BENANG MERAH KEBAJIKAN

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Saat membaca kitab Sishu-Wujing, apalagi bagi orang yang baru mulai ingin mendalami agama Khonghucu, acapkali menemukan ayat yang membuat kita mengernyitkan dahi dan perlu berpikir keras agar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh ayat tersebut. 

Saya termasuk orang yang beruntung karena sejak usia muda mempunyai guru pembimbing dan beberapa kawan diskusi yang sama-sama berminat mendalami agama, serta mempunyai sarana untuk menyalurkan pemahaman yang didapat hasil diskusi dan pembelajaran tersebut pada proses penulisan dan editing Media Informasi dan Komunikasi Genta Rohani, yang kami kelola pada era sebelum era internet seperti sekarang ini. 

Saat menemukan ayat-ayat jenis 'sulit' seperti saya kemukakan di atas, kami akan mendiskusikan. Bisa dalam hitungan menit, jam, bahkan ada yang berhari-hari karena pemahaman kami tidak selalu sama. Diskusi bisa dilaksanakan siang hari, malam bahkan bila sedang asyik bisa begadang hingga keesokan harinya. Maklum ketika itu sebagian besar dari kami adalah mahasiswa.

Uniknya, seiring berjalannya kehidupan dengan segala romantikanya, bertambahnya pengetahuan dari pengalaman hidup, sekolah, buku-buku yang dibaca serta semakin banyaknya halaman kitab suci yang telah dibaca, pemahaman mengenai suatu ayat pun berkembang. 

Ayat-ayat dalam kitab Sishu–Wujing mempunyai 'benang merah', baik dalam sejarah, alur berpikir maupun suasana batin. Ayat-ayat dalam Sishu Wujing mengajarkan dao dan kebajikan yang esa yang diajarkan oleh para sheng huang (Fuxi, Shen Nong, Huang Di), sheng wang (Tang Yao, Yu Shun, Da Yu, Cheng Tang, Wu Wang), zhi sheng (Kongzi), dan ya sheng (Mengzi). 

Bila diperluas, benang merah akan mencakup para tokoh-tokoh Ru Jiao pada jaman dinasti Han hingga dao xue jia/Neo Konfusian seperti Lu Xiang Shan, Cheng Hao, Cheng Yi, Zhu Xi, Wang Yang Ming, dan lain-lain, di zaman dinasti Song dan Ming. 

Perlu tahu adanya 'benang merah' inilah salah satu alasan mengapa kita tidak bisa menafsirkan suatu ayat tertentu hanya dengan membaca ayat tersebut. Karena akan jauh dari apa yang dimaksudkan oleh ayat tersebut, apalagi untuk kategori ayat yang 'sulit'. 'Benang merah' akan memampukan kita menangkap spirit ayat yang sedang kita coba pahami. 


Dalam upaya kita belajar dan berlatih, kita perlu melakukan olah pikir, olah rasa dan olah batin.

Karena alasan inilah mengapa di samping semangat belajar dalam diri kita untuk meluaskan pengetahuan dan mendalami, kita memerlukan guru pembimbing dan teman diskusi. 

Bagus bila mempunyai guru pembimbing yang luas dan dalam pengetahuan serta mampu mengemukakan benang merah yang ada dengan sistematis, sehingga berada pada jalur belajar yang tepat dan lurus. 

Kalau tidak ada, tak perlu patah semangat. Karena pada akhirnya benang merah tersebut akan ditemukan asal semangat belajar dan berlatih tidak padam. Bila tak ada guru pembimbing, saya anjurkan baca kitab Sishu secara keseluruhan terlebih dahulu. Sisihkan waktu beberapa menit sehari untuk membaca. Baru setelah itu ulangi, kaji, renungkan, dan dalami. Ini akan menjadi investasi waktu yang sangat berharga dalam kehidupan. 

Jangan dilupakan, pada hakikatnya belajar kitab suci bukanlah semata agar kita menjadi seorang ahli kitab dan terlihat hebat, tapi terlebih adalah agar memenuhi diri dengan kebajikan yang esa dan memampukan kita hidup dalam dao yang esa yang diwariskan oleh para sheng. (US) 18062020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN