MENGGENAPKAN BAKTI


Salam Kebajikan,

Dalam banyak kesempatan, saya seringkali memikirkan papa dan mama yang telah berpulang beberapa tahun yang lalu. 

Bagi saya, papa dan mama adalah orang-orang luar biasa yang telah menunaikan tugas dengan sangat baik sebagai wakil Tian di dunia yang mewariskan tubuh, pendidikan dan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan saya. Apa yang papa dan mama lakukan merupakan budi yang tak mungkin terbalas. 

Saya sering bertanya dalam hati apakah saya patut dinamai anak yang berbakti? 

Saya merasa masih jauh. 

Masih banyak hal yang perlu dilakukan dalam sisa umur saya untuk menggenapkan laku bakti. Semoga Tian masih memberi cukup kesempatan pada saya menggenapkan laku bakti hingga sampai puncaknya. 

Seperti disabdakan Nabi Kongzi dalam Xiao Jing (kitab Bakti), "Menegakkan diri hidup menempuh Jalan Suci, meninggalkan nama baik di jaman kemudian sehingga memuliakan ayah bunda, itulah akhir laku bakti."

Zengzi, salah seorang murid Nabi Kongzi menjelaskan mengenai laku bakti yang ditulis dalam Li Ji (Catatan Kesusilaan).

Zengzi berkata, "Laku bakti ada tiga tingkatan; Bakti yang besar itu memuliakan orang tua; yang kedua, tidak memalukan orang tua; dan yang terbawah, hanya dapat memberi perawatan."

Gong-ming Yi (murid Zeng Zi) bertanya, "Bolehkah Guru dinyatakan sebagai (teladan) putera berbakti?" 

Zeng Zi berkata, "Ucapan apa itu? Ucapan apa itu! Yang dipandang sebagai laku bakti oleh Junzi (Susilawan) ialah kemampuan menanggapi harapan orang tua, dan mewujudkan cita-cita dan upaya ayah bunda di dalam menempuh Jalan Suci. Can hanya mampu memberikan perawatan; betapa boleh merasa sudah sentosa di dalam laku bakti?"

Zengzi berkata, "Diri ini adalah warisan tubuh ayah bunda. Memperlakukan tubuh warisan ayah bunda, beranikah tidak penuh hormat? Rumah tangga tidak dibenahi baik-baik, itu tidak berbakti. Mengabdi kepada pemimpin tidak setia, itu tidak berbakti. Mengemban suatu jabatan tidak dilakukan sungguh-sungguh, itu tidak berbakti. Kepada kawan dan sahabat tidak dapat dipercaya, itu tidak berbakti. Bertugas di medan perang tiada keberanian, itu tidak berbakti. Tidak dapat menyelenggarakan lima perkara ini, itu akan memberi aib kepada orang tua. Beranikah orang itu tidak bersungguh-sungguh?

Menyiapkan daging sedap dan beras ditanak, mencicipinya, lalu menyuguhkannya kepada orang tua, itu bukan berbakti, hanya merawatnya. Yang dinamai laku bakti oleh seorang Junzi, ialah perilaku yang dipuji orang senegeri dengan seruan, "Sungguh bahagia orang tua memiliki anak sedemikian itu." Demikianlah yang dinamakan laku bakti.

Laku bakti itu ialah pokok ajaran Agama. Pelaksanaan bakti itu nampak dalam hal merawatnya. Orang mungkin dapat melakukan perawatan; tetapi adanya rasa hormat itulah yang sukar. Orang mungkin dapat menghormat; tetapi kemampuan memberi ketenteraman/kesentosaan, itulah yang sukar. Setelah ayah bunda berpulang, bila orang dapat hati-hati memperhatikan perilakunya sehingga tidak memberi nama buruk kepada ayah bunda, ia boleh dinamai mampu menggenapkannya. Cinta kasih ialah cinta kasih di dalam hal ini; kesusilaan ialah kesusilaan di dalam hal menempuh ini; kebenaran ialah melaksanakan kewajiban dalam hal ini; dapat dipercaya ialah dapat dipercaya di dalam hal ini; perkasa ialah kuat di dalam hal ini; musik ialah lagu yang muncul selaras dengan semangat ini; dan hukuman ialah tindakan yang dikenakan karena pelanggaran terhadap hal ini."

Zeng Zi berkata, "Adapun laku bakti itu, adalah hal yang memenuhkan ruang antara langit dan bumi; dan akan berkembang membentang di antara ke empat penjuru lautan; menjangkau sampai jaman-jaman kemudian, tiada batas pagi maupun petang; menunjuk sampai ke lautan timur, lautan barat, lautan selatan, maupun lautan utara. Tersurat di dalam Shi Jing (kitab Sanjak). 'Dari barat sampai ke timur, dari utara sampai selatan, tiada yang tidak bermaksud tunduk padanya. Demikianlah yang dimaksudkan."

Zeng Zi berkata, "Pohon wajib dipotong pada waktunya; burung-hewan wajib disembelih pada waktunya. " Nabi bersabda, "Sekali memotong pohon, sekali menyembelih hewan tidak pada waktunya, itu melanggar laku bakti. "

"Laku bakti itu ada tiga tingkatan: Bakti yang kecil menggunakan tenaga; bakti yang tengah menggunakan kejerih-payahan; dan bakti yang besar tidak dapat diukur dengan fikiran. Karena cinta dan sayangnya melupakan jerih payah, itu boleh dinamai menggunakan tenaga. Menjunjung cinta kasih dan sentosa di dalam kebenaran (zun ren an yi), itu boleh dinamai menggunakan kejerih-payahan. Dan, yang dapat menyiapkan segala-galanya dalam pengabdian, boleh dinamai tidak dapat diukur dengan fikiran. Bila dicinta ayah bunda, jangan karena gembira lalu lupa segala-galanya. Bila dibenci ayah bunda, berprihatin tetapi jangan menggerutu. Bila ayah bunda bersalah, di dalam memperingatkan jangan melanggar (susila). Bila ayah bunda tiada, sembahyangilah dengan sajian hasil perbuatan yang berdasarkan cinta kasih. Demikianlah dinamai menggenapkan Li (kesusilaan)."



Yue-Zeng Zi-Chun (murid Zeng Zi) terluka kakinya tatkala turun dari serambi, dan beberapa bulan tidak dapat keluar rumah. Bahkan setelah baik ia masih nampak bersedih. Salah seorang muridnya bertanya, "Kini kaki guru sudah membaik, biarpun untuk beberapa bulan tidak dapat keluar rumah; mengapakah Guru masih nampak bersedih?"

Yue-Zeng Zi-Chun menjawab, "Sungguh baik pertanyaanmu; sungguh baik pertanyaanmu! Apa yang kudengar dari Guru Zeng Zi, dan apa yang di dengar Guru Zeng Zi dari Nabi adalah demikian: 'Dari semua yang diciptakan Tian, dari semua yang dipelihara bumi, tiada yang lebih besar (mulia) daripada manusia. Ayah bunda lengkap sempurna telah melahirkan, dan sang putera lengkap sempurna memulangkannya; itu boleh dinamai berbakti.

Bila tubuh tiada yang berkurang, dan diri tiada yang termalukan; itu boleh dinamai lengkap sempurna. Maka, seorang Junzi biar satu langkah kaki tidak berani melupakan kewajiban bakti itu. Tetapi, kini aku sudah melupakan Jalan Suci daripada laku bakti itu, karena itulah aku menanggung wajah bersedih.

Seorang anak, biar selangkah kaki tidak berani melupakan ayah bunda; sepatah kata yang keluar, ia tidak berani melupakan ayah bunda. Selangkah kaki tidak berani melupakan ayah bunda, maka berjalan melewati jalan besar, bukan jalan yang sempit; menyeberangi sungai menggunakan perahu, tidak merenangi; ia tidak berani menggunakan tubuh warisan ayah bunda, untuk melakukan hal yang mencelakakan.

Sepatah kata ia tidak berani melupakan ayah bunda, maka kata-kata yang jahat/buruk tidak akan keluar dari mulutnya, dan karenanya tiada kata-kata kemarahan membalik kepada dirinya. Tidak menghinakan diri dan tidak menyebabkan malu orang tua, itu boleh dinamai berbakti." (US) 15052020


Sumber: Li Ji XXI Ji Yi II: 9-14

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

KELENTENG DAN SHEN MING