AMYGDALA

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Beberapa minggu yang lalu saya melihat-lihat koleksi buku saya dan menemukan sebuah buku yang saya beli beberapa tahun yang lalu pada bursa buku murah berjudul "How to Keep Calm and Carry On" karya Daniel Freeman & Janson Freeman

Saya kutipkan hal yang menarik mengenai amygdala.

Apa yang terjadi di dalam otak kita saat kita merasa cemas?

Berkat karya rintisan ilmuwan Joseph LeDoux, kita kini tahu bahwa satu wilayah otak secara khusus tampak sangat penting. Wilayah itu disebut amygdala, dua lembar jaringan kecil yang menurut para ilmuwan generasi awal terlihat seperti biji almond. Amygdala adalah kata latin untuk "biji almond".

Amygdala adalah gudang penyimpanan bagi memori-memori emosional tak sadar. Jika kita merasa takut dalam satu situasi tertentu, amygdala akan mengingatnya. Kemudian, amygdala menggunakan memori-memori itu untuk menilai apakah kita kini ada dalam bahaya. Jika kita merasa dalam bahaya, kita merasa cemas. Dan tujuan kecemasan, adalah mengingatkan kita akan potensi bahaya dan membekali kita untuk mengatasi bahaya tersebut.

Amygdala membuat pertimbangan secara sangat cepat, jauh lebih cepat dibandingkan pikiran sadar kita. Bahkan proses membuat pertimbangan itu demikian cepat sehingga kita mungkin tidak tahu mengapa kita tiba-tiba merasa cemas.

Kini, fakta bahwa amygdala bekerja dengan kecepatan begitu kilat memberi kita keuntungan sekaligus kelemahan.

Sisi baiknya, hal itu berarti kita bisa merespons bahaya secara sangat cepat. Ledoux menyebutnya reaksi "cepat dan kotor" yang dirancang untuk menyelamatkan nyawa kita terlebih dahulu dan baru bertanya nanti. (Kotor di sini berarti reaksinya tidak terlalu akurat—red)



Bayangkan Anda menyeberang jalan di suatu malam. Tiba-tiba, sebuah mobil menderu dari belokan ke arah Anda. Saat ini, Anda bisa membuat pertimbangan sadar, apakah berdasarkan kecepatan Anda saat ini dan kecepatan mobil tersebut, Anda akan terlindas. Namun mobil itu bergerak demikian cepat. Lagipula, sangat sulit untuk melihat dalam gelap, sehingga Anda tidak punya waktu membuat keputusan sadar. Secara naluri, dan dengan jantung Anda berdegup kencang, Anda pun melompat ke belakang. Mobil itu pun melaju kencang dan berlalu.

Dalam kejadian itu, kecepatan amygdala mungkin menyelamatkan nyawa Anda. 

Namun, karena amygdala bereaksi demikian cepat, amygdala bisa membuat kesalahan. Amygdala kadang melebih-lebihkan bahaya yang kita alami atau bahkan mendeteksi ancaman dalam situasi aman. Hal itu artinya kita merasa cemas ketika kita sebenarnya tidak perlu merasa demikian.

Para ilmuwan berpendapat bahwa orang yang cemas mungkin memiliki amygdala hiperaktif. Mungkin hal itu karena pengalaman-pengalaman yang mereka punya dalam hidup dan rasa takut yang mereka pelajari. Mungkin, hal itu juga akibat dari faktor-faktor genetis.

Namun, bahkan jika amygdala Anda lebih aktif dibandingkan yang Anda butuhkan, amygdala bisa ditenangkan. Ketika Anda belajar menaklukkan kecemasan Anda, Anda pun menyetel ulang amygdala Anda. Hal itu seperti memperbaiki alarm kebakaran yang korsleting. Anda perlu alarm itu berbunyi ketika ada peristiwa nyata yang patut dikhawatirkan, bukan setiap kali Anda menancapkan seiris roti di pemanggang roti (toaster).

Bagaimana kita meredam amygdala yang terlalu aktif? Kita mendidiknya ulang. Kita menggantikan memori pencemasnya dengan memori positif. 

Kita akan mempelajari bahwa situasi yang kita takutkan sebenarnya aman-aman saja. 

Begitulah,  suatu yang berlebihan sama buruknya dengan tidak cukup, kita perlu kondisi tengah tepat.  Pas pada proporsinya. 

Bagaimana dengan Anda? (US) 30062020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN