, kami jarang sekali bertengkar. Ada pertengkaran, tapi hal yang wajar dalam suatu keluarga dan biasanya hanya sebentar lalu rukun kembali.

Saya tak pernah melihat Papa dan Mama bertengkar, mereka saling mengasihi dan menyayangi, saling menghormati dan menghargai, saling mendukung dalam situasi apapun, padahal kami bukanlah orang berada, secara ekonomi kami boleh dikatakan pas-pasan bahkan sebetulnya kekurangan. 

Namun, yang lebih banyak saya rasakan adalah kebahagiaan, bukan kesedihan. Yang saya rasakan saya berkecukupan, bukan kekurangan. Yang saya rasakan kebanggaan bukan rendah diri. Saya bangga dengan keluarga saya. Secara materi mungkin saja kami kekurangan, secara rohani kami berkecukupan. Kasih sayang orang tua dan kakak-kakak begitu besar dan tulus.

Mengzi berkata, "Seorang Junzi mempunyai tiga kesukaan, dan hal menjadi raja dunia itu tidak termasuk diantaranya."

"Ayah bunda dalam keadaan sehat, kakak adik tiada perselisihan, itulah kesukaannya yang pertama."

"Perbuatannya, menengadah tidak usah malu kepada Tian, menunduk tidak usah merah muka kepada manusia, itulah kesukaan yang ke dua."

"Mendapatkan orang yang rajin pandai untuk dididik, itulah kesukaannya yang ke tiga."

"Seorang Junzi mempunyai tiga kesukaan, dan hal menjadi raja dunia itu tidak termasuk di antaranya."

Kehidupan kami dengan tetangga pun berjalan dengan rukun harmonis. 

Perbedaan etnis, tradisi dan agama tidak menghalangi kami untuk saling bertegur sapa, saling bersilaturahmi, saling membantu. Kami hanya sedikit dari beberapa etnis Tionghoa (tadinya satu-satunya) yang hidup di lingkungan rumah kami. Papa dan mama begitu ramah pada setiap orang. Papa dan mama bergaul dengan semua orang. Papa dan mama tak mau memberi pagar di depan rumah kami, teras rumah kami dibiarkan menjadi tempat orang-orang berkumpul.

Pintu rumah kami terbuka untuk siapapun yang mau berkunjung. Tembok rumah pun papa tidak mau dibuat tidak rata karena khawatir mencederai orang. Penerangan jalan dekat rumah, listrik dan lampunya keluarga kami yang sediakan. 

Dan satu lagi hal yang mengagumkan adalah papa dan mama menggunakan bahasa Sunda dan Jawa dengan baik. Papa bahkan begitu menguasai lima tingkatan dalam bahasa Sunda dengan baik dan benar. 

Karena sikap keteladanan itulah maka kami anak-anaknya bergaul dengan lingkungan dan semua orang seperti yang papa mama lakukan. Tak heran kami bisa hidup rukun harmonis dengan tetangga. Saya menyaksikan dan merasakan sendiri papa dan mama adalah orang-orang yang penuh kasih persaudaraan dan rendah hati. Papa adalah tempat banyak orang dari berbagai latar belakang bertanya dan meminta nasihat. 
Nabi bersabda, "Seorang muda, di rumah hendaklah berlaku Bakti, di luar rumah hendaklah bersikap Rendah Hati, berhati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada masyarakat dan berhubungan erat dengan orang yang berpericintakasih. Bila telah melakukan semua ini dan masih mempunyai kelebihan tenaga, gunakanlah untuk mempelajari kitab-kitab."

Memang ada saja segelintir orang yang berpikiran sempit dan rasis, tapi kalau ada masalah dengan mereka, itupun jarang sekali, tetangga-tetangga, teman dan sahabat akan membela keluarga kami.
Nabi ingin pindah saja ke daerah kesembilan suku bangsa Yi.

Ada orang yang bertanya, "Tempat itu sangat buruk keadaannya. Mengapakah akan tinggal disana?"

Nabi bersabda, "Seorang Junzi diam di mana pun, tiada tempat yang buruk baginya."

Saya sangat mengagumi semangat berbakti papa dan mama pada orang tua dan leluhur,  beliau berdua tanpa mengeluh merawat dan menghormati dengan penuh cinta kasih ema dan apoh yang di masa tuanya sakit dan perlu di rawat. Saat  ema di Cirebon sakit, mama seringkali pergi mengajak saya ke Cirebon untuk merawatnya. Apoh di Tasikmalaya tak dapat melihat, oleh papa dan mama diajak tinggal di Bandung untuk dirawat.

Kepada leluhur yang telah mendahulu, papa dan mama tak pernah lalai menyembahyangi. Papa dan mama juga tak pernah lalai bersembahyang kehadirat Tian dan leluhur saat hari besar.  

Saat Jing Tian Gong kami sekeluarga bersembahyang malam hari dan subuh. Begitu pula saat qing ming kami membersihkan makam, berziarah, dan bersembahyang. Begitu pula persembahyangan yang lain seperti Duan Yang,  Jing He Ping, Zhong Qiu, Dong Zhi, dll.  Dalam banyak persembahyangan besar selalu ada san sheng/sam seng dan sajian lengkap. Beliau berdua selalu mengingatkan kami agar terus menjaga dan meneruskan 'agama leluhur' yaitu Khonghucu.
Meng Yi Zi bertanya hal Laku Bakti. Nabi menjawab, "Jangan melanggar!"

Ketika Fan Chi menyaisi kereta, nabi memberi tahu kepadanya, "Tadi Meng Sun bertanya hal Laku Bakti dan kujawab 'Jangan melanggar!"

Fan Chi bertanya, "Apakah yang Guru maksudkan?"

Nabi menjawab, "Pada saat hidup, layanilah sesuai dengan Kesusilaan; ketika meninggal dunia, makamkanlah sesuai dengan Kesusilaan; dan sembahyangilah sesuai dengan Kesusilaan."
Zeng Zi berkata, "Hati-hatilah saat orang tua berpulang dan janganlah lupa memperingati sekalipun telah jauh. Dengan demikian rakyat akan kembali tebal Kebajikannya."
Setiap keluarga mempunyai cara dan keteladanan sendiri, yang belum tentu sama.  

Dengan keteladanan ini bagaimana saya berani melanggar? 

Dengan keteladanan ini bagaimana saya berani tak meneruskan pada anak, cucu dan keturunan? 

Bagaimana cerita Anda?(US) 17052020


Lunyu I: 2, Mengzi VIIA: 20.1- 5, Lunyu I: 6, Lunyu IX: 14, Lunyu II: 5, Lunyu I: 9.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

KELENTENG DAN SHEN MING