PERTUNANGAN DAN LAMARAN MENURUT KITAB LIJI

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Sudah menjadi tradisi dalam masyarakat (Timur) sebelum melangsungkan upacara pernikahan pada umumnya dilakukan lamaran.

Dalam masyarakat matrilineal, pihak keluarga perempuan yang mengajukan lamaran, sedangkan dalam masyarakat patrilineal seperti umat Khonghucu, pihak keluarga laki-laki yang mengajukan lamaran.

Lamaran biasanya mengikuti tatacara tertentu dengan barang-barang dan pernak-pernik tertentu yang dibawa sebagai tanda lamaran. Masing-masing budaya mempunyai kebiasaan berbeda-beda, namun pada umumnya ada standar barang dan pernak-pernik serta hal-hal pokok tertentu yang akan disampaikan dalam acara lamaran tersebut. Selebihnya menyesuaikan kemampuan, kondisi, pertautan budaya, dan perkembangan zaman.

Kitab Liji (Catatan Kesusilaan) XLI, Hun Yi: 1–3 memberi petunjuk.

Upacara pernikahan bermaksud menyatu padukan kebaikan/kasih antara dua keluarga yang berlainan marga; ke atas mewujudkan pengabdian kepada agama dan kuil leluhur (zong miao), dan ke bawah meneruskan generasi.

Upacara pernikahan diawali acara pertunangan dengan:
  1. Memberi tanda lamaran (Na Cai; menurut Yi Li, yang pokok tanda lamaran itu berupa seekor angsa).
  2. Menanyakan nama gadis yang dilamar (wen ming) beserta
  3. Hari, tanggal dan waktu kelahirannya.
  4. Dikaji rahmat (nahas) nya (Na Jie)
  5. Pertukaran mahar (Na Zheng), berupa berbagai pemberian), dan
  6. Permohonan penetapan waktu (Qing Qi).

Semua acara ini diterima oleh kelompok tuan rumah (pihak puteri) yang duduk diatas tikar atau bangku bersandar di dalam bio/miao/kuil leluhur.

Ketika rombongan pelamar tiba, tuan rumah menghormat dengan bai menyambut keluar pintu, mereka saling mengalah dan menghormat dengan mengangkat tangan (Yi) baru kemudian naik ke pendapa.

Pengemban amanat diterima di dalam Miao, dengan demikian semuanya dilakukan dengan:
  1. Penuh hormat,
  2. Hati-hati
  3. Penuh perhatian
Demikianlah Li upacara pernikahan yang benar.

Penuh hormat (Jing), hati-hati (Shen) penuh perhatian (Zhong), menjaga tepat-benar (Zheng) dalam segala hal, dan selanjutnya saling mengasihi (Qin), itulah pokok besar upacara ini dan dengan demikian disempurnakan pemilahan tugas laki-laki dan perempuan dan ditegakkan kebenaran yang wajib bagi suami dan isteri. 

Adanya kebenaran yang wajib bagi suami dan isteri, kemudian adalah kasih antara orang tua dan anak. Adanya kasih antara orang tua dan anak, kemudian adalah kelurusan antara pemimpin dan pembantu. Maka dikatakan upacara pernikahan adalah pokok daripada semua upacara (Li).

Dalam keluarga saya, upacara pertunangan seperti ini masih dilaksanakan dengan beberapa penyesuaian kondisi seperti misalnya angsa bukan angsa hidup tapi 'boneka' angsa sebagai hiasan dan dilaksanakan di rumah, di depan meja abu leluhur, dan dilaksanakan persembahyangan ke hadapan Tian dan leluhur.

Angsa adalah hewan yang sangat setia pada pasangannya, mungkin itulah sebabnya angsa menjadi tanda pokok lamaran. Dengan angsa sebagai tanda pokok lamaran, pasangan dan kedua keluarga diingatkan untuk setia pada janji pernikahan yang mempersatukan dua keluarga.

Upacara pertunangan dan pernikahan yang begitu sarat akan simbol dan nilai-nilai kebajikan untuk mewujudkan keharmonisan seperti diamanatkan dalam Li Ji sudah sepatutnya kita ikuti.

Sayang, banyak dari kita yang tak lagi memahami dengan tepat nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi yang kita lakukan turun-temurun sehingga nilai-nilai pokok itu secara pelan dan pasti tergantikan dengan nilai-nilai lain yang bukan berasal dari akar budaya kita dan menjadi tradisi hambar yang dilaksanakan tanpa makna. Tradisi yang sekedar diikuti karena orang tua melaksanakannya.

Sudah waktunya kembali pada akar. 

Anda masih menjalankan? (US) 26062020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN